← Beranda
7 Pelajaran Pahit Masa Kecil Penyebab Rasa Malu Berlebihan saat Dewasa Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalMinggu, 16 Agustus 2026 | 19.23 WIB
Pelajaran pahit masa kecil penyebab rasa malu berlebihan saat dewasa menurut psikologi. (Magnific)

 

 

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa rasa tidak percaya diri sering kali berakar dari pengalaman masa kecil yang menyakitkan.

Sebagian orang tumbuh dengan keyakinan keliru tentang dirinya akibat pelajaran keras yang diterima sejak usia dini.

Keyakinan tersebut kemudian membuat mereka terus-menerus merasa malu dalam berbagai situasi sosial di kesehariannya.

Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (16/8), berikut tujuh pelajaran pahit masa kecil yang biasa menjadi penyebab rasa malu berlebihan saat seseorang dewasa.

1. Diajarkan bahwa ada yang salah dengan dirinya

Seseorang yang selalu merasa malu biasanya tidak memiliki kepercayaan diri yang kuat terhadap dirinya sendiri.

Mengubah perilaku demi terlihat sesuai standar tertentu jarang berhasil membuat seseorang benar-benar merasa lebih percaya diri.

Anak yang dibesarkan untuk mudah merasa malu diajarkan bahwa perilakunya dianggap berbeda dari orang kebanyakan.

Teguran atas sifat yang terlalu berisik atau energik menciptakan rasa tidak aman yang mendalam pada dirinya.

Rasa tidak aman tersebut membentuk keyakinan bahwa ada sesuatu yang secara mendasar salah dengan dirinya.

2. Dianggap terlalu emosional

Emosi yang sensitif sering menjadi salah satu penyebab utama seseorang mudah merasa malu terhadap dirinya.

Mereka mudah merasa sedih meski kehidupan sedang berjalan baik, hanya karena melihat kesulitan orang lain.

Banyak orang dengan sifat ini dulu dianggap dramatis, padahal sebenarnya menunjukkan tanda empati yang kuat.

Namun mereka meyakini bahwa dirinya merasakan sesuatu secara berlebihan sehingga mudah merasa malu akan hal itu.

Keyakinan ini akhirnya membuat mereka enggan menunjukkan perasaan sensitif yang sebenarnya wajar dimiliki manusia.

3. Diajarkan bahwa lebih baik diam

Anak yang sering diminta diam ketika berbicara cenderung menginternalisasi pesan tersebut hingga dewasa nanti.

Mereka mulai percaya bahwa dirinya terlalu banyak bicara dan membuat orang lain merasa bosan mendengarkannya.

Keyakinan ini membuat mereka merasa lebih baik diam meski berada dalam situasi santai bersama teman.

Sebagian anak juga merasa perlu diam karena diejek saat menyampaikan pendapat atau dianggap tidak lucu.

Pengalaman ini membuat mereka lebih memilih diam demi menghindari ejekan yang pernah dialami sebelumnya.

4. Merasa hanya layak menerima kasih sayang bersyarat

Sebagian orang percaya dirinya memalukan karena tidak menerima cinta tanpa syarat yang seharusnya didapat semasa kecil.

Orang tua mereka mungkin sering mengeluh anaknya terlalu membutuhkan perhatian dibanding bersikap baik secara konsisten.

Anak yang dibesarkan dalam lingkungan seperti ini tumbuh dengan pengalaman kasih sayang yang bersyarat.

Kondisi ini mengajarkan bahwa mereka hanya pantas diperhatikan apabila berperilaku sesuai keinginan orang tuanya.

Keyakinan ini membuat mereka terus mencari validasi dengan mengorbankan kebutuhan emosional dirinya sendiri.

5. Merasa harus menyelesaikan masalah sendirian

Anak yang diajarkan untuk merasa malu biasanya tumbuh tanpa kepercayaan penuh terhadap orang tuanya sendiri.

Orang tua mereka mungkin terlalu menekankan kemandirian atau justru sering tidak hadir saat dibutuhkan.

Kondisi ini membuat anak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya memiliki terlalu banyak masalah untuk diselesaikan.

Mereka merasa menjadi beban ketika meminta saran dari teman terdekat dalam menghadapi kesulitan hidup.

Keyakinan ini akhirnya membuat mereka enggan menerima nasihat berharga yang sebenarnya dapat membantu dirinya.

6. Terbiasa dengan kebutuhannya yang diabaikan orang lain

Anak yang kebutuhannya sering diabaikan orang tua cenderung menerima perlakuan buruk serupa dari orang lain.

Mereka mungkin merasa terluka, namun tidak sepenuhnya menyalahkan orang tersebut karena telah terbiasa diabaikan.

Kebiasaan ini membuat mereka meremehkan kebutuhannya sendiri karena sudah lama merasa malu untuk memintanya.

Ketika merasa terlalu banyak menuntut, mereka mulai mengabaikan kebutuhannya sendiri secara perlahan namun konsisten.

Kebiasaan ini dapat berdampak buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental mereka di kemudian hari.

7. Merasa harus mengecilkan diri demi orang lain

Orang yang selalu merasa malu biasanya percaya bahwa dirinya mengambil terlalu banyak ruang bagi orang lain.

Mereka merasa menghabiskan terlalu banyak waktu atau energi emosional orang lain meski teman tidak merasakan hal serupa.

Rasa tidak aman ini sering muncul lewat bahasa tubuh yang memengaruhi cara mereka bergerak sehari-hari.

Ketika merasa bersemangat dan mengambil banyak ruang, mereka menjadi gugup dan berusaha mengecilkan diri kembali.

Sikap merunduk atau menyilangkan tangan menjadi cara mereka menghindari perhatian dan kritik dari orang lain.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti