JawaPos.com - Memiliki mimpi besar merupakan hal yang wajar dan bahkan dapat menjadi pendorong seseorang untuk terus berkembang.
Namun, menurut ulasan terbaru di Psychology Today, ada batas yang membedakan antara mimpi yang sehat dengan delusi.
Meski sekilas tampak serupa karena sama-sama melibatkan keyakinan yang kuat terhadap suatu tujuan, keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam cara seseorang memandang realitas.
Orang yang memiliki cita-cita besar menyadari bahwa keberhasilan membutuhkan proses, kerja keras, dan kemungkinan mengalami kegagalan.
Mereka mampu menerima masukan, menyesuaikan strategi, serta mengubah rencana jika kondisi tidak berjalan sesuai harapan. Dengan kata lain, ambisi yang sehat tetap terbuka terhadap bukti dan realitas.
Delusi merupakan keyakinan yang tetap dipertahankan meskipun telah bertentangan dengan fakta atau bukti yang jelas. Dalam konteks kesehatan mental, delusi bukan sekadar optimisme yang berlebihan, melainkan gejala yang dapat muncul pada kondisi kejiwaan tertentu.
Seseorang mungkin tetap yakin terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan dan sulit diyakinkan sebaliknya, bahkan ketika telah diberikan penjelasan atau bukti yang kuat.
Tidak semua mimpi yang terdengar mustahil merupakan delusi. Banyak pencapaian besar lahir dari visi yang awalnya dianggap tidak realistis.
Perbedaannya terletak pada kemampuan seseorang untuk mengevaluasi keadaan, menerima umpan balik, dan menyesuaikan harapan berdasarkan informasi baru. Fleksibilitas berpikir menjadi salah satu ciri utama ambisi yang sehat.
Karena itu, penting untuk tidak menggunakan istilah "delusi" secara sembarangan kepada orang yang memiliki cita-cita besar. Mendorong impian tetaplah positif selama disertai langkah nyata, kesadaran terhadap tantangan, dan kesiapan menghadapi kenyataan.
Jika keyakinan seseorang mulai benar-benar terlepas dari realitas hingga mengganggu fungsi sehari-hari atau hubungan sosial, kondisi tersebut sebaiknya dievaluasi bersama tenaga profesional di bidang kesehatan mental.