← Beranda
4 Kebiasaan yang Membuat Orang dengan Ketahanan Mental dan Emosional Rendah Cepat Merasa Lemah
Vindi Rayinda AyudyaMinggu, 30 Agustus 2026 | 21.47 WIB
Ilustrasi orang lelah (magnific)

 

 

JawaPos.com - Kenali empat kebiasaan yang dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lemah secara mental dan emosional, mulai dari terlalu memikirkan pendapat orang hingga menghindari masalah.

Ketahanan mental dan emosional tidak selalu terlihat dari seberapa kuat seseorang menghadapi persoalan besar. 

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan tersebut justru sering tercermin dari cara seseorang menghadapi kritik, kegagalan, tekanan, ketidakpastian, dan berbagai situasi yang tidak berjalan sesuai harapan.

Orang dengan ketahanan mental dan emosional yang rendah bukan berarti lemah atau tidak mampu menghadapi kehidupan. 

Setiap orang dapat mengalami fase ketika dirinya merasa kewalahan. Namun, beberapa pola kebiasaan dapat membuat seseorang lebih mudah kehilangan kepercayaan diri, cepat menyerah, atau merasa tidak sanggup menghadapi tantangan.

Dirangkum dari laman YourTango, inilah empat kebiasaan yang dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lemah secara mental dan emosional.

Namun, pembahasan ini bukan diagnosis psikologis terhadap seseorang, melainkan gambaran mengenai pola perilaku yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan.

1. Terlalu Memikirkan Pendapat Orang Lain

Salah satu kebiasaan yang dapat menguras ketahanan emosional adalah terlalu bergantung pada penilaian orang lain.

Seseorang mungkin terus bertanya apakah dirinya sudah cukup baik, apakah orang lain menyukainya, atau apakah keputusan yang dibuat akan mendapatkan persetujuan. 

Akibatnya, perhatian lebih banyak digunakan untuk mengantisipasi reaksi orang lain daripada memahami kebutuhan diri sendiri.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat membuat kepercayaan diri menjadi rapuh. Kritik kecil pun dapat terasa seperti penolakan terhadap seluruh diri seseorang.

Padahal, tidak mungkin semua orang memiliki pendapat yang sama tentang kita. Akan selalu ada orang yang menyukai pilihan kita dan ada pula yang tidak menyukainya.

Membangun ketahanan emosional berarti belajar membedakan antara masukan yang memang berguna dan opini yang tidak perlu dijadikan ukuran harga diri.

Dengan begitu, seseorang tetap dapat menerima kritik tanpa membiarkan setiap komentar menentukan bagaimana ia memandang dirinya sendiri.

2. Selalu Menghindari Masalah yang Membuat Tidak Nyaman

Menghindari sesuatu yang terasa sulit memang dapat memberikan rasa lega untuk sementara. 

Namun, jika menjadi kebiasaan, penghindaran justru dapat membuat seseorang semakin takut menghadapi masalah.

Misalnya, seseorang terus menunda percakapan penting karena takut konflik. Ada pula yang menghindari tugas sulit karena khawatir hasilnya tidak sempurna.

Masalahnya, persoalan yang ditunda biasanya tidak benar-benar menghilang. Bahkan, kecemasan dapat semakin besar karena seseorang terus membayangkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.

Ketahanan mental berkembang ketika seseorang belajar menghadapi ketidaknyamanan secara bertahap. Tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus.

Memulai dari langkah kecil dapat membantu membangun rasa percaya bahwa sebuah masalah sebenarnya dapat dihadapi.

Keberanian bukan berarti tidak merasa takut. Keberanian muncul ketika seseorang tetap mengambil langkah meskipun rasa takut masih ada.

3. Terlalu Keras Mengkritik Diri Sendiri

Orang yang memiliki ketahanan emosional rendah terkadang memiliki suara batin yang sangat kritis.

Ketika melakukan kesalahan, mereka mungkin langsung menyimpulkan bahwa dirinya bodoh, gagal, tidak berbakat, atau tidak akan pernah berhasil.

Masalahnya bukan sekadar kesalahan yang terjadi, tetapi cara seseorang menafsirkan kesalahan tersebut.

Satu kegagalan dapat dianggap sebagai bukti bahwa seluruh dirinya tidak mampu. Padahal, kegagalan tertentu hanya menunjukkan bahwa strategi yang digunakan belum berhasil.

Belajar berbicara kepada diri sendiri dengan lebih realistis dapat membantu. Alih-alih mengatakan, “Aku memang tidak bisa,” seseorang dapat menggantinya dengan, “Cara ini belum berhasil, jadi aku perlu mencoba pendekatan lain.”

Self-compassion bukan berarti memaklumi semua kesalahan. Sebaliknya, sikap tersebut membantu seseorang mengevaluasi kegagalan tanpa menghancurkan harga dirinya sendiri.

4. Menganggap Kemunduran sebagai Akhir Segalanya

Kebiasaan lain yang dapat membuat seseorang cepat merasa lemah adalah melihat kemunduran sebagai sesuatu yang permanen.

Ketika rencana gagal, hubungan berakhir, pekerjaan tidak sesuai harapan, atau tujuan belum tercapai, seseorang mungkin langsung berpikir bahwa semuanya sudah berakhir.

Pola pikir seperti ini dapat membuat masalah sementara terasa seperti gambaran seluruh masa depan.

Padahal, kehidupan hampir selalu mengalami perubahan. Situasi yang terlihat sangat berat hari ini belum tentu memiliki kondisi yang sama beberapa bulan atau beberapa tahun mendatang.

Orang dengan ketahanan mental yang lebih baik bukan berarti tidak kecewa ketika menghadapi kegagalan. 

Mereka tetap dapat merasa sedih, marah, atau frustrasi, tetapi perlahan berusaha melihat apa yang masih bisa dilakukan setelah kemunduran tersebut.

Memisahkan antara “saya mengalami kegagalan” dan “saya adalah seorang yang gagal” merupakan langkah penting dalam membangun perspektif yang lebih sehat.

Ketahanan Mental Bisa Dilatih Secara Bertahap

Ketahanan mental dan emosional bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Kemampuan menghadapi tekanan dapat berkembang melalui pengalaman, kebiasaan, dukungan sosial, dan cara seseorang belajar memahami dirinya sendiri.

Empat kebiasaan di atas juga tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang memiliki ketahanan mental yang rendah. 

Hampir setiap orang dapat sesekali terlalu memikirkan pendapat orang lain, menghindari masalah, mengkritik diri sendiri, atau merasa hancur setelah mengalami kegagalan.

Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus berulang dan mulai menghambat kehidupan sehari-hari.

Daripada menuntut diri untuk selalu kuat, seseorang dapat mulai dengan tujuan yang lebih realistis: belajar menghadapi satu masalah pada satu waktu, menerima bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses, serta memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan pulih.

Pada akhirnya, menjadi kuat secara mental bukan berarti tidak pernah merasa lemah. 

Kekuatan justru terlihat dari kemampuan untuk mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja, kemudian perlahan menemukan cara untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan.

***
 
EDITOR: Novia Tri Astuti