JawaPos.com – Psikologi kurang empati pada suami sering tercermin lewat kalimat menyakitkan yang diucapkan kepada istri dalam keseharian.
Kurangnya rasa empati dapat merusak hubungan meski terjadi dalam momen-momen sederhana kehidupan sehari-hari pasangan.
Suami dengan sikap semacam ini cenderung tidak menghargai perasaan istrinya dan justru melontarkan ucapan yang menyakitkan.
Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (11/8), berikut sepuluh kalimat psikologi kurang empati yang biasa diucapkan suami kepada istrinya secara berulang.
1. Menyatakan tidak paham alasan istri kesal
Pasangan yang baik biasanya menciptakan ruang aman agar perasaan bisa disampaikan secara terbuka bersama.
Namun suami yang kurang empati justru mengabaikan dan meremehkan perasaan istrinya meski dirinya bersalah.
Ucapan semacam ini menjadi bentuk penyangkalan yang membuat istri merasa perasaannya tidak dianggap penting.
2. Menolak membicarakan masalah pada waktu yang tepat
Suami tanpa empati biasanya menuntut perhatian penuh ketika dirinya membutuhkan sesuatu dari pasangannya.
Namun ketika istri yang membutuhkan perhatian, ia justru menghindar dengan alasan tidak punya waktu.
Sikap ini menunjukkan bahwa kenyamanan pribadi selalu diutamakan dibanding kebutuhan emosional pasangannya sendiri.
3. Melimpahkan kesalahan sepenuhnya kepada istri
Melempar kesalahan kepada pasangan menjadi cara suami tanpa empati menghindari permintaan maaf yang seharusnya diucapkan.
Perasaan terluka istri dianggap masalah pribadi, meski penyebabnya berasal dari kesalahan suami sendiri.
Sikap ini secara perlahan mendorong istri menjauh sekaligus menekan kebutuhan untuk mengekspresikan perasaannya sendiri.
4. Menganggap ucapan menyakitkan hanya sekadar candaan
Alasan bercanda sering digunakan untuk menghindari tanggung jawab atas ucapan yang sebenarnya menyakitkan.
Suami tanpa empati enggan mengakui bahwa candaan tersebut dapat melukai perasaan pasangannya sendiri.
Sikap ini membuat istri terkesan terlalu sensitif hanya karena berusaha membela dirinya sendiri.
5. Menyuruh istri menyelesaikan masalahnya sendiri
Hubungan yang sehat seharusnya melibatkan dukungan bersama ketika salah satu pihak menghadapi kesulitan.
Namun suami tanpa empati justru mengisolasi istrinya saat sedang membutuhkan bantuan emosional.
Ucapan ini menunjukkan bahwa dirinya lebih mementingkan diri sendiri dibanding kebutuhan pasangannya.
6. Meminta istri membayangkan perasaannya sendiri
Empati seharusnya menjadi penghubung yang memperkuat ikatan antara suami dan istri dalam rumah tangga.
Namun suami tanpa empati justru mengalihkan perhatian pada dirinya sendiri saat pasangan sedang kesulitan.
Ucapan ini menunjukkan bahwa segala sesuatu selalu berpusat pada perasaan dan kenyamanan dirinya sendiri.
7. Menyuruh istri melupakan masalah begitu saja
Suami tanpa empati cenderung menghindari masalah pasangannya karena dianggap mengganggu kenyamanan dirinya sendiri.
Ia lebih mengutamakan perhatian untuk dirinya sendiri dibanding mendengarkan kesulitan yang dialami istrinya.
Ucapan ini menunjukkan sikap tidak menghargai perasaan pasangan yang seharusnya didukung tanpa syarat.
8. Merasa usahanya tidak pernah dihargai
Ketika tidak bisa menghindari tanggung jawab, suami tanpa empati sering berperan sebagai korban.
Sikap ini membuat istri semakin enggan menyampaikan kekecewaan karena takut dianggap tidak menghargai suaminya.
Hubungan pun berubah menjadi berpusat pada perasaan suami dibanding menciptakan ruang aman bersama.
9. Menyatakan tidak bermaksud menyakiti
Pasangan yang penuh empati biasanya tetap memahami dampak ucapannya meski tidak disengaja.
Namun suami tanpa empati menolak mengakui bahwa tindakannya bisa melukai perasaan istrinya sendiri.
Ucapan ini menjadi bentuk pengalihan kesalahan seolah istri yang salah memahami maksud suaminya.
10. Menanggapi dengan sikap acuh tak acuh
Ketidakpedulian menjadi ciri utama seseorang yang tidak memiliki empati terhadap pasangannya sendiri.
Ucapan acuh tak acuh ini muncul ketika istri berusaha menyampaikan perasaan terluka atau kekecewaannya.
Sikap ini merusak komunikasi sehat yang seharusnya menjadi dasar hubungan pasangan yang saling mendukung.
***