← Beranda
Dibesarkan Orang Tua Tunggal, Ini 5 Kebiasaan yang Akan Dibawa Anak-Anak dalam Hubungan Dewasa
Vindi Rayinda AyudyaSelasa, 8 September 2026 | 03.31 WIB
Ilustrasi anak yang dibesarkan oleh orangtua tunggal (magnific)

 

 

JawaPos.com - Dibesarkan orang tua tunggal ternyata dapat membentuk kebiasaan tertentu dalam hubungan saat dewasa. Kenali 5 pola yang mungkin terbawa hingga kehidupan percintaan.

Masa kecil sering kali meninggalkan pelajaran yang jauh lebih panjang daripada yang kita sadari. 

Cara seseorang melihat kasih sayang, menghadapi masalah, meminta bantuan, hingga membangun kepercayaan dengan pasangan ketika dewasa sedikit banyak dapat dipengaruhi oleh pengalaman yang diperoleh sejak kecil.

Hal ini juga menarik ketika membicarakan anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal. 

Mereka mungkin tumbuh tanpa melihat dinamika hubungan romantis dari dua orang tua di dalam satu rumah, sehingga sebagian pengalaman tentang hubungan harus mereka pelajari melalui pengamatan, pengalaman pribadi, dan hubungan yang mereka jalani ketika beranjak dewasa.

Namun, penting dipahami bahwa dibesarkan oleh orang tua tunggal bukan berarti seseorang pasti memiliki masalah dalam hubungan. 

Setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda, dan banyak anak dari keluarga orang tua tunggal justru tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, serta mampu membangun hubungan yang sehat.

Informasi yang dirangkum dari laman YourTango ini, mengungkap pembahasan mengenai lima kebiasaan yang dapat terbawa anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal ke dalam hubungan romantis saat dewasa. 

Selengkapnya inilah lima kebiasaan yang mungkin terbawa hingga kehidupan percintaan dari seseorang yang dibesarkan oleh orang tua tunggal.

1. Sangat Menghargai Kekuatan Mental dan Kegigihan

Salah satu hal yang mungkin terbentuk sejak kecil adalah penghargaan yang besar terhadap kekuatan mental, ketangguhan, dan kegigihan seseorang.

Anak yang melihat orang tua tunggal bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga, mengurus rumah, sekaligus menjalankan berbagai tanggung jawab dapat menyaksikan secara langsung bahwa kehidupan tidak selalu mudah. 

Dari pengalaman tersebut, mereka mungkin belajar bahwa menghadapi kesulitan membutuhkan ketekunan dan keberanian untuk terus berjalan.

Ketika memasuki hubungan dewasa, pengalaman tersebut dapat memengaruhi kualitas yang mereka cari dari pasangan. 

Mereka mungkin tidak hanya tertarik pada seseorang yang romantis atau menyenangkan, tetapi juga pada pribadi yang mampu bertahan ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Dalam artikel YourTango, pengalaman melihat orang tua menghadapi berbagai tekanan digambarkan dapat membuat anak mengagumi sifat kuat dan pantang menyerah pada orang lain. 

Kekuatan tersebut kemudian dapat menjadi salah satu kualitas yang dianggap penting dalam memilih pasangan.

Bagi mereka, hubungan bukan sekadar tentang momen bahagia. Ada kemungkinan mereka lebih menghargai pasangan yang mampu menghadapi masalah secara dewasa, tidak mudah menyerah, dan bersedia berjuang ketika hubungan memasuki masa sulit.

Dengan kata lain, pengalaman masa kecil dapat membentuk standar tersendiri mengenai arti pasangan yang dapat diandalkan.

2. Terbiasa Mandiri dan Membutuhkan Ruang Pribadi

Kebiasaan mandiri juga dapat menjadi salah satu karakter yang terbawa hingga hubungan dewasa.

Ketika orang tua harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, anak mungkin terbiasa menghabiskan sebagian waktunya sendiri. 

Mereka belajar mengurus sejumlah hal tanpa selalu mendapatkan bantuan langsung dari orang tua.

Kemandirian tersebut pada dasarnya merupakan kemampuan positif. Namun, ketika sudah dewasa dan menjalin hubungan, seseorang yang sangat terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan konsep saling bergantung kepada pasangan.

YourTango menggambarkan bahwa anak yang tumbuh dalam situasi tersebut dapat terbiasa dengan waktu sendirian dan belajar mengandalkan dirinya sendiri. 

Bahkan, menerima bantuan pasangan terkadang dapat terasa tidak nyaman karena mereka sudah terbiasa menyelesaikan berbagai hal tanpa bantuan orang lain.

Dalam hubungan romantis, kondisi ini bukan berarti mereka tidak membutuhkan kasih sayang. 

Justru sebaliknya, mereka mungkin mencintai pasangannya dengan kuat tetapi tetap membutuhkan ruang bernapas dan waktu pribadi.

Karena itu, pasangan sebaiknya tidak buru-buru menganggap kebutuhan untuk menyendiri sebagai tanda kurang cinta. 

Komunikasi menjadi penting agar kebutuhan akan kemandirian dan kebutuhan akan kedekatan dapat berjalan beriringan.

Hubungan yang sehat bukan berarti harus selalu bersama. Dua orang tetap dapat saling mencintai sambil mempertahankan ruang pribadi masing-masing.

3. Cara Pandang tentang Hubungan Banyak Dipengaruhi Orang Tua yang Membesarkan Mereka

Anak yang tumbuh bersama satu orang tua tentu mendapatkan pengaruh yang sangat kuat dari sosok yang paling banyak hadir dalam kehidupannya.

Nilai-nilai tentang kehidupan, cara menghadapi masalah, cara memperlakukan orang lain, hingga cara memahami emosi dapat banyak dipelajari melalui orang tua tersebut. 

Akibatnya, ketika dewasa, pandangan mereka mengenai hubungan mungkin memiliki karakter yang cukup kuat dari perspektif orang tua yang membesarkannya.

YourTango menjelaskan bahwa anak yang tumbuh hanya bersama ibu atau ayah dapat memperoleh perspektif yang lebih dominan dari sosok tersebut. 

Pengaruh itu dapat membentuk cara mereka memahami kebutuhan, emosi, maupun perilaku pasangan.

Namun, hal ini tidak berarti mereka tidak mampu memahami sudut pandang yang berbeda. 

Justru ketika semakin dewasa, seseorang memiliki kesempatan untuk memperluas pemahamannya melalui pertemanan, pendidikan, pengalaman kerja, dan hubungan romantis.

Dalam hubungan dewasa, pengalaman tersebut mungkin membuat seseorang memiliki kepekaan tertentu terhadap kebutuhan pasangan. 

Misalnya, mereka dapat lebih mudah memahami bagaimana seseorang mengekspresikan perasaan atau mengapa pasangan membutuhkan dukungan tertentu.

Di sisi lain, mereka juga perlu belajar mengenali kebutuhan dirinya sendiri. Terlalu fokus memahami orang lain tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan diri sendiri dapat membuat hubungan menjadi kurang seimbang.

Karena itu, pengalaman masa kecil sebaiknya menjadi bekal untuk memahami diri, bukan batasan yang menentukan bagaimana seseorang harus mencintai.

4. Lebih Berhati-Hati dalam Mengambil Komitmen

Salah satu kebiasaan yang cukup menarik adalah kemungkinan munculnya sikap lebih berhati-hati ketika menghadapi komitmen jangka panjang.

Bagi sebagian anak yang menyaksikan berakhirnya hubungan orang tua atau tumbuh dalam keluarga dengan satu orang tua, konsep keluarga dan pernikahan mungkin dipandang secara lebih kompleks. 

Mereka mungkin memahami bahwa hubungan romantis tidak selalu berakhir bahagia dan keputusan orang dewasa dapat memberikan dampak besar terhadap kehidupan keluarga.

YourTango menyebut bahwa pengalaman melihat konsekuensi dari hubungan yang berakhir dapat membuat sebagian orang lebih berhati-hati dalam mengambil komitmen. 

Mereka mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar yakin sebelum memutuskan menikah atau membangun keluarga sendiri.

Hal ini tidak otomatis berarti mereka takut mencintai atau tidak percaya terhadap hubungan. 

Bisa jadi, mereka justru sangat serius terhadap komitmen sehingga tidak ingin mengambil keputusan secara terburu-buru.

Mereka mungkin ingin memastikan bahwa hubungan yang dijalani benar-benar sehat, stabil, dan memiliki fondasi yang kuat sebelum melangkah lebih jauh.

Dalam konteks ini, pasangan perlu memahami bahwa proses membangun kepercayaan tidak selalu memiliki kecepatan yang sama bagi setiap orang. 

Tekanan untuk segera menentukan masa depan hubungan justru dapat membuat seseorang semakin defensif.

Komitmen yang sehat seharusnya dibangun melalui kepercayaan, komunikasi, konsistensi, dan kesiapan dua pihak, bukan semata-mata karena tuntutan usia atau lingkungan.

5. Terbiasa Menghadapi Masalah dan Tidak Mudah Menyerah

Kebiasaan terakhir yang mungkin terbentuk adalah kemampuan untuk menghadapi kesulitan dengan lebih tangguh.

Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan satu orang tua dapat melihat secara langsung bagaimana satu orang harus memikul berbagai tanggung jawab. 

Pengalaman tersebut dapat membuat mereka belajar lebih cepat mengenai arti bertahan, beradaptasi, dan menyelesaikan persoalan.

YourTango menggambarkan anak-anak dari orang tua tunggal sebagai pribadi yang dalam beberapa situasi dapat terbiasa tumbuh lebih cepat karena kondisi kehidupan mengharuskan mereka menjadi lebih mandiri. 

Pengalaman menghadapi berbagai tantangan tersebut kemudian dapat menjadi sumber kekuatan ketika mereka dewasa.

Dalam hubungan romantis, karakter seperti ini bisa menjadi kualitas yang sangat berharga. 

Ketika pasangan menghadapi masalah pekerjaan, persoalan keluarga, kondisi finansial, atau konflik dalam hubungan, mereka mungkin tidak langsung menyerah.

Mereka bisa memiliki kecenderungan untuk mencari jalan keluar dan mencoba menghadapi masalah secara praktis. 

Namun, ketangguhan juga perlu diimbangi dengan kemampuan menerima bantuan.

Seseorang yang terlalu terbiasa kuat terkadang lupa bahwa dalam hubungan, ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Membiarkan pasangan membantu bukan berarti kehilangan kemandirian.

Justru, salah satu bentuk kedewasaan dalam hubungan adalah mengetahui kapan harus berdiri sendiri dan kapan bersedia bersandar kepada orang yang dipercaya.

Pengalaman Masa Kecil Bukan Takdir Hubungan di Masa Dewasa

Dibesarkan oleh orang tua tunggal dapat memberikan pengalaman yang berbeda dalam memahami cinta, keluarga, kemandirian, dan komitmen. 

Beberapa pengalaman tersebut mungkin terbawa ke hubungan ketika seseorang sudah dewasa, termasuk kecenderungan menghargai ketangguhan, membutuhkan ruang pribadi, lebih berhati-hati terhadap komitmen, hingga memiliki daya tahan menghadapi masalah.

Namun, semua itu bukan aturan yang berlaku bagi setiap orang. YourTango sendiri menekankan bahwa setiap individu berbeda dan pengalaman hidup seseorang terus berkembang seiring bertambahnya usia.

Pada akhirnya, masa lalu memang dapat memengaruhi cara seseorang mencintai, tetapi tidak menentukan sepenuhnya bagaimana ia akan menjalani hubungan.

Dengan kesadaran diri, komunikasi yang terbuka, dan kemauan untuk memahami pasangan, seseorang tetap dapat membangun hubungan yang sehat terlepas dari latar belakang keluarganya.

 
EDITOR: Novia Tri Astuti