← Beranda
Beda Generasi, Beda Cara Memaknai Kesedihan: Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z
Endah Primasari UtamiJumat, 28 Agustus 2026 | 02.52 WIB
Ilustrasi, makna kesedihan berbagai generasi. (Magnific)

 

 

JawaPos.com - Setiap generasi, baik itu Generasi Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z memiliki bahasa emosional yang berbeda.

Ada hal yang terasa sangat menyedihkan bagi Gen Z, tapi dianggap sepele oleh Generasi Baby Boomer.

Dilansir JawaPos.com dari yourtango pada Kamis (27/8), setiap orang dari berbagai generasi pasti pernah merasa sedih, namun alasan dibaliknya serta cara mengungkapkan kesedihan itu telah banyak berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ini perbedaannya.

Generasi Boomer

Mereka yang lahir tahun 1946 – 1964 beranggapan bahwa kesedihan sebaiknya hanya dirasakan untuk peristiwa kehilangan yang paling besar dan nyata dampaknya dalam hidup, misalnya kehilangan teman, anggota keluarga, mengalami masalah kesehatan serius, atau pensiun dari karier yang dicintai.

Hal ini bisa terjadi karena mereka tumbuh dalam budaya yang menjunjung tinggi sikap tegar dan ketangguhan sehingga terbiasa mengesampingkan emosi dan terus menjalani hidup.

Mereka tetap merasa sedih menghadapi berbagai kesulitan sehari-hari. Hanya saja, mereka tidak terbiasa melabeli setiap kekecewaan sebagai krisis emosional.

Mereka dikenal memiliki pola pikir yang senantiasa mensyukuri nikmat hidup.

Oleh sebab itu, mereka menempatkan perasaan sedih dalam perspektif yang tepat sebelum mengizinkan diri untuk mengungkapkannya.

Bagi mereka, rasa sedih itu tidak hanya muncul karena satu kejadian saat ini, melainkan luka, kenangan, pengalaman buruk, kekecewaan, dan berbagai hal berat yang pernah dilalui sebelumnya.

Jadi, saat merasa sangat sedih, Generasi Boomer cenderung memandangnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar suasana hati sesaat dan meluangkan waktu untuk merenung atau berbincang dengan orang-orang terkasih.

Generasi X (Gen X)


Mereka menolak membiarkan kesedihan menjadi hal yang mendominasi.

Orang-orang yang lahir tahun 1965 – 1980 dikenal memiliki kemandirian emosional.

Mereka tumbuh dengan belajar memecahkan masalah sendiri dan menghibur diri tanpa banyak mengeluh atau membuat keributan.

Oleh sebab itu, Gen X sering memandang kesedihan sebagai sesuatu yang perlu diakui, dihadapi, dan pada akhirnya dilalui.

Mereka cenderung memikul banyak beban tanpa menjadikannya sebagai drama besar.

Mereka sering merasa sedih akibat hubungan yang kandas, melihat orang tua yang kian menua, atau menghadapi tekanan finansial.

Tapi, mereka tidak selalu mengumbarnya ke orang lain.

Kadang kala sekadar berjalan kaki saja sudah cukup bagi mereka.

Generasi X berada lebih di tengah-tengah spektrum emosional daripada Generasi Baby Boomer.

Jadi, mereka secara umum lebih terbuka mengenai kesehatan mental.

Namun, tidak serta merta memamerkan setiap perasaanya seperti yang dilakukan generasi-generasi yang lebih muda.

Ini adalah pendekatan yang praktis dan sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka.

Generasi Milenial


Mereka meyakini bahwa kemunduran besar dan stres harian dapat memicu kesedihan yang nyata.

Mereka yang lahir tahun 1981 – 1996 memiliki hubungan yang unik dengan kesedihan.

Sebelum mencapai usia paruh baya, mereka telah melewati berbagai peristiwa yang digambarkan sebagai krisis 'sekali seumur hidup', misalnya resesi ekonomi, lonjakan biaya perumahan, atau beban utang pinjaman yang sangat berat.

Setelah menghadapi begitu banyak tekanan panjang, gangguan kecil saja bisa membuat mereka merasa kewalahan hingga ke titik batas kemampuan.

Generasi Milenial turut menormalisasi pembicaraan terbuka mengenai kesehatan mental sehingga mereka cenderung tidak lagi memandang kesedihan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan atau sekadar 'diatasi begitu saja'.

Terapi menjadi tidak lagi dianggap tabu, dan perawatan diri pun menjadi bagian penting dalam percakapan seputar kesehatan mental.

Bagi mereka, mengakui rasa sedih bukan tanda kelemahan, melinkan tanda bahwa mereka sangat memperhatikan kesejahteraan emosionalnya.

Generasi Z (Gen Z)


Gen Z yang lahir tahun 1997 – 2012 meyakini bahwa rasa sedih bisa muncul kapan saja dan dengan alasan apa pun.

Tumbuh dewasa di tengah rentetan notifikasi dan aliran informasi tiada henti membuat Generasi Z memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap emosi dirinya sendiri serta situasi sekitarnya.

Pengalaman-pengalaman bisa terasa menyedihkan.

Banyak dari generasi ini meyakini bahwa perasaan sedih itu penting, meski orang lain tidak menganggap penyebabnya serius.

Bagi generasi sebelumnya, keterbukaan dalam membicarakan emosi sama saja membagikan hal yang terlalu pribadi.

Tapi, Gen Z memandangnya sebagai bentuk komunikasi yang sehat.

Banyak dari mereka meyakini bahwa memendam emosi dapat membuatnya menumpuk hingga akhirnya menjadi lebih sulit dikendalikan.

Mereka juga memiliki bakat mengubah kesedihan menjadi komedi.

Jadi, jangan heran bila melihat mereka membuat video yang menertawakan diri sendiri atau mengunggah meme yang sangat spesifik dan jenaka sebagai cara untuk mengatasi situasi sulit.

Orang lain mungkin tidak memahaminya, namun bagi Generasi Z, cara ini efektif.

Mereka sadar bahwa hidup bisa terasa berat dan humor mempermudah mereka terhubung dengan orang-orang yang merasakan hal serupa.***

EDITOR: Novia Tri Astuti