← Beranda
8 Kebiasaan Pasangan Suami Istri yang Berisiko Tinggi dan Berujung pada Perceraian
Vindi Rayinda AyudyaSelasa, 25 Agustus 2026 | 02.10 WIB
Ilustrasi pasangan bertengkar (magnific)

 

 

JawaPos.com - Simak dan kenali delapan kebiasaan pasangan suami istri yang dapat meningkatkan risiko keretakan rumah tangga.

 Delapan kebiasaan ini, biasanya dimulai dari komunikasi buruk hingga hilangnya rasa saling menghargai.

Ya, pernikahan tidak hanya membutuhkan rasa cinta, tetapi juga komunikasi, kepercayaan, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus merawat hubungan. 

Banyak pasangan mungkin tetap menjalani rutinitas bersama, tetapi tanpa disadari mulai membangun kebiasaan yang perlahan menciptakan jarak emosional.

Kerusakan hubungan sering kali tidak muncul dalam satu malam. Masalah dapat berkembang dari pertengkaran kecil yang tidak pernah diselesaikan, komunikasi yang semakin buruk, sampai hilangnya rasa dihargai dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti dirangkum dari laman YourTango, delapan kebiasaan berikut bukan berarti secara otomatis menyebabkan perceraian. 

Namun, jika dilakukan terus-menerus tanpa ada upaya memperbaiki pola hubungan, kebiasaan tersebut dapat menjadi faktor yang memperburuk konflik rumah tangga.

Lantas kebiasaan apa yang berisiko memicu perceraian tersebut? Yuk simak!

1. Sering Meremehkan Pasangan

Meremehkan pasangan dapat muncul dalam bentuk candaan, sindiran, komentar negatif, atau kebiasaan membuat pasangan merasa tidak cukup baik.

Awalnya mungkin dianggap sebagai lelucon biasa. Namun, jika dilakukan berulang kali, pasangan dapat mulai kehilangan rasa aman dan kepercayaan diri dalam hubungan.

Ucapan seperti “kamu memang tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar” tidak hanya membahas sebuah kesalahan. Kalimat tersebut menyerang pribadi pasangan.

Konflik akan lebih sehat jika masalah diarahkan pada perilaku tertentu, bukan merendahkan karakter seseorang. 

Pasangan tetap dapat menyampaikan ketidaksetujuan tanpa membuat pihak lain merasa tidak berharga.

2. Menghindari Pembicaraan tentang Masalah

Tidak semua konflik harus diselesaikan ketika emosi sedang memuncak. Mengambil waktu untuk menenangkan diri justru dapat membantu percakapan menjadi lebih rasional.

Namun, terus-menerus menghindari masalah dapat membuat persoalan semakin menumpuk. Masalah yang tidak dibicarakan biasanya tidak otomatis menghilang.

Ketika salah satu pihak memilih diam setiap kali ada persoalan, pasangan mungkin merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan.

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat menciptakan jarak emosional. Rumah tangga terlihat tenang dari luar, tetapi sebenarnya menyimpan banyak persoalan yang belum terselesaikan.

3. Selalu Ingin Menang dalam Pertengkaran

Pernikahan bukan kompetisi. Ketika setiap konflik dianggap sebagai pertarungan untuk menentukan siapa yang paling benar, kebutuhan untuk mencari solusi dapat menghilang.

Pasangan yang selalu ingin menang mungkin lebih fokus mencari kesalahan daripada memahami perasaan dan sudut pandang pasangannya.

Padahal, dalam banyak konflik rumah tangga, kedua pihak dapat memiliki bagian yang perlu diperbaiki.

Mengubah tujuan dari “siapa yang benar?” menjadi “bagaimana kita menyelesaikan masalah ini?” dapat membuat komunikasi menjadi lebih konstruktif.

4. Mengabaikan Kebutuhan Emosional

Kebutuhan emosional sering kali dianggap kurang penting dibandingkan kebutuhan finansial atau pekerjaan rumah tangga. 

Padahal, merasa didengar, dihargai, diperhatikan, dan didukung merupakan bagian penting dalam hubungan.

Jika pasangan terus merasa diabaikan, ia dapat mulai menarik diri secara emosional.

Kondisi tersebut dapat terjadi meskipun pasangan masih tinggal bersama dan menjalani rutinitas yang sama. Secara fisik dekat, tetapi secara emosional semakin jauh.

Karena itu, perhatian sederhana seperti mendengarkan cerita pasangan, menanyakan kabar, memberikan apresiasi, atau menyediakan waktu berkualitas dapat membantu mempertahankan kedekatan.

5. Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain

Membandingkan pasangan dengan mantan, teman, saudara, atau pasangan orang lain dapat menciptakan rasa tidak aman.

Ucapan yang membandingkan mungkin dimaksudkan sebagai motivasi, tetapi justru dapat membuat pasangan merasa dirinya tidak pernah cukup.

Setiap rumah tangga memiliki kondisi yang berbeda. Membandingkan hubungan dengan kehidupan orang lain juga dapat menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis.

Jika terdapat sesuatu yang ingin diubah, lebih baik membicarakan kebutuhan secara langsung tanpa menjadikan orang lain sebagai standar untuk merendahkan pasangan.

6. Menggunakan Diam sebagai Hukuman

Diam untuk menenangkan diri berbeda dengan silent treatment yang sengaja digunakan untuk menghukum atau mengendalikan pasangan.

Memberikan waktu kepada diri sendiri setelah konflik dapat menjadi langkah sehat. 

Namun, jika seseorang sengaja mengabaikan pasangan selama berjam-jam atau berhari-hari tanpa memberikan penjelasan dengan tujuan membuatnya merasa bersalah, hubungan dapat menjadi semakin tidak sehat.

Komunikasi yang lebih baik adalah menjelaskan kebutuhan secara langsung, misalnya mengatakan bahwa dirinya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan akan kembali membicarakan masalah setelah emosi mereda.

Dengan demikian, pasangan tidak dibiarkan dalam ketidakpastian.

7. Tidak Lagi Menghargai Usaha Kecil

Ketika pernikahan telah berlangsung lama, pasangan terkadang mulai menganggap berbagai usaha sebagai sesuatu yang otomatis dilakukan.

Makanan yang disiapkan, pekerjaan rumah yang diselesaikan, perhatian kecil, atau dukungan terhadap pekerjaan pasangan tidak lagi mendapatkan apresiasi.

Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, salah satu pihak dapat merasa tidak dihargai.

Padahal, mempertahankan hubungan sering kali justru membutuhkan penghargaan terhadap hal-hal sederhana. 

Mengucapkan terima kasih dan mengakui usaha pasangan tidak membutuhkan biaya besar, tetapi dapat memberikan dampak emosional yang berarti.

8. Berhenti Menghabiskan Waktu Berkualitas Bersama

Kesibukan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga memang dapat membuat waktu bersama semakin terbatas. 

Namun, ketika pasangan berhenti menyediakan waktu untuk berinteraksi, hubungan dapat berubah menjadi sekadar rutinitas.

Mereka mungkin hanya berbicara mengenai pekerjaan rumah, anak, tagihan, atau jadwal harian tanpa lagi memiliki percakapan pribadi.

Quality time tidak harus berupa liburan mahal atau makan malam romantis. Berjalan-jalan, memasak bersama, menonton film, atau berbincang tanpa gangguan perangkat digital juga dapat membantu mempertahankan koneksi emosional.

Kemudian yang terpenting adalah adanya perhatian penuh terhadap pasangan.

Pernikahan Tidak Hancur Hanya karena Satu Kebiasaan

Delapan kebiasaan tersebut tidak dapat dijadikan kepastian bahwa sebuah rumah tangga akan berakhir dengan perceraian. 

Setiap hubungan memiliki persoalan, latar belakang, dan tingkat konflik yang berbeda.

Namun, jika kebiasaan seperti meremehkan, menghindari konflik, mengabaikan kebutuhan emosional, membandingkan pasangan, dan berhenti memberikan perhatian terjadi secara terus-menerus, kondisi tersebut layak menjadi bahan evaluasi.

Hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah mengalami konflik. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar ketika dua orang menjalani kehidupan bersama.

Yang lebih menentukan adalah bagaimana pasangan menghadapi masalah tersebut. 

Apakah keduanya bersedia mendengarkan, meminta maaf, bertanggung jawab, dan mencari solusi?

Pada akhirnya, mempertahankan pernikahan membutuhkan usaha dari kedua pihak. 

Jika masalah sudah terasa berat atau komunikasi sulit dilakukan tanpa konflik yang semakin besar, mencari bantuan dari konselor atau profesional yang kompeten juga dapat menjadi salah satu pilihan.

Menyadari kebiasaan yang merusak hubungan sejak dini memberi pasangan kesempatan untuk memperbaikinya sebelum jarak emosional menjadi semakin sulit dipulihkan.

***

 
EDITOR: Novia Tri Astuti