← Beranda
Yakin AI Baik untuk Lingkungan? Kenali Dampak Buruk dan Cara Mengatasinya!
Alberta Dionny NatanuelSenin, 17 Agustus 2026 | 22.03 WIB
Foto tangan robot memegang bunga kecil (Pexels)

 

JawaPos.com - AI atau Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), adalah sebuah sistem robot yang diciptakan dengan kecerdasan cukup untuk melaksanakan tugasnya. AI dibuat untuk mempermudah, bahkan menggantikan, pekerjaan manusia dalam berbagai hal. 

Karena tugasnya, kita dapat menggunakan AI untuk mencari suatu hal di internet lebih cepat, menciptakan berbagai kreasi, menjawab banyak pertanyaan, dan lain-lain. 

Tapi, untuk mencapai kemewahan tersebut, tentunya ada beberapa hal yang dikorbankan oleh para programernya. Salah satunya adalah lingkungan sekitar. 

Baca Juga: Meta Paksa Ribuan Karyawan Pindah ke Divisi AI, Tanda Baru Perlombaan Kecerdasan Buatan Silicon Valley

Pembangunan yang Menghancurkan

Dilansir dari Global Witness, dengan terciptanya dan meningkatnya penggunaan AI oleh masyarakat dunia, bertambah pula energi yang dibutuhkan. 

Banyak perusahaan besar mulai mendirikan berbagai fasilitas pusat data. Pembangunan gedung-gedung ini tentunya disetujui dan diizinkan oleh pemerintah setempat untuk merangkul perkembangan AI. Akan tetapi, ternyata pembangunan dan penciptaan energi untuk AI ini merusak lingkungan. 

Meningkatnya kebutuhan energi, meningkat pula penggunaan bahan bakar fosil yang menciptakan polusi serta muncul efek rumah kaca. 

Perusahaan-perusahaan teknologi besar mempromosikan AI sebagai solusi keberlanjutan, akan tetapi mereka justru bekerja sama dengan industri bahan bakar fosil untuk perangkat digital mereka.

Dilansir dari UN Environment Programme, pusat-pusat data ini menggunakan komputer skala besar. 

Untuk menciptakan 2kg komputer dibutuhkan sebanyak 800kg bahan mentah. Terutama microchip yang digunakan untuk AI membutuhkan bahan langka. 

Pencemaran Air

Dilansir dari MIT News, sebuah pusat data adalah bangunan yang menampung infrastruktur komputasi, seperti server, perangkat penyimpanan data, dan peralatan jaringan dengan suhu terkendali. 

Salah satu contoh nyata adalah perusahaan Amazon yang memiliki lebih dari 100 pusat data di seluruh dunia. Dan dalam satu pusat memiliki sekitar 50.000 server yang digunakan oleh perusahaan. 

Walaupun pusat-pusat data ini sudah ada sejak tahun 1940-an, dengan terciptanya dan meningkatnya kebutuhan AI, pembangunan pusat data ini makin bertambah pula. Selain itu, pusat data AI dapat memakan 7-8 kali tenaga dari komputasi biasa. 

Selain kebutuhan listrik, air juga dibutuhkan dalam jumlah besar untuk mendinginkan perangkat keras yang digunakan dalam pelatihan, penerapan, dan penyempurnaan model AI generatif. 

Akibatnya, penggunaan air ini membebani pasokan air daerah bahkan mengganggu ekosistem setempat.

Tanggapan Negara

Lebih dari 190 negara telah mengadopsi berbagai cara serta rekomendasi dalam penggunaan AI yang etis. 

Uni Eropa dan Amerika Serikat telah memperkenalkan legislasi untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan akibat AI. Namun, undang-undang ini belum dapat membantu banyak. 

Terutama karena banyak negara dan pemerintahan berlomba-lomba untuk mengembang strategi AI nasional mereka. Sayangnya sedikit sekali pembahasan akibatnya terhadap lingkungan. 

Tips dan Saran

UNEP merekomendasikan lima hal untuk mengendalikan dampak lingkungan dari AI:

  1. Negara-negara dapat menetapkan prosedur standar untuk mengukur dampak lingkungan dari AI.
  2. Pemerintahan perlu menyusun peraturan yang mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan dampak lingkungan dari produk dan layanan berbasis AI.
  3. Perusahaan teknologi dapat membuat algoritma AI menjadi lebih efisien guna mengurangi kebutuhan energi. 
  4. Negara-negara dapat mendorong perusahaan untuk menjadikan pusat data mereka lebih ramah lingkungan.
  5. Negara-negara dapat mengintegrasikan kebijakan terkait AI ke dalam peraturan lingkungan hidup yang lebih luas. 

Baca Juga: Komdigi dan Indosat Luncurkan Sahabat-AI, Platform Kecerdasan Buatan Lokal Berbasis Aplikasi untuk Publik

EDITOR: Candra Mega Sari