← Beranda
6 Tipe Orang yang Terjebak dalam Trauma, Namun Tidak Sadar
Vindi Rayinda AyudyaSelasa, 8 September 2026 | 03.14 WIB
Ilustrasi seseorang terjebak dalam trauma (magnific)

 

 

JawaPos.com - Trauma tidak selalu terlihat dalam bentuk tangisan, ketakutan, atau kenangan buruk yang terus muncul dalam pikiran. 

Pada sebagian orang, pengalaman sulit justru dapat tercermin melalui kebiasaan sehari-hari yang selama ini dianggap sebagai bagian dari kepribadian.

Seseorang mungkin dikenal sebagai pribadi yang sangat baik, selalu membantu, tidak pernah menolak permintaan orang lain, atau bahkan terbiasa meminta maaf meski sebenarnya tidak melakukan kesalahan. 

Tanpa disadari, perilaku tersebut dapat menjadi cara tubuh dan pikiran mencari rasa aman setelah menghadapi pengalaman yang membuat seseorang merasa terancam atau tidak berdaya.

Dirangkum dari laman YourTango, disampaikan bahwa bentuk respons trauma sering kali tidak dikenali karena tampak seperti sifat atau kebiasaan biasa.

Namun, beberapa pola dapat menjadi bahan refleksi untuk memahami diri dengan lebih baik.

Selengkapnya, inilah enam tipe orang yang mungkin terjebak dalam respons trauma tanpa menyadarinya, mulai dari terlalu suka menyenangkan orang lain hingga sulit berkata tidak.

1. Tipe yang Selalu Berusaha Menyenangkan Orang Lain

Ada orang yang hampir selalu mengatakan “iya” meskipun sebenarnya ingin menolak. 

Ia berusaha menjaga suasana tetap baik, menghindari konflik, dan merasa tidak nyaman ketika seseorang kecewa kepadanya.

Dalam artikel YourTango, tipe ini digambarkan sebagai “teacher's pet”, yaitu orang yang sangat berusaha mendapatkan penerimaan dan persetujuan dari orang lain. 

Di balik perilaku tersebut, bisa terdapat respons fawn, salah satu bentuk respons trauma yang membuat seseorang berusaha mendapatkan rasa aman dengan menyesuaikan diri terhadap kebutuhan dan keinginan orang lain.

Orang dengan pola seperti ini mungkin terlihat sangat ramah dan mudah diajak bekerja sama. 

Ia selalu membantu, jarang membantah, dan berusaha memastikan semua orang merasa nyaman.

Masalahnya, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. 

Ia mungkin mengetahui apa yang diinginkan orang lain, tetapi justru kesulitan menjawab pertanyaan sederhana seperti, “Sebenarnya kamu sendiri ingin apa?”

Dalam jangka panjang, terlalu sering mencari validasi eksternal dapat membuat seseorang kehilangan batas pribadi. Ia merasa berharga ketika berguna bagi orang lain.

Karena itu, belajar mengatakan “tidak” bukan berarti menjadi egois. Justru, memiliki kemampuan menentukan batas adalah bagian penting dari hubungan yang sehat.

2. Tipe yang Selalu Mengorbankan Diri Sendiri

Tipe kedua adalah orang yang hampir selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri. 

Ia mungkin rela mengorbankan waktu, tenaga, uang, bahkan kebahagiaannya demi memastikan orang-orang di sekitarnya baik-baik saja.

YourTango menjelaskan bahwa seseorang yang terlalu lama berada dalam pola fawning dapat kehilangan hubungan dengan kebutuhan dan keinginannya sendiri. 

Identitasnya perlahan dibangun berdasarkan bagaimana orang lain melihat dan membutuhkan dirinya.

Dari luar, orang seperti ini sering dianggap sangat tulus. Ia dikenal sebagai teman yang selalu hadir, anggota keluarga yang bisa diandalkan, atau pasangan yang tidak banyak menuntut.

Namun, pengorbanan yang terus-menerus dapat menyimpan persoalan tersendiri. 

Ketika seseorang terlalu terbiasa memenuhi kebutuhan orang lain, ia mungkin merasa bersalah saat mencoba melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Bahkan, menikmati waktu sendirian atau memilih sesuatu berdasarkan keinginan pribadi bisa terasa seperti tindakan egois.

Padahal, menjaga diri bukan berarti berhenti peduli kepada orang lain. Seseorang tetap dapat menjadi pribadi yang penuh kasih tanpa harus selalu mengorbankan dirinya.

Mengenali apa yang benar-benar disukai, dibutuhkan, dan diinginkan merupakan langkah penting untuk membangun kembali hubungan dengan diri sendiri.

3. Tipe yang Sulit Sekali Mengatakan “Tidak”

Pernahkah Anda bertemu seseorang yang selalu menerima setiap permintaan? Ia bisa saja sudah sibuk, kelelahan, atau tidak memiliki waktu, tetapi ketika orang lain meminta bantuan, jawabannya hampir selalu, “Bisa.”

YourTango menyebut tipe ini sebagai orang yang ketika diminta sesuatu, biasanya akan langsung melakukannya. 

Masalah utamanya adalah kesulitan menetapkan batas, sehingga orang lain dapat dengan mudah mengambil keuntungan dari kebaikannya.

Kebiasaan tersebut dapat muncul dalam berbagai situasi. Misalnya, selalu menerima pekerjaan tambahan, bersedia meminjamkan uang meskipun sedang membutuhkan, mengambil tanggung jawab orang lain, atau menghadiri acara yang sebenarnya tidak ingin didatangi.

Menariknya, orang tersebut belum tentu merasa dirinya sedang mengalami masalah. Ia mungkin justru menganggap dirinya sebagai orang yang “memang suka membantu”.

Namun, tanda yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perasaannya setelah terus-menerus mengatakan “iya”. 

Jika muncul kelelahan, frustrasi, rasa dimanfaatkan, atau bahkan kemarahan yang dipendam, mungkin ada batas pribadi yang selama ini tidak dihormati.

Belajar berkata “tidak” memang membutuhkan keberanian, terutama jika seseorang terbiasa mendapatkan rasa aman melalui penerimaan orang lain.

Tetapi menolak sesuatu yang tidak mampu dilakukan bukanlah tindakan jahat. Itu adalah bentuk menghargai waktu, energi, dan kebutuhan diri sendiri.

4. Tipe yang Terlalu Sering Meminta Maaf

“Maaf.” Bagi sebagian orang, kata tersebut keluar begitu cepat sehingga mereka bahkan tidak sempat memikirkan apakah benar-benar melakukan kesalahan. 

Meminta maaf ketika melakukan kesalahan tentu merupakan sikap yang sehat, tetapi terlalu sering meminta maaf untuk hal-hal yang sebenarnya bukan kesalahan dapat menjadi pola yang perlu diperhatikan.

YourTango memasukkan the apologizer sebagai salah satu tipe yang dapat menunjukkan respons fawn

Kebiasaan meminta maaf secara berlebihan dapat berkembang sejak usia muda dan menjadi semakin sulit dihentikan ketika sudah menjadi kebiasaan.

Seseorang mungkin meminta maaf karena terlambat beberapa menit, karena memberikan pendapat berbeda, karena membutuhkan waktu untuk diri sendiri, atau bahkan karena orang lain sedang marah kepadanya.

Pada tingkat tertentu, perilaku ini dapat mencerminkan ketakutan terhadap konflik. 

Orang tersebut mungkin merasa bahwa meminta maaf adalah cara tercepat untuk mengembalikan keadaan menjadi aman dan tenang.

Namun, terus meminta maaf atas sesuatu yang bukan tanggung jawab kita dapat membuat seseorang semakin sulit membangun batas yang sehat.

Salah satu langkah sederhana adalah berhenti sejenak sebelum mengatakan “maaf”. 

Tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah saya memang melakukan kesalahan, atau saya hanya takut orang lain kecewa kepada saya?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang membedakan antara rasa bersalah yang sehat dan kebiasaan meminta maaf karena takut kehilangan penerimaan.

5. Tipe yang Selalu Merasa Harus Menyelamatkan Orang Lain

Ada orang yang hampir selalu menjadi tempat orang lain meminta bantuan. Temannya sedang bertengkar dengan pasangan, ia turun tangan. Rekannya mengalami masalah pekerjaan, ia menawarkan solusi. 

Keluarganya memiliki persoalan, ia merasa harus menjadi orang yang menyelesaikannya.

Dalam artikel YourTango, tipe ini disebut “the hero”. Ia terlihat seperti penyelamat di lingkungan sosialnya karena selalu hadir untuk memperbaiki keadaan atau menyelesaikan masalah orang lain.

Menolong orang lain tentu bukan sesuatu yang buruk. Bahkan, membantu sesama merupakan bagian penting dari hubungan sosial yang sehat.

Namun, masalah dapat muncul ketika seseorang merasa dirinya hanya berharga apabila dibutuhkan.

Ia mungkin sulit membiarkan orang lain menyelesaikan masalahnya sendiri. Ketika seseorang mengalami kesulitan, refleks pertamanya adalah turun tangan, bahkan ketika bantuan tersebut sebenarnya tidak diminta.

Dalam jangka panjang, pola ini dapat menyebabkan kelelahan emosional. Seseorang bisa merasa frustrasi karena telah memberikan begitu banyak bantuan tetapi tidak mendapatkan apresiasi yang diharapkan.

YourTango juga menekankan pentingnya memahami bahwa kita tidak dapat menyelamatkan semua orang. Memberi dukungan berbeda dengan mengambil alih seluruh kehidupan orang lain.

Terkadang, bentuk bantuan terbaik bukan menyelesaikan masalah seseorang, melainkan memberi mereka ruang untuk belajar menghadapi konsekuensi dan menemukan solusinya sendiri.

6. Tipe yang Terlihat “Egois” tetapi Sebenarnya Sedang Melindungi Diri

Tipe terakhir mungkin justru yang paling menarik karena terlihat bertentangan dengan tipe-tipe sebelumnya.

Seseorang yang mengalami respons fawn tidak selalu akan terus-menerus mengorbankan diri. 

Dalam kondisi tertentu, ia bisa berubah menjadi pribadi yang sangat fokus pada dirinya sendiri, terutama ketika sedang berusaha keluar dari hubungan atau situasi yang dianggap tidak aman.

YourTango membahas tipe ini sebagai “the selfish gaslighter”, sekaligus memberikan catatan penting bahwa menempatkan kebutuhan diri sendiri di atas kepentingan orang lain tidak otomatis membuat seseorang menjadi buruk. 

Dalam konteks tertentu, memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan diri justru diperlukan.

Masalahnya adalah ketika seseorang tidak lagi mampu membedakan antara menjaga diri dan mengabaikan orang lain.

Ada perbedaan besar antara mengatakan, “Saya membutuhkan waktu untuk diri sendiri,” dengan sengaja memanipulasi atau menyakiti orang lain demi mendapatkan keuntungan.

Karena itu, memahami respons trauma bukan berarti mencari pembenaran atas semua perilaku. 

Tujuannya adalah mengenali pola yang mungkin terbentuk sebagai mekanisme bertahan hidup, kemudian belajar memilih respons yang lebih sehat.

Seseorang yang dahulu terbiasa mengorbankan diri tidak harus selamanya hidup dalam pola tersebut. 

Ia dapat belajar menetapkan batas, mengomunikasikan kebutuhan, dan membangun hubungan yang tidak didasarkan pada rasa takut.

Mengapa Seseorang Bisa Tidak Menyadari Dirinya Terjebak dalam Respons Trauma?

Salah satu alasan utamanya adalah karena respons tersebut pada awalnya mungkin memang membantu seseorang bertahan. 

Tubuh dan pikiran manusia dapat mengembangkan strategi untuk menghadapi situasi yang dianggap mengancam.

YourTango menjelaskan bahwa respons trauma secara umum mencakup fight, flight, freeze, dan fawn. Respons fawn khususnya dapat terlihat seperti kebaikan, kepatuhan, atau keinginan membuat orang lain bahagia sehingga seseorang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sedang menggunakan mekanisme perlindungan tertentu.

Seiring waktu, strategi tersebut dapat berubah menjadi kebiasaan.

Seseorang yang dahulu belajar bahwa “menyenangkan orang lain membuat keadaan aman” mungkin terus melakukannya bahkan ketika sudah berada di lingkungan yang lebih aman. 

Akibatnya, ia sulit mengatakan tidak, terlalu sering meminta maaf, atau merasa harus menyelesaikan masalah orang lain.

Kesadaran menjadi langkah penting. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk memahami mengapa pola tertentu terus muncul.

Jika seseorang merasa pola tersebut mengganggu hubungan, pekerjaan, kehidupan sosial, atau kesejahteraan emosional, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan yang tepat.

Enam tipe di atas menunjukkan bahwa respons trauma tidak selalu terlihat jelas. Kadang-kadang, respons tersebut justru tersembunyi di balik sifat yang dianggap positif, seperti terlalu baik, selalu membantu, mudah meminta maaf, atau sangat peduli kepada orang lain.

Namun, satu perilaku saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami trauma. Setiap manusia memiliki latar belakang, kepribadian, dan cara menghadapi tekanan yang berbeda.

Yang terpenting adalah membangun kesadaran terhadap pola diri sendiri. Jika selama ini seseorang merasa harus selalu menyenangkan orang lain agar diterima, mungkin sudah waktunya belajar bahwa dirinya tetap berharga meskipun tidak selalu bisa memenuhi harapan semua orang.

Memahami trauma bukan tentang memberi label kepada diri sendiri. Sebaliknya, ini adalah langkah untuk mengenali pola lama, memahami kebutuhan pribadi, dan perlahan membangun cara hidup yang terasa lebih aman dan sehat.

 
EDITOR: Novia Tri Astuti