← Beranda
Bukan Sekadar Bikin Bugar, Menurut Penelitian Lari Ternyata Bisa Membantu Otak Menghadapi Stres
Mellyna Putri DiniarRabu, 19 Agustus 2026 | 06.15 WIB
Ilustrasi orang-orang yang sedang berolahraga lari (Psypost)

 

JawaPos.com - Saat pikiran dipenuhi masalah, olahraga mungkin terasa seperti hal terakhir yang ingin dilakukan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa aktivitas fisik, termasuk lari, dapat membantu mengurangi beban psikologis dengan cara yang lebih kompleks daripada sekadar membuat tubuh bugar.

Studi tersebut menemukan bahwa olahraga dapat menurunkan stres yang dirasakan dan kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan hal negatif. Temuan ini memberikan gambaran tentang bagaimana aktivitas fisik dapat membantu memutus siklus stres dan pikiran negatif.

Penelitian ini menarik karena tidak hanya bertanya apakah olahraga baik untuk kesehatan mental, tetapi juga mencoba mencari tahu mengapa olahraga bisa memberikan manfaat tersebut. Para peneliti menguji apakah stres, pikiran negatif berulang, dan kualitas tidur menjadi perantara antara aktivitas fisik dan perubahan gejala kesehatan mental.

Dilansir dari PsyPost, Selasa (18/8), penelitian yang diterbitkan dalam Psychological Medicine tersebut merupakan analisis lanjutan dari uji coba ImPuls di Jerman. Penelitian melibatkan hampir 400 orang dewasa yang sebelumnya tidak aktif secara fisik dan memiliki gangguan seperti depresi, gangguan panik, PTSD, agorafobia, atau insomnia.

Baca Juga: Tak Selalu Menghindar, Studi Ungkap Mengapa Orang dengan Kecemasan Sosial Justru Mudah Meledak

1. Lari tidak hanya melatih tubuh

Program ImPuls menggabungkan pertemuan kelompok dengan 30 menit latihan aerobik intensitas sedang hingga tinggi berupa lari di luar ruangan, dua hingga tiga kali seminggu.

Sesi tersebut didampingi terapis olahraga selama empat minggu, kemudian peserta diminta melanjutkan olahraga secara mandiri selama lima bulan berikutnya. 

Tujuannya bukan sekadar meningkatkan kebugaran, tetapi membantu peserta membangun kebiasaan berolahraga. Setelah enam bulan, para peneliti kembali mengevaluasi kondisi mereka.

2. Stres yang dirasakan ikut menurun

Hasil penelitian menunjukkan peserta yang mengikuti program olahraga mengalami penurunan stres yang dirasakan dibandingkan kelompok yang hanya menerima perawatan seperti biasa.

Perbedaan tersebut masih terlihat pada pemeriksaan enam dan 12 bulan. Artinya, manfaat yang diamati tidak hanya muncul sesaat setelah peserta mulai berolahraga. 

Peneliti menduga latihan fisik dapat membantu tubuh menjadi lebih siap menghadapi respons stres.

Baca Juga: 8 Hal yang Ini Tanpa Disadari Bisa Jadi Pemicu Stres, Kenali Agar Tahu Cara Mengatasinya!

3. Pikiran negatif berulang juga berkurang

Temuan lain yang menonjol adalah berkurangnya repetitive negative thinking, yakni kecenderungan terjebak dalam pikiran negatif yang berulang-ulang. Kondisi seperti terus memikirkan masalah, kegagalan, atau kekhawatiran yang sama dapat membuat tekanan psikologis semakin sulit diputus. 

Dalam penelitian ini, penurunan pola berpikir tersebut berkaitan dengan berkurangnya tingkat keparahan gejala kesehatan mental. Efeknya bahkan tetap terlihat hingga 12 bulan.

4. Ternyata bukan karena tidur menjadi lebih baik

Para peneliti awalnya menduga olahraga juga akan memperbaiki kualitas tidur. Namun, hasil analisis tidak menemukan bahwa perubahan kualitas tidur menjadi perantara manfaat olahraga terhadap gejala psikologis. 

Ini penting karena menunjukkan bahwa manfaat mental dari olahraga dalam penelitian tersebut tidak dapat begitu saja dijelaskan dengan tidur yang lebih baik. 

Kelompok peserta juga memiliki kondisi yang beragam, termasuk PTSD dan gangguan kecemasan, yang dapat memengaruhi hasil terkait tidur.

5. Olahraga mungkin membantu memutus siklus stres

Analisis statistik menunjukkan penurunan stres yang dirasakan dan pikiran negatif berulang sepenuhnya memediasi pengaruh program olahraga terhadap tingkat keparahan gejala secara keseluruhan. 

Dengan kata lain, kedua faktor tersebut menjadi jalur utama yang terlihat dalam penelitian untuk menjelaskan manfaat olahraga. 

Para peneliti mengaitkannya dengan gagasan bahwa latihan fisik memberikan tubuh paparan terhadap respons stres yang aman, sehingga kemampuan menghadapi tekanan dapat terlatih. Aktivitas fisik juga dapat mengalihkan perhatian dari pikiran yang terus berputar.

Penelitian ini menunjukkan bahwa manfaat olahraga bagi kesehatan mental mungkin bukan sekadar persoalan "keluar keringat." Mengurangi stres yang dirasakan dan memutus pola pikiran negatif berulang tampaknya menjadi bagian penting dari hubungan antara olahraga dan membaiknya gejala psikologis. 

Namun, penelitian tersebut merupakan analisis sekunder dan sebagian besar pengukuran menggunakan laporan peserta, sehingga hasilnya belum berarti lari dapat menggantikan penanganan profesional.

Baca Juga: Merasa Stres atau Cemas? Mulailah Konsumsi 5 Makanan Ini untuk Mengatasinya

EDITOR: Candra Mega Sari