← Beranda
Doomscrolling Berita Politik Bisa Bikin Kerja Makin Berat, Studi Ungkap Dampaknya
Mellyna Putri DiniarKamis, 20 Agustus 2026 | 03.35 WIB
Ilustrasi seseorang melakukan doomscrolling atau terus-menerus menggulir berita negatif di ponsel (Psypost)

 

JawaPos.com - Kebiasaan membaca berita politik saat waktu luang ternyata tidak selalu berhenti ketika seseorang menutup ponsel dan kembali bekerja. 

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa jenis informasi politik yang dikonsumsi di luar jam kerja dapat berkaitan dengan kondisi emosional dan perilaku seseorang saat berada di tempat kerja.

Berita politik yang dipenuhi konflik, krisis, atau kabar buruk dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan. Kondisi tersebut kemudian berhubungan dengan menurunnya keterlibatan dalam pekerjaan. 

Sebaliknya, konsumsi informasi politik yang dianggap positif berkaitan dengan meningkatnya harapan. Perasaan tersebut kemudian dikaitkan dengan keterlibatan kerja yang lebih tinggi serta kemauan yang lebih besar untuk membantu rekan yang sedang menghadapi beban pekerjaan.

Dilansir dari PsyPost, Rabu (19/8), temuan itu berasal dari penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior dan mengamati pekerja penuh waktu di Amerika Serikat selama sembilan minggu pada masa pemilihan pendahuluan presiden 2024.

Baca Juga: 8 Dampak Nyata Doomscrolling terhadap Kualitas Tidur dan Kesehatan Mental yang Jarang Disadari

1. Berita politik tidak berhenti di layar ponsel

Para peneliti menilai bahwa batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan ternyata tidak sepenuhnya tegas. Ketika seseorang menghabiskan waktu luangnya dengan mengikuti perkembangan politik yang membuat stres, emosi tersebut dapat terbawa hingga jam kerja.

Ian M. Hughes, asisten profesor di Texas A&M University, mengatakan gagasan penelitian ini muncul dari pengalamannya sendiri menghadapi arus berita politik yang terasa sulit dihindari. Ia bahkan pernah mendapati dirinya terus memikirkan berita politik yang dibaca di Twitter, yang kini bernama X, ketika sedang bekerja.

2. Doomscrolling berita negatif dikaitkan dengan kecemasan

Penelitian melibatkan 308 pekerja penuh waktu yang mengisi survei setiap pekan selama sembilan minggu. Secara keseluruhan, para peneliti memperoleh 2.772 laporan mingguan dari peserta yang mengikuti seluruh rangkaian penelitian.

Hasilnya menunjukkan bahwa pada pekan ketika peserta mengonsumsi lebih banyak informasi politik negatif dibandingkan kebiasaan mereka sendiri, tingkat kecemasan yang dilaporkan juga meningkat. Kecemasan tersebut kemudian dikaitkan dengan rendahnya keterlibatan dalam pekerjaan.

Baca Juga: Kenali Doomscrolling, Kebiasaan Membaca Kabar Buruk yang Bisa Picu Kecemasan

3. Dampaknya bukan hanya soal produktivitas

Kecemasan yang meningkat juga berkaitan dengan kecenderungan lebih besar untuk menyensor diri di tempat kerja. Dalam penelitian ini, perilaku tersebut merujuk pada upaya mengubah atau menahan penggunaan bahasa agar tidak dianggap menyinggung atau meminggirkan orang lain.

Dengan kata lain, dampak konsumsi berita politik tidak hanya terlihat dari apakah seseorang merasa malas bekerja. Kondisi emosional yang terbawa dari konsumsi media juga dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan profesionalnya

4. Berita positif justru menunjukkan pola berbeda

Konsumsi informasi politik positif menghasilkan pola yang berbeda. Peserta yang mengonsumsi lebih banyak berita positif dibandingkan kebiasaan mereka melaporkan tingkat harapan yang lebih tinggi.

Harapan tersebut kemudian dikaitkan dengan keterlibatan kerja yang lebih besar dan kemauan membantu rekan kerja yang sedang menghadapi beban pekerjaan berat. Menariknya, efek positif ini justru menjadi salah satu temuan yang paling kuat dalam penelitian.

5. Bukan berarti harus menghindari berita buruk

Para peneliti memperingatkan agar hasil penelitian tidak disalahartikan sebagai alasan untuk hanya mengonsumsi berita yang sesuai dengan pandangan pribadi. 

Menurut Hughes, tetap terinformasi mengenai politik membutuhkan kemampuan memahami berbagai perspektif, termasuk informasi yang tidak menyenangkan.

Penelitian ini juga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak karena sifatnya korelasional. Ada kemungkinan orang yang sejak awal merasa cemas atau penuh harapan justru lebih memilih jenis berita tertentu. 

Selain itu, penelitian menggunakan data yang dilaporkan sendiri dan memiliki keterbatasan pada karakteristik peserta yang bertahan hingga akhir penelitian.

Temuan ini menunjukkan bahwa apa yang dikonsumsi saat scrolling di luar jam kerja dapat berkaitan dengan bagaimana seseorang merasa dan bertindak ketika kembali bekerja. 

Masalahnya bukan sekadar terlalu banyak membaca berita politik, melainkan bagaimana seseorang memilih, memahami, dan merespons informasi tersebut. 

Karena itu, tetap mengikuti isu politik penting, tetapi kemampuan menyadari apakah sebuah konten benar-benar memberi informasi atau sekadar memancing keterlibatan menjadi sama pentingnya.

Baca Juga: Bahaya Doomscrolling: Kebiasaan Modern yang Perlahan Menguras Energi dan Kesehatan Mental Anda

EDITOR: Candra Mega Sari