JawaPos.com – Kopi menjadi salah satu minuman yang populer di berbagai negara. Kandungan kafein di dalamnya membuat kopi sering dipilih untuk membantu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika tubuh mulai terasa lelah pada pagi atau sore hari.
Selain memberikan efek stimulan, sejumlah penelitian juga mengaitkan konsumsi kopi dengan berbagai potensi manfaat kesehatan. Namun, bukan berarti minuman berkafein ini cocok dikonsumsi secara bebas oleh semua orang.
Pada kondisi tertentu, kafein justru dapat memperburuk keluhan yang sudah ada. Karena itu, orang dengan masalah kesehatan tertentu perlu lebih memperhatikan jumlah kopi dan kafein yang dikonsumsi.
Dilansir dari English Jagran, berikut lima kelompok orang yang perlu berhati-hati atau mempertimbangkan pembatasan konsumsi kopi.
Baca Juga: 8 Alasan Mengapa Minum Kopi di Pagi Hari Mungkin Dapat Membantu Kamu Hidup Lebih Lama dengan Bahagia
1. Orang dengan Kandung Kemih Overaktif
Kandung kemih overaktif dapat membuat seseorang lebih sering merasakan dorongan untuk buang air kecil. Keinginan tersebut juga dapat muncul secara tiba-tiba dan sulit ditahan.
Kafein memiliki efek diuretik ringan dan pada sebagian orang dapat membuat frekuensi buang air kecil meningkat. Akibatnya, konsumsi kopi dalam jumlah banyak berpotensi membuat keluhan menjadi lebih mengganggu.
Bagi orang yang mengalami masalah kandung kemih, mengurangi asupan minuman berkafein dapat menjadi salah satu langkah yang patut dipertimbangkan.
2. Orang dengan Sindrom Iritasi Usus Besar
Sindrom iritasi usus besar atau Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan gangguan yang dapat menimbulkan berbagai masalah pencernaan.
Keluhannya antara lain sakit atau kram perut, kembung, diare, sembelit, maupun perubahan pola buang air besar.
Kafein pada sebagian orang dapat merangsang aktivitas saluran pencernaan. Karena itu, minum kopi berlebihan berpotensi memperburuk gejala tertentu, terutama bagi penderita IBS yang memiliki keluhan diare.
Menurut Johns Hopkins Medicine, kafein dapat memperburuk diare yang menjadi salah satu gejala IBS.
Jika keluhan pencernaan muncul setelah minum kopi, jumlah konsumsinya sebaiknya diperhatikan dan dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan bila diperlukan.
3. Ibu Hamil
Kehamilan menjadi salah satu kondisi yang membutuhkan perhatian lebih terhadap konsumsi kafein.
Asupan kafein yang terlalu tinggi selama kehamilan dikaitkan dalam sejumlah penelitian dengan risiko tertentu terhadap kehamilan. Karena itu, ibu hamil umumnya dianjurkan untuk membatasi jumlah kafein yang dikonsumsi setiap hari.
Kafein dapat melewati plasenta sehingga janin ikut terpapar. Tubuh janin juga belum mampu memproses kafein secepat orang dewasa.
Bagi ibu hamil, bukan hanya kopi yang perlu diperhitungkan. Kafein juga dapat ditemukan dalam teh, cokelat, minuman energi, dan sejumlah produk lainnya.
Karena kebutuhan setiap kehamilan dapat berbeda, jumlah konsumsi kafein yang aman sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau bidan.
4. Orang dengan Glaukoma
Glaukoma merupakan kelompok penyakit mata yang dapat menyebabkan kerusakan pada saraf optik. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang semakin berat.
Konsumsi kafein dalam jumlah besar dapat menyebabkan perubahan tekanan intraokular pada sebagian orang. Karena itu, penderita glaukoma perlu memperhatikan asupan kopi dan minuman berkafein.
Terutama bagi mereka yang sudah mendapatkan diagnosis glaukoma, pola konsumsi kafein sebaiknya dibicarakan dengan dokter mata agar sesuai dengan kondisi masing-masing.
5. Orang yang Mengalami Gangguan Tidur
Kopi sering diminum untuk mengusir rasa kantuk. Efek tersebut berasal dari kafein yang bekerja pada sistem saraf dan membantu meningkatkan kewaspadaan.
Kafein bekerja dengan menghambat efek adenosin, yaitu senyawa dalam tubuh yang berperan dalam munculnya rasa kantuk.
Masalahnya, efek kafein dapat bertahan selama beberapa jam. Jika kopi dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur, seseorang bisa lebih sulit mengantuk atau mengalami penurunan kualitas tidur.
Bagi orang yang memang sudah mengalami insomnia atau gangguan tidur lainnya, membatasi kopi terutama pada sore dan malam hari dapat membantu mengurangi gangguan akibat kafein.
Pada akhirnya, kopi tidak otomatis menjadi minuman yang harus dihindari semua orang. Dampaknya dapat berbeda-beda bergantung pada kondisi tubuh, jumlah konsumsi, waktu minum, serta sensitivitas seseorang terhadap kafein.