← Beranda
3 Alasan Psikologis di Balik Rasa Cemas Usai Main Medsos Menurut Studi
Ryandi ZahdomoJumat, 31 Juli 2026 | 16.09 WIB
Ilustrasi media sosial. (Istimewa)

JawaPos.com - Pernahkah Anda mendadak merasa cemas, gelisah, atau merasa kesepian setelah berjam-jam menggulir layar ponsel atau scrolling?

Sebuah studi terbaru terhadap 1.787 orang dewasa muda menemukan bahwa mereka yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam sehari di media sosial, memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih tinggi mengalami isolasi sosial, dibanding mereka yang menggunakannya kurang dari 30 menit per hari.

Menariknya, kecenderungan masyarakat modern yang mengaku tidak memiliki teman dekat mengalami peningkatan pesat seiring tingginya frekuensi penggunaan media sosial.

Fenomena ini membuktikan bahwa interaksi digital yang intens belum tentu menggantikan kebutuhan dasar manusia akan koneksi sosial yang nyata.

Baca Juga: Beredar di Medsos, Koops TNI Habema Selidiki Pengeroyokan Seorang Pemuda di Yahukimo

Para ahli psikologi mengungkapkan tiga alasan ilmiah mengapa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memicu kecemasan dan perasaan terisolasi. Dikutip dari Your Tango, berikut ulasannya:

1. Otak Merespons Unggahan Medsos sebagai Pengucilan Sosial

Saat melihat unggahan acara atau momen kumpul-kumpul teman yang tidak Anda hadiri, otak secara otomatis menafsirkannya sebagai bentuk pengucilan.

Para peneliti dari University of Texas at Dallas menjelaskan bahwa otak manusia tidak hanya merespons ancaman fisik, tetapi juga ancaman sosial.

Melihat konten yang menunjukkan Anda 'ditinggalkan' akan mengaktifkan pusat deteksi bahaya di otak, yang memicu rasa tidak berharga, kesepian, dan kecemasan emosional.

2. Perangkap Perbandingan Sosial yang Merusak Harga Diri

Menurut Society for the Advancement of Psychotherapy, perbandingan sosial merupakan faktor terbesar yang merusak harga diri pengguna media sosial.

Baca Juga: Tak Cukup Mengandalkan Regulasi, Komdigi Gandeng Meta hingga TikTok Perkuat Literasi Digital untuk Lindungi Anak di Medsos

Paparan konstan terhadap gaya hidup orang lain yang tampak "sempurna" kerap memicu anggapan salah bahwa orang lain lebih sukses, menarik, atau bahagia.

Sensasi merasa tidak mampu atau inferior ini secara perlahan mendorong seseorang untuk menarik diri dari pergaulan nyata karena merasa minder.

3. Berkurangnya Interaksi Tatap Muka Langsung

Meskipun media sosial menawarkan kemudahan komunikasi, ketergantungan pada dunia maya dapat mengikis waktu interaksi tatap muka.

Siklus ini menciptakan kecakapan sosial yang menurun dan memicu kecemasan saat harus berinteraksi langsung di dunia nyata.

Meski begitu, para ahli menekankan bahwa media sosial tidak sepenuhnya berdampak negatif.

Baca Juga: Komdigi Ingatkan Orang Tua: Jangan Biarkan Anak di Bawah 16 Tahun Punya Akun Medsos Berisiko Tinggi

Bagi sebagian remaja introvert, platform digital justru bisa menjadi sarana awal melatih keterampilan komunikasi.

"Media sosial tidak secara langsung menyebabkan kesepian. Cara kita menggunakannya dan bagaimana kita memandang kehidupan melalui layar itulah kunci masalahnya," ungkap laporan riset tersebut.

Kunci utama untuk menghindari dampak buruk media sosial adalah membangun kesadaran diri (mindfulness) serta menjaga keseimbangan antara interaksi digital dan hubungan sosial secara langsung di dunia nyata.

 

EDITOR: Bayu Putra