JawaPos.com – Protein merupakan salah satu zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh. Nutrisi ini berperan dalam pembentukan dan perbaikan jaringan, termasuk mendukung pemulihan otot setelah aktivitas fisik.
Namun, bukan berarti semakin banyak protein yang dikonsumsi akan semakin baik. Kebutuhan protein setiap orang berbeda-beda, bergantung pada usia, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, serta tujuan masing-masing.
Masalah dapat muncul ketika seseorang mengonsumsi protein secara berlebihan secara terus-menerus, terlebih jika pola makan tersebut membuat asupan serat, buah, sayuran, dan sumber nutrisi lainnya menjadi berkurang.
Menurut Cleveland Clinic, konsumsi protein berlebihan dapat berkaitan dengan sejumlah keluhan, seperti bau mulut, dehidrasi, gangguan pencernaan, kelebihan kalori, hingga masalah pada ginjal, terutama pada orang yang sudah memiliki gangguan ginjal.
Baca Juga: Resep Oseng Tahu Telur Kucai, Lauk Sederhana yang Kaya Protein
Berikut enam dampak yang perlu diperhatikan.
1. Dapat Membebani Ginjal
Protein yang dikonsumsi akan diolah tubuh dan menghasilkan sejumlah produk sisa yang kemudian harus disaring oleh ginjal.
Pada orang dengan fungsi ginjal yang sehat, peningkatan asupan protein dalam jumlah tertentu umumnya masih dapat ditoleransi. Namun, konsumsi yang berlebihan dapat meningkatkan beban kerja ginjal, sementara risikonya menjadi lebih penting pada orang yang sudah memiliki penyakit ginjal.
Karena itu, penderita penyakit ginjal sebaiknya tidak sembarangan menjalani diet tinggi protein tanpa mendapatkan arahan dari dokter atau ahli gizi.
2. Lebih Mudah Mengalami Dehidrasi
Asupan protein yang tinggi dapat meningkatkan kebutuhan tubuh untuk membuang produk sisa metabolisme melalui ginjal.
Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap kebutuhan cairan yang lebih tinggi. Cleveland Clinic juga mencatat dehidrasi sebagai salah satu efek yang dapat muncul ketika seseorang mengonsumsi protein secara berlebihan.
Menjaga kecukupan cairan tetap penting, terutama bagi orang yang aktif berolahraga atau banyak berkeringat. Namun, kebutuhan air setiap orang berbeda dan tidak selalu harus dipenuhi dengan jumlah yang sama.
3. Menyebabkan Bau Mulut
Bau mulut atau keto breath dapat muncul ketika pola makan tinggi protein sekaligus sangat rendah karbohidrat menyebabkan tubuh memasuki kondisi ketosis.
Dalam keadaan tersebut, tubuh lebih banyak menggunakan lemak sebagai sumber energi dan menghasilkan senyawa keton yang dapat memengaruhi aroma napas.
Keluhan ini tidak selalu berarti seseorang mengalami masalah kesehatan serius. Menjaga kebersihan mulut dan mencukupi kebutuhan cairan dapat membantu, tetapi penyebab bau mulut yang menetap sebaiknya diperiksa karena tidak selalu berkaitan dengan pola makan.
4. Bisa Meningkatkan Risiko jika Sumber Proteinnya Kurang Sehat
Yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah protein, tetapi juga dari mana protein tersebut berasal.
Pola makan tinggi protein yang banyak mengandalkan daging merah berlemak atau daging olahan dapat sekaligus meningkatkan asupan lemak jenuh dan makanan ultra-proses. Pola makan dengan kualitas buruk diketahui berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi.
American Heart Association menganjurkan lebih banyak memilih sumber protein yang sehat, seperti kacang-kacangan, polong-polongan, kedelai, ikan, serta produk susu rendah lemak, dan membatasi daging olahan.
Jadi, meningkatkan protein tidak berarti harus memperbanyak daging merah atau makanan olahan.
5. Asupan Nutrisi Lain Bisa Berkurang
Terlalu fokus pada protein dapat membuat seseorang mengabaikan kelompok makanan lainnya.
Misalnya, pola makan yang dipenuhi daging, telur, atau suplemen protein tetapi minim sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian dapat membuat asupan serat serta sejumlah vitamin dan mineral menjadi kurang optimal.
Padahal, pola makan sehat sebaiknya tetap beragam dan kaya serat. Pedoman American Heart Association menekankan pentingnya buah, sayuran, biji-bijian utuh, serta sumber protein yang sehat dalam pola makan seimbang.
6. Memicu Gangguan Pencernaan
Diet tinggi protein, terutama jika rendah serat, dapat menyebabkan berbagai masalah pada saluran pencernaan.
Keluhannya dapat berupa sembelit, kembung, diare, atau rasa tidak nyaman pada perut. Risiko tersebut dapat semakin terasa apabila sumber protein yang dominan adalah daging dan konsumsi sayur serta buah sangat terbatas.
Karena itu, pola makan tinggi protein sebaiknya tetap disertai sumber serat seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian.