← Beranda
Liburan Keluarga Bisa Berujung Ricuh, Ini 8 Penyebab yang Perlu Dihindari
Mohammad Maulana IqbalSelasa, 28 Juli 2026 | 04.56 WIB
pemantik kekacauan di acara liburan keluarga yang merusak ketenagan./ Freepik/ artursafronovvvv

JawaPos.com - Liburan bersama keluarga umumnya menjadi momen untuk melepas penat dan mempererat hubungan. Namun, pertemuan yang melibatkan banyak anggota keluarga dengan latar belakang serta kepribadian yang berbeda juga berpotensi memunculkan gesekan.

Perbedaan cara pandang, kebiasaan, hingga harapan terhadap jalannya liburan dapat memengaruhi suasana kebersamaan. Jika tidak dikelola dengan baik, hal-hal yang tampak sepele pun bisa berkembang menjadi konflik yang mengganggu kenyamanan seluruh anggota keluarga.

Karena itu, menjaga komunikasi dan saling memahami menjadi kunci agar momen liburan tetap menyenangkan. Mengutip Geediting.com, terdapat delapan faktor yang kerap menjadi pemicu kekacauan saat acara liburan keluarga dan patut diwaspadai.

  1. Politik dan topik kontroversial

Pertemuan keluarga saat hari raya mempertemukan orang dengan beragam sudut pandang dan keyakinan berbeda.

Pembicaraan tentang politik, agama, atau isu sensitif lain sering memicu ketegangan di antara anggota keluarga.

Perbedaan lokasi geografis tempat tinggal keluarga membuat perspektif mereka terhadap berbagai hal semakin beragam.

Ditambah dengan intensitas emosi yang kuat terhadap topik-topik tersebut, situasi bisa cepat berubah menjadi perdebatan sengit.

Menghindari pembahasan isu-isu ini bukan berarti membungkam pendapat, tetapi memilih waktu dan tempat yang lebih tepat.

  1. Dendam lama yang muncul kembali

Masalah yang tak terselesaikan dari masa lalu kerap muncul tiba-tiba saat berkumpul dengan keluarga besar.

Luka emosional yang tersimpan bertahun-tahun bisa tiba-tiba terbuka dan membawa kembali semua perasaan negatifnya.

Anggota keluarga yang lebih tua biasanya punya lebih banyak waktu untuk mengumpulkan rasa kesal terhadap satu sama lain.

Perasaan-perasaan yang tak pernah diselesaikan ini bisa meledak kapan saja dan mengganggu keharmonisan saat berkumpul.

Mengatasi masalah secara pribadi atau di waktu yang lebih tepat bisa membantu mencegah konflik tersebut.

  1. Konsumsi berlebihan

Alkohol dan gula diketahui dapat mengubah suasana hati serta perilaku seseorang, terutama dalam situasi sosial.

Mengonsumsi terlalu banyak makanan manis menciptakan lonjakan energi yang kemudian diikuti dengan penurunan drastis dan perubahan mood.

Sementara alkohol cenderung menurunkan kontrol diri dan meningkatkan emosi sehingga perselisihan kecil bisa membesar.

Mayo Clinic merekomendasikan pria membatasi konsumsi alkohol hingga dua gelas per hari dan wanita satu gelas saja.

Membatasi porsi makanan penutup yang akan dikonsumsi bisa membantu mencegah efek negatif dari konsumsi gula berlebihan.

  1. Tekanan menciptakan momen sempurna

Banyak orang memberikan tekanan berlebihan pada diri sendiri untuk menciptakan perayaan yang sempurna saat berkumpul.

Ekspektasi tinggi untuk menyajikan hidangan terbaik dan menciptakan suasana ideal sering menghasilkan stres yang berlebihan.

Stres ini kemudian bisa keluar dalam bentuk frustrasi atau mudah tersinggung yang mempengaruhi anggota keluarga lain.

Kekecewaan terhadap hal-hal kecil yang tidak sempurna bisa membuat seseorang bereaksi berlebihan terhadap situasi sepele.

Fokus pada kebersamaan dan kenangan yang tercipta lebih penting daripada mengejar kesempurnaan yang tidak realistis.

  1. Kehilangan orang terkasih

Momen berkumpul justru menyoroti kursi-kursi kosong yang ditinggalkan oleh mereka yang sudah tiada.

Perasaan kehilangan menjadi lebih terasa di saat-saat seperti ini karena kehadiran mereka sangat dirindukan.

Setiap anggota keluarga mungkin memiliki cara berbeda dalam mengatasi kesedihan atas kehilangan tersebut.

Perbedaan cara berduka ini kadang bisa menciptakan ketegangan dan kesalahpahaman di antara mereka yang berkumpul.

Mengakui kekosongan secara terbuka dan berbagi kenangan tentang orang yang sudah pergi bisa menjadi pengalaman yang menyembuhkan.

  1. Tidak adanya batasan

Kedekatan dalam hubungan keluarga sering membuat batasan pribadi menjadi kabur dan mudah dilanggar oleh satu sama lain.

Pertanyaan yang terlalu pribadi, komentar memalukan, atau ucapan yang merendahkan harga diri bisa muncul tanpa filter.

Topik-topik sensitif seperti pilihan karier, kehidupan pribadi, atau keputusan hidup sering menjadi bahan pembicaraan yang mengganggu.

Rasa hormat dan empati menjadi kunci untuk memahami dan menghormati batasan yang dimiliki setiap anggota keluarga.

Jika ragu, lebih baik berhati-hati dan menghindari membahas hal-hal yang berpotensi menyinggung perasaan orang lain.

  1. Perdebatan tentang gaya mengasuh anak

Perbedaan pandangan tentang cara mendidik anak menjadi isu sensitif saat beberapa generasi berkumpul dalam satu ruangan.

Setiap orang memiliki pendapat sendiri tentang disiplin, tata krama, pendidikan, dan berbagai aspek pengasuhan anak lainnya.

Nenek yang ingin memanjakan cucu dengan camilan manis bisa bertentangan dengan orang tua yang membatasi konsumsi gula.

Paman yang menganggap waktu layar lebih banyak akan membuat anak tenang bertentangan dengan keinginan bermain tradisional.

Mengomunikasikan pedoman pengasuhan sejak awal dapat membantu menetapkan ekspektasi dan menghindari konflik yang tidak perlu.

  1. Kurangnya ruang pribadi

Terlalu banyak orang dalam ruang terbatas untuk waktu yang lama bisa menciptakan perasaan kewalahan dan tertekan.

Situasi ini seperti panci presto yang terlalu panas tanpa ruang untuk melepaskan uap sehingga bisa meledak.

Menyediakan area tenang khusus untuk orang-orang yang perlu istirahat sejenak dapat mencegah iritabilitas dan ketegangan berlebihan.

Ruang pribadi ini bisa berupa kamar yang tenang, sudut baca, atau bahkan area terbuka di luar rumah.

Memberi kesempatan kepada setiap orang untuk menikmati berkumpul dengan kecepatan mereka sendiri sangat membantu menjaga kenyamanan bersama.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho