← Beranda
Dari Mindfulness hingga Self-Talk, Ini 5 Cara Efektif Mengelola Stres dan Mental
Rabbany WanadrianiSabtu, 29 Agustus 2026 | 00.18 WIB
ilustrasi orang yang melakukan meditasi. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com - Tekanan pekerjaan, masalah pribadi, tuntutan sosial, hingga berbagai perubahan dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi sumber stres. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut bisa membuat seseorang merasa kewalahan dan sulit berpikir jernih.

Karena itu, memiliki ketahanan mental menjadi salah satu kemampuan penting dalam menjalani kehidupan. Mental yang kuat bukan berarti seseorang tidak pernah merasa sedih, takut, atau tertekan, melainkan mampu menghadapi emosi tersebut dan kembali menata diri ketika menghadapi kesulitan.

Membangun ketahanan mental juga dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana. Dengan latihan yang konsisten, seseorang dapat belajar mengelola tekanan, beradaptasi terhadap perubahan, serta menjaga sudut pandang yang lebih sehat.

Dilansir dari English Jagran, berikut lima cara yang dapat dilakukan untuk memperkuat mental sekaligus membantu mengelola stres secara lebih efektif.

Baca Juga: 5 Zodiak Paling Mudah Burn Out, Gampang Stres Ketika Menghadapi Tekanan Tinggi

1. Biasakan melihat masalah dari sisi yang lebih positif

Cara seseorang memandang sebuah persoalan dapat memengaruhi bagaimana ia menghadapi tekanan.

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah membangun growth mindset, yakni keyakinan bahwa kemampuan dan keterampilan masih dapat berkembang melalui proses belajar, usaha, dan ketekunan.

Dengan pola pikir tersebut, kegagalan tidak selalu dianggap sebagai akhir dari perjalanan. Kesalahan justru dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui apa yang perlu diperbaiki.

Cobalah menetapkan target yang realistis, mengambil pelajaran dari pengalaman, dan tidak terlalu cepat menganggap sebuah kemunduran sebagai kegagalan permanen.

2. Luangkan waktu untuk mindfulness dan meditasi

Mindfulness mengajarkan seseorang untuk menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini, termasuk pikiran dan emosi, tanpa buru-buru memberikan penilaian.

Praktik ini dapat dilakukan dengan cara sederhana. Misalnya, meluangkan beberapa menit untuk mengatur pernapasan, memperhatikan sensasi tubuh, atau sekadar berhenti sejenak dari aktivitas yang sedang dilakukan.

Meditasi yang dilakukan secara rutin juga dapat membantu seseorang menenangkan pikiran dan mengelola respons terhadap tekanan.

Tidak harus dalam waktu lama. Yang terpenting adalah melakukannya secara konsisten dan menjadikannya bagian dari rutinitas sehari-hari.

3. Jangan abaikan hubungan dengan orang lain

Memiliki orang-orang yang dapat dipercaya merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.

Berbicara dengan teman, keluarga, pasangan, atau rekan kerja yang suportif dapat membantu seseorang merasa tidak menghadapi masalah seorang diri.

Dukungan sosial juga dapat memberikan sudut pandang baru ketika seseorang sedang menghadapi persoalan yang terasa berat.

Karena itu, jangan hanya menghubungi orang lain ketika sedang membutuhkan bantuan. Luangkan waktu untuk menjaga hubungan, bertukar cerita, atau melakukan kegiatan bersama orang-orang yang memberikan energi positif.

4. Jaga kondisi tubuh

Kondisi fisik dan mental saling berkaitan. Ketika tubuh tidak mendapatkan perhatian yang cukup, kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan juga dapat ikut terpengaruh.

Aktivitas fisik secara rutin, misalnya berjalan kaki, berolahraga, atau melakukan aktivitas yang membuat tubuh bergerak, dapat membantu menjaga suasana hati.

Selain olahraga, pola makan seimbang dan tidur yang cukup juga penting. Tubuh yang mendapatkan waktu istirahat memadai akan lebih siap menghadapi aktivitas dan berbagai tuntutan sehari-hari.

Karena itu, menjaga kesehatan fisik sebaiknya tidak dianggap sebagai hal terpisah dari upaya memperkuat kesehatan mental.

5. Ubah cara berbicara kepada diri sendiri

Cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri ternyata dapat memengaruhi bagaimana ia menghadapi masalah.

Ketika melakukan kesalahan, misalnya, kebiasaan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan justru dapat membuat tekanan terasa semakin berat.

Sebaliknya, cobalah menggunakan self-talk yang lebih realistis dan penuh empati. Akui kesalahan yang terjadi, tetapi hindari memberikan label negatif kepada diri sendiri.

Welas asih terhadap diri sendiri bukan berarti mengabaikan kekurangan. Sikap ini lebih berkaitan dengan kemampuan memperlakukan diri secara manusiawi ketika sedang menghadapi kegagalan atau masa sulit.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho