← Beranda
9 Gaya Hidup yang Dianggap Generasi Alpha Keliru dari Generasi Lebih Tua
Mohammad Maulana Iqbal• Minggu, 26 Juli 2026 | 23.47 WIB
Gaya hidup yang dianggap generasi alpha keliru dari generasi lebih tua. (Magnific)

 

 

JawaPos.com – Gaya hidup generasi muda saat ini menunjukkan perbedaan pandangan yang cukup mencolok dibanding generasi sebelumnya.

Generasi Alpha yang lahir antara tahun 2010 hingga 2024 mulai menunjukkan sikap kritis terhadap berbagai kebiasaan lama.

Meski belum banyak dibahas, generasi ini akan segera mengambil alih posisi sebagai kelompok termuda di dunia kerja.

Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (26/7), berikut sembilan hal yang dianggap keliru oleh Generasi Alpha dari cara pandang generasi yang lebih tua.

1. Menganggap kesehatan mental sebagai hal yang harus dirahasiakan

Anak muda sudah lama menolak anggapan bahwa kesehatan mental merupakan topik yang tabu dibicarakan.

Generasi Alpha tampaknya menjadi kelompok yang benar-benar mampu menghapus stigma tersebut secara menyeluruh.

Mereka menganggap kejujuran tentang kondisi mental sebagai hal yang wajar dan tidak perlu ditutupi.

Keterbukaan generasi sebelumnya turut memengaruhi cara pandang Generasi Alpha terhadap isu kesehatan mental saat ini.

2. Meyakini adanya definisi kesuksesan yang berlaku untuk semua orang

Banyak orang tua saat ini mendorong anak-anaknya untuk belajar lebih giat demi meraih nilai yang baik.

Pendekatan semacam ini dianggap membatasi pemahaman anak tentang makna kesuksesan yang sesungguhnya dalam hidup.

Keterampilan sosial dan karakter yang baik dianggap semakin penting karena tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Generasi Alpha ingin menentukan sendiri makna kesuksesan tanpa harus mengikuti standar yang ditetapkan orang lain.

3. Beranggapan semua orang harus mencapai pencapaian tertentu di usia yang sama

Generasi sebelumnya sudah mulai mempertanyakan tekanan untuk mencapai pencapaian hidup sesuai jadwal tertentu.

Mereka juga mempertanyakan mengapa tradisi seperti menikah dianggap lebih penting dibanding keluar dari hubungan yang tidak sehat.

Generasi Alpha membawa pandangan ini lebih jauh dengan menyaksikan langsung kesulitan finansial generasi di atas mereka.

Mereka tidak percaya ada formula sempurna yang harus diikuti dan menolak memaksakan diri mengejar standar konvensional.

4. Kurang menghargai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi

Generasi yang lebih tua dikenal bekerja keras secara berlebihan tanpa mempermasalahkan dampaknya bagi kehidupan pribadi.

Bagi mereka, menjadi pekerja keras dianggap wajar selama mendapatkan kompensasi yang sesuai dengan usahanya.

Generasi muda sudah lama mendorong fleksibilitas yang lebih besar dalam dunia kerja saat ini.

Generasi Alpha kemungkinan besar akan lebih memilih kerja jarak jauh atau membangun usaha sendiri demi kebebasan waktu.

5. Terlalu mudah memberikan kepercayaan kepada pihak lain

Generasi sebelumnya dibesarkan untuk mempercayai pemerintah dan berbagai lembaga tanpa banyak mempertanyakan kredibilitasnya.

Setiap generasi tampaknya semakin kritis terhadap otoritas dibanding generasi yang datang sebelumnya.

Generasi Alpha menjadi kelompok yang paling jarang menerima informasi begitu saja tanpa verifikasi lebih lanjut.

Sikap kritis ini menjadi penting di tengah maraknya informasi palsu yang semakin mudah tersebar melalui teknologi.

6. Ingin mengetahui segalanya tanpa mengakui keterbatasan pengetahuan

Banyak orang menganggap remaja selalu merasa memiliki semua jawaban atas berbagai persoalan hidup.

Anggapan ini tampaknya sudah tidak lagi sepenuhnya berlaku pada generasi muda saat ini.

Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mau mengakui keterbatasan pengetahuannya justru lebih giat dalam belajar.

Generasi Alpha tampak lebih terbuka menerima kerendahan hati intelektual berkat kemudahan akses terhadap berbagai informasi.

7. Hanya menjadi penonton pasif dari media yang dikonsumsi

Sepanjang sejarah, menikmati hiburan umumnya dilakukan secara pasif tanpa keterlibatan aktif dari penontonnya.

Generasi Alpha kini menghabiskan lebih banyak waktu untuk menikmati hiburan melalui media sosial dibanding sebelumnya.

Mereka lebih memilih menjadi kreator dibanding sekadar menjadi penonton dari konten yang ada.

Banyak remaja menikmati kesempatan untuk mengekspresikan diri secara kreatif melalui berbagai platform media sosial.

8. Menetapkan batasan terhadap penggunaan teknologi secara berlebihan

Generasi tertua saat ini baru mengenal sebagian besar teknologi setelah memasuki masa dewasa mereka.

Mereka harus mempelajari teknologi tersebut sambil menyesuaikannya dengan kehidupan yang sudah mapan sebelumnya.

Banyak dari mereka merasa ragu terhadap teknologi dan menganggapnya tidak boleh digunakan secara terus-menerus.

Generasi Alpha justru melihat teknologi sebagai alat yang bermanfaat dan tidak perlu dicurigai secara berlebihan.

9. Menghormati seseorang hanya karena memiliki kekuasaan

Generasi Alpha bukan berarti bersikap tidak sopan secara menyeluruh terhadap orang-orang di sekitarnya.

Generasi sebelumnya diajarkan untuk menghormati orang berpengaruh hanya berdasarkan posisi atau jabatan yang dimilikinya.

Anak-anak dan remaja saat ini tidak selalu setuju bahwa pendekatan semacam itu merupakan hal yang baik.

Generasi Alpha menilai rasa hormat harus diperoleh melalui tindakan nyata, bukan sekadar gelar atau kekayaan seseorang.

 

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti