← Beranda
9 Frasa yang Sering Digunakan oleh Orang-Orang dengan Pemikiran Kritis dalam Kehidupan Sehari-hari
Vindi Rayinda AyudyaRabu, 19 Agustus 2026 | 02.44 WIB
Ilustrasi orang dengan pemikiran kritis (magnific)

 

 

JawaPos.com - Kemampuan berpikir kritis tidak selalu terlihat dari seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu. 

Justru, cara seseorang mengajukan pertanyaan, menilai informasi, mempertimbangkan sudut pandang lain, hingga menahan diri untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dapat menjadi gambaran dari pola pikirnya.

Orang dengan pemikiran kritis biasanya tidak mudah menerima sebuah pernyataan hanya karena terdengar meyakinkan. 

Mereka cenderung mencari konteks, memeriksa bukti, mempertimbangkan kemungkinan lain, dan menyadari bahwa sebuah persoalan terkadang tidak sesederhana benar atau salah.

Seperti dirangkum dari laman YourTango, frasa-frasa berikut dapat menggambarkan kebiasaan komunikasi yang sering muncul pada orang yang terbiasa berpikir secara kritis.

Yuk, kenali 9 frasa yang sering digunakan orang dengan pemikiran kritis dalam kehidupan sehari-hari. 

Bukan sekadar pintar berargumen, mereka terbiasa menganalisis informasi sebelum mengambil kesimpulan

1. “Apa buktinya?”

Salah satu ciri utama pemikiran kritis adalah keinginan untuk mengetahui dasar dari sebuah klaim. Ketika mendengar informasi baru, orang yang berpikir kritis tidak langsung mempercayainya hanya karena disampaikan dengan penuh keyakinan.

Pertanyaan sederhana seperti “Apa buktinya?” menunjukkan bahwa seseorang ingin memisahkan fakta dari opini, asumsi, atau informasi yang belum terverifikasi.

Mereka biasanya tidak bermaksud menyerang lawan bicara. Sebaliknya, pertanyaan tersebut digunakan untuk memahami seberapa kuat sebuah pernyataan dapat dipertanggungjawabkan.

2. “Dari mana informasi itu berasal?”

Sumber informasi sangat menentukan bagaimana sebuah pernyataan seharusnya dinilai. Orang dengan pemikiran kritis memahami bahwa informasi yang beredar belum tentu memiliki tingkat kredibilitas yang sama.

Karena itu, mereka sering mempertanyakan asal sebuah informasi. Apakah berasal dari penelitian, pengalaman pribadi, pendapat ahli, media, atau sekadar unggahan media sosial?

Kebiasaan memeriksa sumber membantu seseorang menghindari kesimpulan berdasarkan informasi yang dipotong dari konteks atau tidak memiliki dasar yang jelas.

3. “Apakah ada sudut pandang lain?”

Orang yang berpikir kritis tidak selalu menganggap sudut pandangnya sebagai satu-satunya kebenaran. Mereka memahami bahwa persoalan kompleks dapat dilihat dari berbagai perspektif.

Pertanyaan ini menunjukkan keterbukaan terhadap kemungkinan bahwa informasi yang dimiliki belum lengkap. Dengan mencari sudut pandang lain, seseorang dapat menemukan faktor yang sebelumnya tidak diperhitungkan.

Kemampuan tersebut juga membuat diskusi menjadi lebih produktif karena tujuannya bukan sekadar memenangkan perdebatan, melainkan mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.

4. “Bagaimana kalau asumsi kita salah?”

Kesediaan mempertanyakan asumsi sendiri merupakan salah satu bentuk pemikiran kritis yang penting. Banyak orang mampu mencari kesalahan dalam argumen orang lain, tetapi tidak semua bersedia menguji keyakinannya sendiri.

Orang dengan pola pikir kritis justru terbiasa mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya keliru. Mereka tidak menganggap perubahan pendapat sebagai kekalahan.

Jika muncul bukti baru yang lebih kuat, mereka bersedia menyesuaikan kesimpulan. Sikap tersebut menunjukkan fleksibilitas intelektual sekaligus kemampuan untuk belajar.

5. “Apa yang sebenarnya kita ketahui?”

Tidak semua hal yang terdengar benar memiliki bukti yang cukup. Karena itu, orang yang berpikir kritis sering membedakan antara sesuatu yang diketahui, sesuatu yang diduga, dan sesuatu yang belum diketahui.

Pertanyaan ini membantu memperjelas batas pengetahuan dalam sebuah pembahasan. Dengan demikian, seseorang tidak mencampurkan fakta dengan interpretasi pribadi.

Kebiasaan tersebut sangat berguna ketika menghadapi informasi yang kompleks, terutama ketika banyak klaim beredar tetapi bukti yang tersedia masih terbatas.

6. “Apa kemungkinan penjelasan lainnya?”

Satu kejadian tidak selalu mempunyai satu penyebab. Orang dengan pemikiran kritis biasanya berusaha mempertimbangkan beberapa kemungkinan sebelum menentukan kesimpulan.

Misalnya, ketika seseorang terlambat membalas pesan, mereka tidak langsung menganggap orang tersebut sengaja mengabaikannya. Bisa saja terdapat berbagai faktor lain yang tidak diketahui.

Pola berpikir seperti ini membantu seseorang menghindari jumping to conclusions, yaitu kecenderungan mengambil kesimpulan terlalu cepat berdasarkan informasi yang terbatas.

7. “Apa yang akan mengubah pikiran kita?”

Frasa ini menunjukkan bahwa seseorang tidak menganggap keyakinannya sebagai sesuatu yang mutlak. Mereka menyadari bahwa pendapat dapat berubah ketika muncul bukti yang lebih kuat.

Orang dengan pemikiran kritis biasanya memiliki kriteria tertentu mengenai bukti atau informasi apa yang dapat membuat mereka mengevaluasi kembali sebuah kesimpulan.

Sikap tersebut berbeda dengan keras kepala. Berpegang pada pendapat tanpa mempertimbangkan bukti baru bukanlah indikator pemikiran kritis.

8. “Kita perlu melihat konteksnya.”

Sebuah angka, kutipan, atau pernyataan dapat memiliki arti berbeda ketika dilepaskan dari konteks. Orang yang terbiasa berpikir kritis memahami bahwa informasi tidak selalu bisa dinilai secara terpisah.

Mereka akan mencoba melihat latar belakang, kondisi, waktu, tujuan, dan informasi lain yang berkaitan sebelum mengambil kesimpulan.

Kebiasaan melihat konteks juga membantu seseorang menghindari penilaian yang terlalu sederhana terhadap persoalan yang sebenarnya memiliki banyak faktor.

9. “Saya belum cukup tahu untuk menyimpulkan.”

Mungkin terdengar sederhana, tetapi kemampuan mengatakan “saya belum tahu” justru membutuhkan kejujuran intelektual. Orang dengan pemikiran kritis tidak merasa harus selalu memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan.

Mereka mampu menunda kesimpulan ketika informasi yang tersedia belum mencukupi. Bagi mereka, ketidakpastian bukan sesuatu yang harus ditutupi dengan jawaban yang terdengar meyakinkan.

Sikap ini juga membuat seseorang lebih terbuka untuk mencari informasi tambahan sebelum menentukan keputusan.

Pemikiran Kritis Bukan Sekadar Suka Berdebat

Pada akhirnya, berpikir kritis bukan berarti selalu mempertanyakan atau membantah perkataan orang lain. Inti dari pemikiran kritis adalah kemampuan mengevaluasi informasi secara rasional, mempertimbangkan bukti, mengenali asumsi, memahami konteks, serta bersedia mengoreksi kesimpulan ketika ditemukan fakta baru.

Sembilan frasa di atas dapat menjadi gambaran sederhana mengenai bagaimana orang dengan pola pikir kritis menjalani percakapan. Mereka tidak terburu-buru percaya, tetapi juga tidak otomatis menolak sebuah informasi.

Yang paling penting, pemikiran kritis membuat seseorang mampu berada di tengah antara percaya secara membabi buta dan skeptis secara berlebihan. Mereka mencari alasan, bukti, dan konteks sebelum menentukan apa yang layak dipercaya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih matang, menghindari informasi menyesatkan, dan membangun percakapan yang lebih berkualitas.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti