← Beranda
Ancam Populasi Manusia, Tren Ogah Menikah dan Punya Anak Jadi Sorotan Mendukbangga dan Baznas
Latu Ratri MubyarsahJumat, 21 Agustus 2026 | 18.24 WIB
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji bersama Ketua Baznas Sodik Mudjahid. (Humas Baznas)

 

JawaPos.com - Tren tidak mau menikah serta ogah punya anak, jadi sorotan. Pasalnya budaya tersebut dianggap tidak sesuai dengan nilai agama Islam, serta bisa mengancam kelangsungan hidup umat manusia.

Kecenderungan tidak mau menikah dan ogah punya anak tersebut, jadi sorotan dalam pertemuan Ketua Baznas Sodik Mudjahid dengan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji.

Kedua lembaga bersepakat meluncurkan Zakat Community Development (ZCD), untuk membangun keluarga yang kuat di Indonesia.

Baca Juga: Konsentrasi Mulai Buyar? 6 Cara Sederhana untuk Mengembalikan Fokus dalam Hitungan Menit

Dalam kesempatan itu Sodik mengatakan, tantangan keluarga di Indonesia memang sangat besar tak hanya dari sisi pengaruh ponsel dan ekonomi. Tetapi juga adanya gaya hidup modern yang sekarang terus berkembang.

"Bangsa Indonesia hadapi tantangan keluarga yang berat. Diantaranya fenomena tidak mau menikah. Atau menikah, tapi tidak ingin punya anak," jelas Sodik.

Pandangan atau fenomena itu harus ditangani dengan baik. Karena sesuai dengan ajaran agama, manusia mempunyai tugas untuk menjaga keturunan alias beranak-pinak.

Baca Juga: Jangan Gegabah! Ini 7 Situasi yang Membutuhkan Pertimbangan Rasional

Sodik mengatakan siap mengucurkan dana zakat untuk mendukung pembentukan keluarga yang kuat. Khususnya dari sisi ekonomi. Caranya dengan pemberian modal usaha dan lain.

"Jangan lupa kalau sudah jalan usahanya, bayar zakat. Minimal sedekah," tutur Sodik.

Sementara itu, Mendukbangga Wihaji menyoroti keberadaan ponsel atau HP yang sudah menjadi anggota keluarga baru di tengah masyarakat.

Dia mengatakan penggunaan ponsel berlebihan membawa dampak negatif.

Wihaji mengungkapkan beberapa dampak negatif dari ponsel atau HP. Di antaranya dia menyebut ada sekitar 34,9 persen remaja yang alami gangguan mental karena ponsel atau HP.

"Ada keluarga baru yang mempengaruhi pikiran kita. Yaitu HP," tandas Wihaji.

Baca Juga: Ada Hikmah di Balik Kejadian Tak Terduga, 5 Tanda Ini Konon Bukan Kebetulan

Dia menegaskan keberadaan HP dengan segala dampaknya, menjadi tantangan membangun keluarga yang kuat dan berkualitas. Khususnya untuk anak-anak atau remaja.

"Insya Allah kita akan carikan jalan keluar terbaik, sehingga keluarga di Indonesia menjadi kuat," ucap Wihaji.

Bagi Wihaji, keluarga adalah unit terkecil dari sebuah negara.

Baca Juga: Tak Cukup Hanya Keramas, Ini 6 Cara Merawat Kulit Kepala dari Ketombe

Ketika berbicara pembangunan negara, harus didukung dengan keluarga yang tangguh.

Selain melindungi keluarga dari pengaruh negatif ponsel, Kemendukbangga juga mempertahankan program pemberian modal usaha bagi kelompok keluarga yang bersedia ikut KB.

Program ini akan diperkuat lewat kolaborasi dengan Baznas.

Baca Juga: Kamu Punya Salah Satunya? 6 Hobi Unik Ini Ternyata Tanda IQ Tinggi dan Cuma Dinikmati Orang Kaya!

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah