← Beranda
Bukan Sekadar Lapar, Melewatkan Sarapan Disebut Bisa Memengaruhi 4 Hal Ini
Rabbany WanadrianiMinggu, 6 September 2026 | 04.50 WIB
ilustrasi orang yang melewatkan sarapan. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com – Sarapan sering disebut sebagai salah satu waktu makan penting karena menjadi kesempatan bagi tubuh untuk mendapatkan asupan setelah berjam-jam tidak makan selama tidur.

Meski begitu, tidak semua orang terbiasa makan pada pagi hari. Sebagian memilih melewatkannya karena ingin tidur lebih lama, terburu-buru menjalani aktivitas, atau memang tidak memiliki selera makan di pagi hari.

Kebiasaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan kondisi psikologis tertentu. Namun, sejumlah penelitian mengamati adanya hubungan antara pola sarapan dengan suasana hati, kemampuan berkonsentrasi, dan kondisi psikologis seseorang.

Rasa lapar juga dapat memengaruhi energi serta kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas. Karena itu, kebiasaan tidak makan pada pagi hari berpotensi memberikan dampak berbeda pada setiap individu.

Baca Juga: Tak Perlu ke Medan, Begini Cara Membuat Bihun Kari Khas Medan yang Lezat

Dilansir dari YourTango, berikut empat hal yang kerap dikaitkan dengan kebiasaan melewatkan sarapan dari sudut pandang psikologi.

1. Pengendalian Impuls Bisa Terganggu

Ketika tubuh membutuhkan makanan, rasa lapar dapat menjadi hal yang cukup mengganggu. Kondisi tersebut berpotensi membuat seseorang lebih sulit mengatur emosi maupun mengendalikan respons terhadap situasi tertentu.

Tubuh memproduksi hormon ghrelin yang berperan dalam memunculkan rasa lapar. Ketika rasa lapar tidak segera teratasi, seseorang bisa menjadi lebih mudah terganggu atau kurang sabar.

Dalam kondisi tertentu, rasa lapar yang kuat juga dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Hal-hal kecil yang biasanya dapat dihadapi dengan tenang mungkin terasa lebih mengganggu ketika tubuh sedang kekurangan asupan energi.

2. Suasana Hati Bisa Lebih Mudah Terganggu

Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara kebiasaan melewatkan sarapan dengan gejala depresi dan kecemasan.

Salah satu kemungkinan yang dibahas adalah perubahan pada kemampuan mengendalikan perhatian dan kondisi emosional. Ketika tubuh tidak mendapatkan asupan pada pagi hari, rasa lapar dan perubahan energi dapat turut memengaruhi kondisi psikologis.

Meski demikian, hubungan tersebut tidak berarti melewatkan sarapan secara langsung menyebabkan depresi atau kecemasan. Kondisi mental seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga kebiasaan makan hanya merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan.

3. Konsentrasi dan Produktivitas Dapat Menurun

Rasa lapar yang muncul saat menjalani aktivitas dapat membuat seseorang lebih sulit memusatkan perhatian.

Alih-alih fokus pada pekerjaan atau kegiatan yang sedang dilakukan, pikiran justru dapat terus tertuju pada rasa lapar. Akibatnya, menyelesaikan tugas tertentu bisa terasa lebih berat.

Jika kondisi tersebut berlangsung berulang, produktivitas sehari-hari berpotensi ikut terdampak. Rasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan tekanan karena pekerjaan yang belum selesai juga dapat memengaruhi suasana hati.

Karena itu, kebutuhan sarapan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh dan pola aktivitas masing-masing.

4. Keinginan untuk Bersosialisasi Bisa Berkurang

Pengaruh melewatkan sarapan tidak hanya berkaitan dengan rasa lapar atau konsentrasi. Kondisi tubuh yang kurang berenergi juga dapat memengaruhi keinginan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain.

Ketika merasa lelah, lapar, atau suasana hati sedang tidak baik, seseorang mungkin memilih mengurangi aktivitas sosial dan lebih banyak menghabiskan waktu sendiri.

Jika terjadi terus-menerus, berkurangnya interaksi sosial dapat turut memengaruhi kesejahteraan emosional. Padahal, hubungan dengan keluarga, teman, maupun lingkungan sosial dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi psikologis.

Meski demikian, tidak sarapan sesekali bukan berarti seseorang pasti mengalami masalah psikologis atau memiliki ciri kepribadian tertentu. Kebutuhan makan pada pagi hari berbeda-beda pada setiap orang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho