← Beranda
Mitos Bersiul di Malam Hari, Benarkah Bisa Memanggil Makhluk Tak Kasatmata?
Elista Ita YustikaJumat, 4 September 2026 | 06.09 WIB
Ilustrasi seseorang bersiul di tengah malam, kebiasaan yang dalam sejumlah kepercayaan masyarakat Indonesia dikaitkan dengan berbagai cerita mistis dan larangan turun-temurun. (https://id.pinterest.com/pin)

JawaPos.com – Pernahkah Anda mendapat teguran ketika tanpa sadar bersiul pada malam hari?

“Jangan bersiul malam-malam!”

Kalimat tersebut mungkin terdengar tidak asing bagi banyak orang Indonesia. 

Sejak kecil, sebagian orang sudah mendapat larangan serupa dari orang tua, kakek, nenek, atau orang-orang yang lebih tua di lingkungan tempat tinggalnya.

Alasannya pun beragam. Ada yang mengatakan bersiul pada malam hari dapat mengundang makhluk halus.

Ada pula yang percaya suara siulan bisa menarik perhatian penghuni dunia lain yang sedang melintas.

Bahkan, dalam sejumlah cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, seseorang yang bersiul pada malam hari konon bisa mendengar siulan balasan.

Di situlah kisahnya menjadi semakin menyeramkan.

Sebab, pertanyaannya bukan lagi apakah seseorang boleh bersiul pada malam hari. Melainkan, siapa yang membalas siulan tersebut?

Dilansir dari Erna Teacher, Kamis (3/9), berikut penjelasannya.

Ketika Malam Dianggap Berbeda

Bagi masyarakat modern, malam mungkin hanya menjadi waktu ketika matahari telah tenggelam dan aktivitas sehari-hari mulai berakhir.

Namun, dalam kehidupan masyarakat tradisional, malam memiliki makna yang jauh lebih kompleks.

Ketika malam tiba, lingkungan menjadi lebih sunyi.

Aktivitas manusia berkurang dan suara-suara kecil yang biasanya tidak terdengar pada siang hari menjadi lebih jelas.

Suara jangkrik, gesekan dedaunan, langkah kaki, hingga suara hewan di kejauhan dapat terdengar dengan lebih nyata.

Dalam kondisi seperti itulah, suara siulan dipercaya mampu menjangkau jarak yang cukup jauh.

Sejumlah kepercayaan masyarakat kemudian menganggap suara tersebut bukan hanya dapat didengar manusia.

Ada sesuatu yang lain, yang konon juga bisa mendengarnya.

Dalam cerita rakyat, malam sering kali digambarkan sebagai waktu ketika batas antara dunia manusia dan dunia tak kasatmata menjadi lebih tipis. 

Kesunyian dianggap memberikan ruang bagi berbagai makhluk yang tidak terlihat untuk berkeliaran.

Karena itulah, sebagian orang tua zaman dahulu melarang anak-anak mereka bersiul ketika malam tiba.

Bukan sekadar karena suara siulan dianggap mengganggu ketenangan, tetapi karena mereka percaya ada sesuatu yang sebaiknya tidak perlu dipanggil.

Konon, Ada yang Bisa Menjawab Siulan

Salah satu cerita yang paling sering berkembang adalah tentang siulan balasan.

Konon, seseorang yang bersiul sendirian pada malam hari terkadang akan mendengar suara serupa dari arah yang tidak diketahui.

Awalnya terdengar jauh. Sebuah siulan pendek. Kemudian seseorang kembali bersiul. Tidak lama setelah itu, suara lain kembali terdengar. Masalahnya, tidak ada siapa pun di sekitar.

Cerita yang berkembang di sejumlah daerah bahkan mengatakan bahwa semakin sering seseorang membalas siulan tersebut, suara misterius itu bisa terdengar semakin dekat.

Mungkin awalnya berasal dari balik pepohonan. Kemudian terdengar dari ujung jalan.

Lalu entah bagaimana, terasa seolah datang dari tempat yang jauh lebih dekat.

Tentu saja, cerita tersebut sulit dibuktikan secara ilmiah. Namun, kisah-kisah seperti inilah yang membuat larangan bersiul pada malam hari bertahan selama puluhan, bahkan ratusan tahun.

Bagi anak-anak, peringatan sederhana dari orang tua mungkin sudah cukup.

“Jangan bersiul malam-malam. Nanti ada yang datang.”

Tidak perlu penjelasan panjang. Tidak perlu ceramah tentang keamanan.

Kalimat sederhana yang sedikit menakutkan sering kali jauh lebih efektif untuk membuat anak mematuhi larangan.

Bukan Hanya Mitos, Ada Alasan yang Lebih Masuk Akal

Namun, jika ditelusuri lebih jauh, larangan bersiul pada malam hari mungkin tidak sepenuhnya berasal dari ketakutan terhadap dunia gaib.

Ada kemungkinan bahwa larangan tersebut muncul karena alasan yang jauh lebih praktis.

Bayangkan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Belum ada lampu jalan seperti sekarang. Ketika malam tiba, sebagian besar wilayah menjadi sangat gelap.

Penerangan hanya berasal dari lampu minyak, obor, atau cahaya bulan.

Jarak pandang menjadi terbatas.

Sementara itu, lingkungan di sekitar permukiman mungkin masih dipenuhi hutan, kebun, semak belukar, dan berbagai jenis hewan liar.

Dalam kondisi tersebut, suara siulan yang keras tentu dapat terdengar hingga cukup jauh.

Hal itu berpotensi menarik perhatian orang asing atau hewan yang berada di sekitar permukiman.

Bersiul pada malam hari pun mungkin dianggap sebagai tindakan yang tidak bijaksana.

Selain itu, dalam beberapa kebudayaan, siulan juga pernah digunakan sebagai alat komunikasi atau pemberi tanda.

Seseorang dapat menggunakan suara tertentu untuk memberi tahu temannya tentang sesuatu.

Tidak menutup kemungkinan, siulan juga dimanfaatkan oleh orang-orang dengan niat buruk.

Misalnya, untuk memberikan kode kepada rekannya.

Karena itu, orang tua mungkin melarang anak-anak bersiul pada malam hari agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau menarik perhatian orang yang tidak dikenal.

Alasan tersebut tentu terdengar jauh lebih rasional dibandingkan cerita tentang makhluk gaib.

Namun, bagi masyarakat zaman dahulu, menjelaskan persoalan keamanan secara panjang lebar kepada anak-anak mungkin bukan perkara mudah. Maka, lahirlah cerita.

Cerita Menakutkan yang Diam-Diam Melindungi

Banyak larangan tradisional sebenarnya memiliki pola yang sama.

Anak-anak sering dilarang keluar rumah ketika senja.

Ada pula yang mengatakan tidak boleh duduk di depan pintu.

Sebagian masyarakat bahkan memiliki larangan tertentu terkait aktivitas pada malam hari.

Di balik semua larangan tersebut, terdapat pesan sederhana yang sebenarnya ingin disampaikan oleh generasi terdahulu.

Mengapa Mitos Ini Ada di Banyak Daerah?

Hal yang menarik, larangan bersiul pada malam hari tidak hanya ditemukan di satu wilayah.

Berbagai daerah memiliki cerita dan kepercayaan masing-masing mengenai aktivitas tersebut.

Hal ini menimbulkan pertanyaan menarik.

Mengapa begitu banyak masyarakat memiliki larangan yang hampir serupa?

Apakah semuanya hanya kebetulan?

Atau memang masyarakat pada masa lalu menghadapi kondisi lingkungan yang serupa sehingga menghasilkan aturan sosial yang hampir sama?

Jawabannya mungkin tidak sesederhana itu.

Mitos berkembang sesuai dengan kondisi geografis, kebudayaan, dan pengalaman masyarakat.

Di wilayah yang dekat dengan hutan, misalnya, malam hari tentu menghadirkan suasana yang sangat berbeda dibandingkan kehidupan masyarakat perkotaan saat ini.

Suara-suara misterius lebih mudah terdengar. Hewan malam mulai aktif. Jalanan menjadi gelap dan sepi.

Dalam kondisi seperti itu, berbagai suara dapat memunculkan imajinasi.

Siulan yang terdengar dari kejauhan mungkin sebenarnya berasal dari manusia. Bisa pula berasal dari hewan tertentu.

Namun, ketika sumber suara tidak terlihat, manusia sering kali mencoba mencari penjelasan berdasarkan kepercayaan yang telah hidup di tengah masyarakat.

Dari situlah cerita berkembang. Dari satu orang kepada orang lain. Dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Antara Ketakutan dan Kearifan Lokal

Masyarakat modern mungkin lebih mudah menganggap larangan bersiul pada malam hari sebagai sekadar mitos.

Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa suara siulan dapat secara otomatis memanggil makhluk gaib.

Namun, menertawakan kepercayaan lama tanpa memahami latar belakangnya juga mungkin terlalu sederhana.

Sebab, banyak cerita rakyat lahir dari pengalaman panjang masyarakat.

Mitos bukan selalu sekadar cerita untuk menakut-nakuti.

Kadang, mitos merupakan cara masyarakat menyimpan pengetahuan.

Ketika belum ada buku panduan tentang keselamatan atau pendidikan formal yang mudah diakses, cerita menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan pesan.

Pesan tersebut kemudian dikemas dengan cara yang mudah diingat.

Sedikit menyeramkan. Sedikit misterius. Namun, cukup efektif.

Karena siapa yang berani melanggar larangan jika konsekuensinya adalah bertemu sesuatu yang tidak terlihat?

Jadi, Boleh atau Tidak?

Pada akhirnya, keputusan untuk mempercayai mitos tersebut tentu kembali kepada masing-masing orang.

Ada yang menganggapnya sebagai bagian dari cerita masa kecil.

Ada pula yang tetap memilih untuk tidak bersiul pada malam hari.

Bukan karena sepenuhnya percaya. Tetapi karena tidak ingin mengambil risiko.

Lagipula, tidak ada salahnya menghormati kepercayaan dan kearifan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Mungkin, larangan itu memang hanya sebuah cara orang tua zaman dahulu untuk menjaga anak-anak mereka.

Atau mungkin, ada alasan lain yang belum sepenuhnya kita pahami. Tidak ada yang benar-benar tahu.

Namun, satu hal yang menarik dari cerita ini adalah bagaimana sebuah siulan sederhana dapat berubah menjadi mitos yang bertahan begitu lama.

Sebuah suara pendek yang keluar dari bibir manusia.

Terdengar biasa ketika dilakukan pada siang hari.

Tetapi terasa berbeda ketika dilakukan di tengah malam yang sunyi.

Apalagi jika setelah Anda bersiul, tiba-tiba ada suara siulan lain yang menjawab dari kejauhan.

Mungkin itu hanya seseorang yang sedang berjalan di balik rumah. Mungkin suara burung malam.

Atau mungkin hanya imajinasi yang mulai bekerja karena suasana terlalu sunyi.

Tetapi kalau Anda bertanya kepada orang-orang tua zaman dahulu, mungkin mereka akan memberikan jawaban yang berbeda.

Dan jika suatu malam Anda bersiul, lalu tiba-tiba mendengar siulan balasan dari arah yang tidak diketahui.

Mungkin, untuk berjaga-jaga, lebih baik Anda tidak membalasnya.

Sebab, beberapa cerita lama memang diciptakan untuk menakut-nakuti.

Tetapi siapa tahu, di balik cerita tersebut, sebenarnya ada pesan yang jauh lebih sederhana.

EDITOR: Hanny Suwindari