← Beranda
6 Kebiasaan Orang Dewasa yang Dulu Sering Merasa Dikucilkan Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalKamis, 6 Agustus 2026 | 01.33 WIB
Kebiasaan orang dewasa yang dulu sering merasa dikucilkan menurut psikologi. (magnific)

 

 

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa perasaan tidak memiliki teman semasa kecil dapat meninggalkan luka emosional yang bertahan lama.

Luka tersebut tidak begitu saja hilang meski seseorang telah tumbuh dewasa dan menjalani kehidupan yang berbeda.

Anak yang terus-menerus merasa kesepian biasanya mengembangkan mekanisme bertahan yang terbawa hingga dewasa.

Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (5/8), berikut enam kebiasaan yang biasa berkembang pada orang dewasa yang dulu sering merasa dikucilkan semasa kecil.

1. Menghindari pertemuan sosial dalam skala besar

Anak yang kesulitan diterima lingkungan sejak kecil cenderung membawa rasa tidak aman tersebut hingga dewasa.

Mereka sering mempertanyakan apakah kehadirannya benar-benar diinginkan dalam berbagai situasi sosial yang dihadapi.

Kondisi ini muncul karena minimnya interaksi sosial di masa lalu membuat mereka kurang terbiasa berinteraksi.

Sebagian dari mereka juga cenderung menyalahkan diri sendiri atas pengalaman dikucilkan yang pernah dialami.

Rasa bersalah tersebut membuat mereka enggan menjadi beban bagi orang lain di sekitarnya.

Mereka pun berusaha keras menghindari situasi sosial demi mengurangi rasa cemas yang muncul.

Kebiasaan ini menjadi salah satu bentuk perlindungan diri yang terbentuk sejak masa kecil.

2. Berusaha keras menjadi sempurna dalam segala hal

Perasaan dikucilkan semasa kecil sering kali memicu kecenderungan menjadi perfeksionis saat seseorang tumbuh dewasa.

Anak yang menyalahkan dirinya sendiri atas pengucilan tersebut berusaha mencari kendali di berbagai aspek hidupnya.

Sebagai orang dewasa, mereka berusaha menjaga hidupnya tetap sempurna agar tidak kehilangan kendali tersebut.

Mereka juga tidak ingin merasakan penolakan kembali seperti yang pernah dialami di masa kecil.

Oleh karena itu, mereka berusaha memastikan setiap interaksi sosial berjalan dengan sempurna tanpa kesalahan.

Standar tinggi ini diterapkan terutama ketika bertemu orang baru dalam kehidupan sehari-harinya.

Kebiasaan ini menjadi cara mereka menjaga rasa aman di tengah ketakutan akan penolakan.

3. Mengasah kreativitas sebagai bentuk pelarian diri

Waktu yang dihabiskan sendirian semasa kecil sering kali justru mendorong berkembangnya kreativitas dan imajinasi seseorang.

Banyak seniman sukses mengaku pernah merasa dikucilkan saat kecil sehingga akhirnya beralih ke dunia seni.

Menemukan cara berekspresi secara kreatif dinilai sangat bermanfaat bagi kesehatan emosional setiap orang.

Anak yang kesepian sering belajar sejak dini bahwa mereka harus menjadi teman bagi dirinya sendiri.

Mereka kemudian beralih pada kegiatan kreatif untuk mengisi waktu sekaligus menyalurkan emosinya.

Kebiasaan ini terus terbawa hingga dewasa sebagai cara untuk melepaskan berbagai perasaan yang dipendam.

Kreativitas menjadi ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi orang lain.

4. Lebih menyukai jadwal harian yang sangat terstruktur

Kecenderungan menjadi perfeksionis pada orang yang dulu dikucilkan juga tercermin dari kebutuhan akan struktur harian yang ketat.

Mereka cenderung menyukai hari-hari yang tersusun rapi dan minim kejutan yang tidak terduga.

Lingkungan yang terstruktur dipercaya membuat mereka merasa lebih aman dan terkendali dalam menjalani hidup.

Struktur semacam ini dianggap mampu mengurangi ketidakpastian yang sering memicu kecemasan bagi mereka.

Rasa aman yang muncul dari rutinitas terstruktur menjadi kebutuhan penting bagi orang dengan latar belakang ini.

Mereka merasa lebih nyaman ketika dapat memprediksi apa yang akan terjadi di kesehariannya.

Kebiasaan ini menjadi salah satu cara mereka menjaga stabilitas emosional dalam kehidupan sehari-hari.

5. Berusaha menyenangkan orang lain demi diterima

Kebiasaan ini menjadi akar utama dari berbagai pola perilaku lain yang berkembang akibat rasa dikucilkan.

Karena mendambakan perasaan diinginkan, banyak dari mereka tumbuh menjadi orang yang gemar menyenangkan orang lain.

Mereka meyakini bahwa bersikap selalu setuju akan membuat orang lain menginginkan kebersamaan dengan dirinya.

Kebiasaan menyenangkan orang lain ini sebenarnya dapat berdampak buruk terhadap harga diri seseorang.

Sebagian dari mereka perlu belajar untuk mengurangi kebiasaan ini demi menjaga kesejahteraan diri sendiri.

Kebiasaan ini sering muncul tanpa disadari sebagai respons otomatis terhadap rasa takut ditolak.

Pola ini menjadi salah satu dampak paling nyata dari pengalaman dikucilkan di masa kecil.

6. Terdorong oleh keinginan mendapatkan pujian

Keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari luar diri sebenarnya merupakan sifat alami yang dimiliki setiap manusia.

Namun orang dewasa idealnya mampu merasa cukup tanpa terus-menerus membutuhkan validasi dari orang lain.

Orang yang dulu sering dikucilkan cenderung mencari validasi di hampir setiap aspek kehidupannya.

Mereka membutuhkan pengakuan tersebut sebagai cara untuk memastikan dirinya benar-benar diterima oleh sekitarnya.

Ketika validasi tersebut tidak diperoleh, rasa tidak aman yang pernah dirasakan dahulu kembali muncul.

Kebutuhan ini menjadi salah satu tanda paling jelas dari pengalaman dikucilkan yang pernah dialami.

Kebiasaan ini menunjukkan bagaimana pengalaman masa kecil terus memengaruhi kebutuhan emosional seseorang hingga dewasa.

 

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti