← Beranda
Jangan Biarkan Stres Menguasai Diri, Lakukan 5 Cara Ini agar Mental Makin Tangguh
Rabbany WanadrianiSelasa, 1 September 2026 | 22.28 WIB
ilustrasi orang yang melakukan meditasi. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com – Kehidupan sehari-hari tidak selalu berjalan sesuai harapan. Tuntutan pekerjaan, persoalan pribadi, perubahan kondisi, hingga berbagai tekanan lainnya dapat menjadi sumber stres yang menguras energi fisik dan emosional.

Karena itu, kemampuan mengelola tekanan sekaligus menjaga ketahanan mental menjadi bagian penting dari kehidupan yang sehat. Mental yang tangguh bukan berarti seseorang tidak pernah merasa sedih, cemas, atau tertekan, melainkan mampu menghadapi berbagai situasi sulit dan bangkit kembali setelah melewatinya.

Membangun kekuatan mental juga membutuhkan proses. Selain menghadapi masalah, seseorang perlu membentuk kebiasaan yang membantu menjaga emosi tetap seimbang dan membuat diri lebih siap menghadapi tantangan.

Dilansir English Jagran, berikut lima cara yang dapat dilakukan untuk memperkuat mental sekaligus mengelola stres dengan lebih efektif.

Baca Juga: 3 Sifat Orang yang Pernah Kuliah di Luar Negeri Tangguh Secara Mental dan Emosional Menurut Psikolog

1. Biasakan Melihat Tantangan dari Sisi Positif

Cara seseorang memandang sebuah masalah dapat memengaruhi bagaimana ia menghadapinya. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah membangun growth mindset atau pola pikir berkembang.

Pola pikir ini berangkat dari keyakinan bahwa kemampuan dan pengetahuan masih dapat ditingkatkan melalui latihan, pengalaman, dan ketekunan.

Dengan cara pandang tersebut, kegagalan tidak selalu dianggap sebagai akhir dari perjalanan. Sebaliknya, pengalaman kurang menyenangkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki diri.

Cobalah menetapkan target yang realistis, mengambil pelajaran dari pengalaman, serta melihat hambatan sebagai bagian dari proses menuju perkembangan.

2. Luangkan Waktu untuk Mindfulness dan Meditasi

Mindfulness merupakan kebiasaan untuk memberikan perhatian penuh pada apa yang sedang terjadi saat ini, termasuk menyadari pikiran dan emosi tanpa buru-buru memberikan penilaian.

Latihan sederhana seperti meditasi atau mengatur pernapasan dapat menjadi cara untuk memberikan jeda ketika pikiran terasa penuh.

Anda tidak harus menyediakan waktu berjam-jam. Beberapa menit untuk duduk tenang, menarik napas secara perlahan, dan mengarahkan perhatian pada kondisi saat ini dapat menjadi bagian dari rutinitas.

Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang menjadi lebih sadar terhadap kondisi emosionalnya dan menghadapi tekanan dengan lebih tenang.

3. Jangan Mengabaikan Hubungan Sosial

Memiliki orang-orang yang dapat dipercaya merupakan salah satu sumber dukungan ketika menghadapi masa sulit.

Hubungan yang sehat dengan keluarga, sahabat, maupun rekan kerja dapat memberikan rasa diterima dan mengurangi perasaan menghadapi masalah seorang diri.

Karena itu, jangan hanya menghubungi orang lain ketika sedang membutuhkan bantuan. Luangkan waktu untuk menjaga hubungan yang bermakna, baik melalui percakapan sederhana maupun kegiatan bersama.

Lingkungan sosial yang suportif dapat menjadi tempat untuk berbagi cerita sekaligus mendapatkan perspektif berbeda ketika sedang menghadapi persoalan.

4. Jaga Kondisi Tubuh

Kesehatan fisik dan kondisi mental saling berkaitan. Ketika tubuh kurang bergerak, pola makan tidak teratur, atau waktu istirahat tidak mencukupi, seseorang dapat lebih mudah merasa lelah dan kesulitan menghadapi tekanan.

Aktivitas fisik secara rutin dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga suasana hati. Olahraga juga mendorong tubuh melepaskan endorfin yang berkaitan dengan perasaan positif.

Selain berolahraga, perhatikan pula pola makan dan kualitas tidur. Menjaga ketiganya secara seimbang dapat membantu tubuh tetap bugar sehingga lebih siap menghadapi berbagai tuntutan sehari-hari.

5. Bangun Kebiasaan Berbicara Positif kepada Diri Sendiri

Cara berbicara kepada diri sendiri juga dapat memengaruhi ketahanan mental. Terlalu sering menyalahkan atau merendahkan diri ketika mengalami kegagalan justru dapat membuat tekanan emosional semakin berat.

Sebaliknya, cobalah menerapkan self-compassion atau welas asih terhadap diri sendiri. Artinya, perlakukan diri dengan pengertian ketika mengalami kesulitan, sebagaimana Anda memperlakukan orang terdekat yang sedang menghadapi masalah.

Lengkapi kebiasaan tersebut dengan positive self-talk. Ketika muncul pikiran negatif, cobalah mengevaluasinya dan mengingat kembali kemampuan maupun hal-hal positif yang pernah berhasil dilakukan.

Kebiasaan tersebut bukan berarti mengabaikan masalah. Justru, berbicara kepada diri sendiri secara lebih sehat dapat membantu seseorang menghadapi kesulitan tanpa terus-menerus terjebak dalam kritik diri.

Pada akhirnya, membangun mental yang kuat bukanlah proses instan. Ketahanan mental terbentuk dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, mulai dari menjaga pola pikir, mengelola emosi, merawat tubuh, hingga mempertahankan hubungan sosial yang sehat.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho