JawaPos.com – Banyak orang menganggap kebahagiaan akan datang ketika hidup sudah mencapai kondisi yang ideal. Padahal, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada keberhasilan, kegagalan, kekurangan, hingga berbagai hal yang berada di luar kendali.
Karena itu, merasa bahagia tidak selalu berarti memiliki kehidupan tanpa masalah. Salah satu fondasi yang dapat membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih tenang adalah kemampuan menerima dirinya sendiri, termasuk kelebihan maupun kekurangannya.
Penerimaan diri atau self-acceptance membuat seseorang tidak terus-menerus berperang dengan dirinya sendiri. Alih-alih memaksakan diri menjadi sempurna, seseorang dapat belajar memahami siapa dirinya dan menghargai proses yang sedang dijalani.
Dikutip dari Geediting, terdapat sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk membangun penerimaan diri sekaligus menciptakan kehidupan yang lebih damai dan bahagia.
Baca Juga: Lamine Yamal Terlihat Tidak Bahagia di Barcelona, Ada Apa?
1. Berdamai dengan Kekurangan
Tidak ada manusia yang sepenuhnya sempurna. Setiap orang memiliki kelemahan, kebiasaan, kesalahan, atau bagian dari dirinya yang mungkin tidak disukai.
Daripada terus berusaha menyembunyikan semua kekurangan tersebut, cobalah melihatnya sebagai bagian dari perjalanan hidup. Menerima kekurangan bukan berarti berhenti berkembang, melainkan menyadari bahwa seseorang tetap berharga meskipun masih memiliki hal-hal yang perlu diperbaiki.
Dengan cara pandang tersebut, tekanan untuk selalu tampil sempurna dapat perlahan berkurang.
2. Jadikan Masa Lalu sebagai Pelajaran
Kesalahan dan keputusan yang kurang tepat merupakan bagian dari pengalaman hidup. Namun, terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang sudah berlalu hanya akan membuat seseorang sulit menikmati kehidupan saat ini.
Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi pelajaran yang diperoleh darinya dapat digunakan untuk menentukan langkah berikutnya.
Daripada terjebak dalam penyesalan, cobalah memahami apa yang bisa dipelajari dari pengalaman tersebut. Kesalahan tidak harus menjadi identitas seseorang selamanya.
3. Kurangi Ketergantungan pada Pengakuan Orang Lain
Keinginan untuk mendapatkan apresiasi dari orang lain merupakan hal yang wajar. Namun, jika harga diri sepenuhnya ditentukan oleh pendapat orang lain, kebahagiaan akan mudah berubah mengikuti respons lingkungan.
Hal tersebut semakin terasa di tengah penggunaan media sosial. Jumlah tanda suka, komentar, atau pencapaian orang lain terkadang membuat seseorang tanpa sadar mengukur nilai dirinya sendiri.
Mulailah menentukan standar keberhasilan berdasarkan nilai dan tujuan pribadi. Penghargaan dari orang lain memang menyenangkan, tetapi rasa berharga sebaiknya tidak sepenuhnya bergantung pada hal tersebut.
4. Perlakukan Diri Sendiri dengan Lebih Lembut
Ketika seorang teman mengalami kegagalan, kita biasanya memberikan dukungan dan pengertian. Namun, sikap yang sama terkadang sulit diberikan kepada diri sendiri.
Padahal, berbicara kepada diri sendiri dengan lebih penuh kasih dapat membantu menghadapi kegagalan secara lebih sehat.
Saat melakukan kesalahan, hindari terus-menerus menghukum diri dengan kritik yang berlebihan. Akui kesalahan, ambil pelajarannya, kemudian beri kesempatan kepada diri sendiri untuk mencoba kembali.
5. Hargai Hal yang Membuat Anda Berbeda
Setiap orang memiliki kombinasi pengalaman, kemampuan, minat, dan cara berpikir yang berbeda. Perbedaan tersebut merupakan bagian yang membuat seseorang memiliki identitasnya sendiri.
Sayangnya, keinginan untuk diterima terkadang membuat seseorang berusaha mengikuti standar yang ditetapkan lingkungan.
Padahal, tidak ada keharusan untuk selalu menyerupai orang lain. Mengenali dan menghargai keunikan diri dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman menjadi dirinya sendiri.
6. Berhenti Menjadikan Hidup Orang Lain sebagai Tolok Ukur
Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain sering kali membuat pencapaian sendiri terlihat tidak berarti.
Ketika melihat seseorang sudah memiliki karier mapan, rumah, bisnis, atau kehidupan yang tampak sempurna, seseorang mungkin merasa dirinya tertinggal. Padahal, yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari perjalanan orang tersebut.
Setiap orang memiliki waktu dan kondisi yang berbeda. Karena itu, perbandingan yang lebih sehat adalah melihat perkembangan diri sendiri dari waktu ke waktu.
Tanyakan kepada diri sendiri apakah hari ini sudah menjadi pribadi yang sedikit lebih baik dibandingkan sebelumnya.
7. Biasakan Menghargai Hal-Hal Kecil
Rasa syukur dapat membantu mengubah perhatian dari sesuatu yang belum dimiliki menjadi hal-hal yang sudah ada dalam kehidupan.
Tidak perlu menunggu pencapaian besar untuk merasa bersyukur. Kesehatan, keluarga, teman, pekerjaan, kesempatan belajar, atau bahkan waktu untuk beristirahat dapat menjadi hal sederhana yang patut dihargai.
Salah satu cara yang dapat dicoba adalah mencatat beberapa hal positif yang terjadi setiap hari. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu melatih perhatian terhadap sisi baik kehidupan.
8. Pahami bahwa Menerima Diri Membutuhkan Waktu
Penerimaan diri bukan sesuatu yang selesai dalam satu malam. Ada kalanya seseorang kembali merasa tidak percaya diri, membandingkan diri dengan orang lain, atau meragukan kemampuannya.
Hal tersebut merupakan bagian dari proses. Yang penting bukan memastikan bahwa keraguan tidak pernah muncul, melainkan belajar menghadapi perasaan tersebut tanpa terus menyalahkan diri sendiri.
Semakin seseorang mampu memahami dirinya, menerima kekurangan, dan menghargai proses pertumbuhan, semakin besar pula peluang untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang.
Pada akhirnya, kebahagiaan tidak selalu berasal dari kehidupan yang sempurna. Terkadang, kebahagiaan justru tumbuh ketika seseorang berhenti menuntut dirinya menjadi orang lain dan mulai berdamai dengan dirinya sendiri.