JawaPos.com – Di tengah kebiasaan membaca melalui ponsel, tablet, dan komputer, buku fisik masih memiliki tempat tersendiri bagi banyak orang.
Membaca melalui kertas menawarkan pengalaman yang berbeda. Tidak ada notifikasi yang tiba-tiba muncul, tidak ada pesan masuk yang mengalihkan perhatian, dan pembaca dapat menikmati halaman demi halaman tanpa gangguan digital.
Sejumlah kajian mengenai membaca menunjukkan bahwa format bacaan dapat memengaruhi pengalaman seseorang dalam berkonsentrasi dan memahami informasi. Buku cetak juga memberikan pengalaman fisik yang tidak sepenuhnya sama dengan membaca melalui layar.
Namun, bukan berarti membaca melalui gadget tidak bermanfaat. Keduanya tetap dapat menjadi sarana belajar yang baik, tergantung kebutuhan dan kebiasaan masing-masing.
Baca Juga: Dari Sirkulasi hingga Mood, Ini 5 Manfaat Mandi Air Dingin
Dilansir dari Geediting.com, berikut delapan manfaat yang kerap dikaitkan dengan kebiasaan membaca buku fisik.
1. Membantu Menjaga Fokus dan Konsentrasi
Salah satu keunggulan membaca buku fisik adalah minimnya gangguan dari perangkat digital.
Ketika membaca melalui ponsel, perhatian dapat dengan mudah terpecah oleh notifikasi, pesan, media sosial, atau keinginan membuka aplikasi lain. Buku cetak tidak menawarkan gangguan serupa.
Tampilan halaman yang tetap juga memberikan pengalaman visual yang stabil. Kondisi ini dapat membantu pembaca mempertahankan perhatian lebih lama dan menikmati proses membaca secara mendalam.
2. Lebih Ramah untuk Rutinitas Sebelum Tidur
Membaca buku fisik sebelum tidur bisa menjadi alternatif bagi orang yang ingin mengurangi penggunaan perangkat elektronik pada malam hari.
Berbeda dengan ponsel atau tablet yang memiliki layar bercahaya, buku cetak tidak menghasilkan cahaya dari layarnya sendiri. Karena itu, membaca buku dengan pencahayaan ruangan yang nyaman dapat menjadi bagian dari rutinitas relaksasi sebelum tidur.
Mengurangi aktivitas dengan perangkat elektronik menjelang waktu tidur juga dapat membantu menciptakan suasana yang lebih tenang.
3. Membantu Mengasah Empati
Membaca cerita, khususnya fiksi, mengajak pembaca mengikuti pengalaman dan sudut pandang tokoh yang mungkin berbeda dari kehidupan mereka sendiri.
Ketika mengikuti konflik, perasaan, serta keputusan karakter, pembaca terdorong untuk memahami alasan di balik perilaku seseorang.
Pengalaman tersebut dapat membantu melatih kemampuan mengambil perspektif orang lain. Sejumlah penelitian psikologi juga pernah mengaitkan pembacaan fiksi sastra dengan kemampuan memahami kondisi mental orang lain.
4. Menstimulasi Berbagai Proses Kognitif
Membaca bukan aktivitas yang hanya melibatkan kemampuan mengenali kata.
Ketika membaca buku, otak perlu memproses bahasa, memahami makna, mengingat informasi, membayangkan situasi, serta menghubungkan bagian-bagian cerita atau gagasan.
Semakin kompleks bahan bacaan, semakin banyak pula proses mental yang perlu dilakukan untuk memahami isinya. Karena itu, membaca secara rutin dapat menjadi salah satu bentuk stimulasi kognitif yang menarik.
5. Memberikan Sensasi Kemajuan yang Nyata
Ada kepuasan tersendiri ketika melihat halaman buku yang telah selesai dibaca semakin bertambah.
Tumpukan halaman yang sudah dilewati memberikan gambaran konkret mengenai progres membaca. Aktivitas sederhana seperti memberi tanda pada halaman, menggunakan pembatas buku, atau akhirnya menutup sampul setelah menyelesaikan buku juga dapat memberikan rasa pencapaian.
Pengalaman tersebut bisa menjadi dorongan tersendiri untuk mengambil buku berikutnya.
6. Membantu Relaksasi dan Mengurangi Stres
Membaca dapat menjadi kesempatan untuk sejenak menjauh dari kesibukan dan berbagai tuntutan sehari-hari.
Ketika perhatian tertuju pada tulisan di halaman, pikiran memiliki kesempatan untuk beristirahat dari aktivitas multitasking. Membaca cerita yang menarik juga dapat membawa seseorang masuk ke suasana berbeda sehingga membantu proses relaksasi.
Sebuah penelitian yang banyak dikutip dari University of Sussex pernah menemukan bahwa membaca selama beberapa menit dapat menurunkan tingkat stres secara signifikan. Meski demikian, dampaknya tentu dapat berbeda pada setiap orang.
7. Mendukung Daya Ingat dan Kemampuan Kognitif
Ketika membaca buku yang cukup panjang, seseorang perlu mengingat nama tokoh, informasi penting, alur cerita, hingga hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.
Proses mengingat dan menghubungkan informasi tersebut memberikan latihan bagi kemampuan kognitif.
Pengalaman membaca buku fisik juga melibatkan unsur visual dan sentuhan. Mengetahui posisi suatu informasi berdasarkan letaknya di halaman atau bagian buku dapat menjadi petunjuk tambahan ketika mencoba mengingat kembali isi bacaan.
Meski begitu, membaca buku tidak dapat dianggap sebagai cara tunggal untuk mencegah penyakit neurodegeneratif. Menjaga kesehatan otak tetap membutuhkan pola hidup secara menyeluruh.
8. Membentuk Kebiasaan Membaca Jangka Panjang
Buku fisik bagi sebagian orang bukan hanya media untuk memperoleh informasi, tetapi juga bagian dari rutinitas dan pengalaman pribadi.
Ada pembaca yang menikmati sensasi membalik halaman, membuat catatan, mengoleksi buku favorit, atau kembali membaca karya yang sama beberapa tahun kemudian.
Pengalaman tersebut dapat membuat aktivitas membaca terasa lebih personal dan menyenangkan. Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan membaca dapat membuka akses terhadap pengetahuan baru sekaligus memperluas imajinasi dan wawasan.
Pada akhirnya, baik buku fisik maupun perangkat digital sama-sama dapat digunakan untuk membaca dan belajar. Yang paling penting adalah memilih media yang membantu seseorang membaca dengan nyaman, memahami informasi, dan menjadikan membaca sebagai kebiasaan positif.