Menariknya, pengalaman seperti ini cukup umum dalam hubungan romantis. Kita sering memiliki gambaran tertentu mengenai pasangan ideal: penampilannya seperti apa, sifatnya bagaimana, pekerjaan atau gaya hidupnya seperti apa, bahkan bagaimana seharusnya dia memperlakukan kita.
Namun ketika benar-benar jatuh cinta, kenyataan sering kali berbeda.
Orang yang akhirnya membuat kita nyaman belum tentu memiliki ciri-ciri yang selama ini kita bayangkan. Bahkan, terkadang justru orang yang pada awalnya sama sekali tidak masuk dalam “daftar tipe ideal” kita yang akhirnya menjadi pasangan paling berarti.
Apakah ini berarti kita tidak mengenal diri sendiri?
Tidak juga.
Menurut psikologi, ada beberapa alasan mengapa preferensi yang kita pikir kita miliki bisa berbeda dengan orang yang benar-benar kita pilih dalam kehidupan nyata. Ketertarikan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar checklist tentang penampilan, kepribadian, atau gaya hidup.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (7/9), terdapat tujuh alasan yang dapat menjelaskannya.
1. “Tipe ideal” sering kali hanya gambaran di kepala, bukan kebutuhan sebenarnya
Banyak orang memiliki tipe pasangan yang sangat spesifik.
Misalnya:
“Aku suka orang yang tinggi, pendiam, dewasa, dan punya karier bagus.”
Atau:
“Aku selalu tertarik pada perempuan yang mandiri, pintar, dan punya kepribadian kuat.”
Tidak ada yang salah dengan memiliki preferensi. Masalahnya, kita terkadang menganggap preferensi tersebut sebagai sesuatu yang mutlak.
Padahal, apa yang kita bayangkan akan membuat kita bahagia belum tentu sama dengan apa yang benar-benar membuat kita bahagia ketika menjalani hubungan.
Dalam kehidupan nyata, hubungan melibatkan begitu banyak faktor yang sulit kita prediksi sebelum mengalaminya secara langsung.
Seseorang mungkin tidak memiliki penampilan yang selama ini kita cari, tetapi ternyata membuat kita merasa aman. Orang lain mungkin tidak memiliki pekerjaan atau gaya hidup yang kita bayangkan, tetapi mampu berkomunikasi dengan sangat baik.
Dengan kata lain, ada perbedaan antara preferensi yang kita pikir kita inginkan dan kualitas yang ternyata kita butuhkan.
Kita mungkin mengatakan bahwa kita menginginkan seseorang yang “misterius dan sulit ditebak”, tetapi setelah berpacaran kita justru menyadari bahwa komunikasi yang jelas dan konsisten jauh lebih menyenangkan.
Kita mungkin mengatakan bahwa kita menyukai orang yang sangat percaya diri, tetapi kemudian menemukan bahwa pasangan yang hangat, rendah hati, dan mampu mendengarkan justru membuat hubungan terasa lebih nyaman.
Karena itu, “bukan tipeku” tidak selalu berarti “tidak cocok denganku”.
Kadang-kadang, itu hanya berarti:
“Dia berbeda dari gambaran yang selama ini ada di kepalaku.”
Dan perbedaan tersebut belum tentu buruk.
2. Ketertarikan tidak hanya ditentukan oleh karakteristik yang kita sebutkan
Ketika ditanya mengenai tipe ideal, manusia biasanya mudah menyebutkan karakteristik yang terlihat.
Tinggi badan.
Wajah.
Pekerjaan.
Gaya berpakaian.
Hobi.
Tingkat pendidikan.
Kepribadian tertentu.
Namun ketertarikan romantis tidak bekerja seperti formulir pendaftaran.
Kita tidak bertemu seseorang, mengisi checklist, lalu menghitung skor kompatibilitas.
Ketertarikan dapat muncul dari kombinasi banyak hal: cara seseorang berbicara, ekspresi wajahnya, humor yang digunakan, bagaimana dia merespons kita, bagaimana rasanya berada di dekatnya, hingga pengalaman emosional yang muncul selama interaksi.
Itulah sebabnya seseorang yang awalnya kita anggap “biasa saja” dapat perlahan menjadi sangat menarik setelah kita mengenalnya lebih dalam.
Bayangkan kamu bertemu seseorang untuk pertama kali.
Kesan pertama mungkin biasa.
Tidak ada “chemistry” yang luar biasa.
Namun kalian kemudian sering berbicara. Dia ternyata memiliki selera humor yang sama. Dia mengingat hal-hal kecil yang kamu ceritakan. Dia bisa membuatmu merasa nyaman menjadi diri sendiri.
Tanpa sadar, persepsimu berubah.
Orang yang sebelumnya tidak terlihat menarik mulai terasa semakin menarik.
Ini menunjukkan bahwa ketertarikan dapat berkembang melalui interaksi, bukan selalu muncul sebagai percikan instan pada pertemuan pertama.
Karena itu, hubungan romantis tidak selalu dimulai dengan:
“Wow, dia persis tipeku.”
Terkadang justru dimulai dengan:
“Aku tidak menyangka ternyata aku bisa suka sama dia.”
3. Kita sering tertarik pada kualitas emosional, bukan sekadar “tipe”
Ada satu hal yang sering kita abaikan ketika membicarakan pasangan ideal: bagaimana seseorang membuat kita merasa.
Kita mungkin memiliki standar tertentu mengenai siapa yang menarik secara fisik. Tetapi hubungan jangka panjang juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman emosional.
Apakah kita merasa dihargai?
Apakah kita merasa didengarkan?
Apakah kita merasa aman?
Apakah kita dapat menjadi diri sendiri?
Apakah konflik bisa dibicarakan?
Apakah pasangan menunjukkan kepedulian?
Apakah kita merasa diterima?
Kualitas-kualitas tersebut terkadang jauh lebih penting dalam hubungan nyata dibandingkan karakteristik yang terlihat menarik di atas kertas.
Misalnya, seseorang mungkin selama ini menyukai pasangan yang sangat karismatik dan dominan. Namun setelah menjalani beberapa hubungan, dia menyadari bahwa karakter seperti itu justru membuatnya lelah.
Kemudian dia bertemu seseorang yang lebih tenang.
Tidak terlalu mencolok.
Tidak terlalu pandai menarik perhatian.
Tetapi orang tersebut membuatnya merasa nyaman, dihargai, dan aman.
Tiba-tiba definisi “menarik” berubah.
Bukan karena standar seseorang menjadi lebih rendah, tetapi karena dia mendapatkan informasi baru mengenai apa yang sebenarnya penting baginya.
Hubungan nyata sering kali mengajarkan kita tentang kebutuhan emosional yang sebelumnya tidak kita sadari.
4. Pengalaman masa lalu dapat membuat kita salah mengira “familiar” sebagai “cocok”
Ini salah satu bagian psikologi hubungan yang sangat menarik.
Manusia cenderung tertarik pada sesuatu yang terasa familiar.
Dan “familiar” tidak selalu berarti “sehat”.
Seseorang yang sejak awal terbiasa dengan pasangan yang sulit ditebak mungkin secara tidak sadar menganggap ketidakpastian sebagai sesuatu yang normal dalam hubungan.
Sebaliknya, ketika bertemu seseorang yang sangat konsisten dan terbuka, orang tersebut mungkin justru merasa aneh.
Bukan karena pasangan baru itu tidak cocok, tetapi karena pola tersebut belum familiar.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang dapat berkata:
“Entah kenapa aku selalu tertarik pada orang yang seperti itu.”
Pola hubungan sebelumnya dapat memengaruhi cara seseorang memahami ketertarikan, kedekatan, konflik, dan perhatian.
Karena itu, terkadang “tipe” kita sebenarnya bukan murni preferensi. Sebagian bisa terbentuk dari pengalaman hidup, lingkungan, hubungan sebelumnya, dan pola interaksi yang sudah lama kita kenal.
Ketika kita bertemu seseorang yang berbeda, respons awal kita bisa berupa kebingungan.
Misalnya:
“Kenapa dia terlalu baik?”
“Kenapa dia selalu memberi kabar?”
“Kenapa dia membicarakan masalah secara langsung?”
“Kenapa hubungan ini terasa terlalu tenang?”
Padahal, “terlalu tenang” belum tentu berarti membosankan.
Bisa jadi kita hanya belum terbiasa dengan hubungan yang stabil.
Di sinilah pentingnya membedakan antara:
“Ini bukan tipeku”
dan
“Ini berbeda dari pola yang selama ini kukenal.”
Keduanya terdengar mirip, tetapi secara psikologis bisa sangat berbeda.
5. Kita berubah, sehingga tipe ideal kita juga bisa berubah
Manusia tidak memiliki kepribadian yang sepenuhnya statis.
Prioritas, pengalaman, nilai, dan kebutuhan kita dapat berubah seiring waktu.
Apa yang kita cari ketika berusia 20 tahun mungkin berbeda dengan apa yang kita cari beberapa tahun kemudian.
Ketika masih muda, seseorang mungkin sangat mementingkan daya tarik fisik, popularitas, spontanitas, atau status sosial.
Setelah melewati beberapa pengalaman hidup, dia mungkin mulai lebih menghargai stabilitas, kedewasaan emosional, komunikasi, tanggung jawab, atau kesamaan nilai.
Perubahan tersebut bukan sesuatu yang aneh.
Kita belajar.
Kita mengalami kegagalan.
Kita mendapatkan pengalaman baru.
Kita memahami diri sendiri dengan lebih baik.
Akibatnya, definisi kita mengenai “pasangan ideal” juga dapat berubah.
Bayangkan seseorang yang dahulu berkata:
“Aku tidak mungkin berkencan dengan orang yang terlalu serius.”
Beberapa tahun kemudian, dia justru menemukan dirinya bahagia bersama seseorang yang tenang dan sangat bertanggung jawab.
Apakah dia berubah pikiran secara tiba-tiba?
Mungkin tidak.
Bisa jadi kebutuhan hidupnya yang berubah membuat kualitas yang dulu dianggap tidak menarik sekarang menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap perubahan selera sebagai inkonsistensi.
Kadang-kadang itu justru tanda bahwa seseorang semakin memahami dirinya.
6. Kedekatan dapat mengubah cara kita melihat seseorang
Ada alasan sederhana mengapa seseorang yang awalnya tidak menarik bisa menjadi semakin menarik: kita mengenalnya lebih dekat.
Ketika interaksi meningkat, kita mendapatkan lebih banyak informasi tentang seseorang.
Kita mengetahui cara dia berpikir.
Kita memahami humornya.
Kita melihat bagaimana dia memperlakukan orang lain.
Kita menyaksikan bagaimana dia menghadapi masalah.
Kita mengetahui sisi dirinya yang tidak terlihat dalam pertemuan pertama.
Dan informasi tersebut dapat mengubah persepsi kita.
Seseorang yang awalnya tampak “bukan tipe” mungkin perlahan menjadi menarik karena kita mulai mengasosiasikannya dengan pengalaman positif.
Percakapan yang menyenangkan.
Tawa bersama.
Dukungan ketika sedang kesulitan.
Pengalaman baru.
Perasaan dipahami.
Semakin banyak pengalaman positif yang terbentuk, semakin kuat pula asosiasi emosional kita terhadap orang tersebut.
Itulah sebabnya ketertarikan tidak selalu bisa dinilai secara akurat dalam beberapa menit pertama.
Manusia bukan sekadar wajah, tinggi badan, pekerjaan, atau gaya berpakaian.
Ada kepribadian di balik semuanya.
Dan kepribadian baru terlihat ketika hubungan berkembang.
Namun tentu saja, hal ini bukan berarti kita harus memaksakan hubungan dengan seseorang hanya karena sering berinteraksi.
Kedekatan dapat meningkatkan ketertarikan, tetapi tidak menjamin kompatibilitas.
Tetap ada perbedaan antara ketertarikan yang berkembang secara alami dan memaksakan perasaan yang sebenarnya tidak ada.
7. Pada akhirnya, hubungan yang sehat sering kali lebih penting daripada memenuhi “tipe ideal”
Mungkin ini alasan paling penting.
Dalam hubungan jangka panjang, pertanyaan:
“Apakah dia tipeku?”
sering kali menjadi kurang penting dibandingkan:
“Apakah hubungan ini baik untuk kami berdua?”
Seseorang dapat memenuhi hampir semua kriteria “tipe ideal”, tetapi hubungan tersebut tetap buruk jika tidak ada rasa hormat, komunikasi, kepercayaan, atau kesediaan untuk bekerja sama.
Sebaliknya, seseorang mungkin tidak sesuai dengan gambaran pasangan ideal kita, tetapi hubungan dengannya bisa terasa jauh lebih sehat.
Ini bukan berarti kita harus mengabaikan preferensi.
Preferensi tetap penting.
Kita tetap berhak memiliki standar.
Kita tidak perlu berkencan dengan seseorang yang tidak kita sukai hanya karena dia memperlakukan kita dengan baik.
Tetapi ada perbedaan antara standar dan fantasi mengenai pasangan ideal.
Standar berkaitan dengan hal-hal fundamental seperti rasa hormat, kejujuran, kesetiaan, keamanan, dan kesediaan berkomunikasi.
Sementara “tipe” sering kali lebih berkaitan dengan preferensi: penampilan tertentu, gaya tertentu, pekerjaan tertentu, atau kepribadian tertentu.
Ketika dua hal tersebut bertabrakan, hubungan nyata dapat mengajarkan kita sesuatu.
Mungkin kita menemukan bahwa beberapa hal yang dulu kita anggap penting ternyata tidak terlalu penting.
Dan mungkin kita menemukan bahwa kualitas yang dulu tidak pernah kita pikirkan justru menjadi sesuatu yang paling kita hargai.
Jadi, apakah “tipe” sebenarnya tidak penting?
Bukan begitu.
Memiliki tipe bukanlah masalah.
Masalahnya muncul ketika kita menganggap tipe sebagai aturan mutlak.
Ada orang yang memang memiliki preferensi fisik tertentu dan tetap menemukan pasangan yang sesuai dengan preferensinya.
Ada juga orang yang akhirnya jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali berbeda dari bayangannya.
Keduanya normal.
Yang perlu dipahami adalah bahwa ketertarikan manusia tidak selalu dapat diprediksi melalui daftar kriteria.
Kita dapat memiliki gambaran tentang siapa yang kita inginkan, tetapi pengalaman nyata dapat memberikan informasi baru tentang siapa yang sebenarnya cocok dengan kita.
Dan mungkin itulah mengapa banyak orang pada akhirnya berkata:
“Dia sama sekali bukan tipeku.”
Tetapi kemudian menambahkan:
“Tapi entah kenapa, aku merasa nyaman bersamanya.”
Kalimat kedua itulah yang sering kali lebih menarik.
Karena hubungan bukan hanya tentang menemukan seseorang yang memenuhi gambaran kita.
Hubungan juga tentang menemukan seseorang yang memungkinkan kita menjadi versi diri yang lebih baik, merasa dihargai, dan membangun kehidupan yang masuk akal bersama.
Kesimpulan
Pada akhirnya, “tipe” hanyalah sebuah gambaran.
Sedangkan hubungan adalah pengalaman nyata.
Kita bisa membayangkan pasangan ideal dengan sangat detail, tetapi tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya hidup bersama seseorang sampai kita mengalami interaksi tersebut.
Itulah sebabnya seseorang yang awalnya terlihat “bukan tipe kita” dapat berubah menjadi orang yang sangat berarti.
Bukan karena kita gagal memahami diri sendiri.
Justru terkadang karena kita semakin memahami diri sendiri melalui hubungan tersebut.
Kita belajar bahwa ketertarikan bukan hanya soal penampilan.
Bahwa chemistry tidak selalu muncul pada pandangan pertama.
Bahwa rasa aman bisa terasa lebih menarik daripada drama.
Bahwa seseorang dapat menjadi menarik setelah kita memahami kepribadiannya.
Dan bahwa kebutuhan emosional kita bisa berbeda dari gambaran pasangan ideal yang selama ini kita ciptakan dalam kepala.
Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih baik bukan:
“Apakah dia tipeku?”
Melainkan:
“Bagaimana perasaanku ketika menjadi diriku sendiri bersamanya?”