JawaPos.com - Di era digital saat ini, kemudahan teknologi membuat berbagai kebutuhan dapat dibeli hanya melalui beberapa sentuhan di layar ponsel.
Mulai dari pakaian, makanan, hingga barang sehari-hari, semuanya tersedia dengan cepat tanpa perlu banyak pertimbangan.
Namun, kemudahan tersebut juga dapat membuat sebagian orang lebih mudah melakukan pembelian secara spontan tanpa memikirkan dampaknya.
Kebiasaan belanja impulsif sering kali bukan berasal dari kebutuhan nyata, melainkan dipengaruhi oleh faktor psikologis tertentu, seperti dorongan emosional atau keinginan mendapatkan kepuasan sesaat.
Baca Juga: 7 Kepribadian Unik Orang Introvert yang Suka Belanja Sendiri Tanpa Ditemani Menurut Psikologi
Dikutip dari English Jagran, berikut empat alasan psikologis yang dapat membuat seseorang lebih rentan melakukan belanja online secara impulsif.
1. Sensasi dopamin dari kepuasan instan
Banyak orang menyukai perasaan membeli sesuatu untuk diri sendiri, ini memicu pelepasan dopamine, yang menyebabkan kecanduan belanja impulsif.
Alhasil Anda benar-benar lupa untuk memeriksa dompet, jadi menyesali pembelian tersebut kemudian.
Alasan utama mengapa Anda kecanduan kebiasaan ini adalah kemudahan berbelanja yang disediakan oleh aplikasi, beserta opsi pembelian sekali klik.
Cara yang tepat untuk mengatasi masalah pembelian impulsif ini dengan aturan '48 jam'.
Artinya, sebelum pembelian besar, Anda akan menunggu selama 48 jam sebelum benar-benar membeli produk tersebut.
2. FOMO
Kebiasaan membeli secara impulsif juga disebabkan oleh pengaruh media sosial.
Anda melihat produk yang hampir semua orang di internet memilikinya dan kemudian karena takut ketinggalan (FOMO), Anda membelinya.
Terlepas dari apakah barang itu berguna atau tidak. FOMO mengeksploitasi naluri dasar untuk tidak ketinggalan.
Cara yang tepat untuk memperbaiki kebiasaan boros ini adalah bertanya pada diri sendiri berapa kali Anda akan menggunakan produk tersebut dan apa alasan Anda membelinya.
3. Diskon dan penawaran
Pengatur waktu palsu dan peringatan 'stok rendah', diskon dan obral kilat, semuanya menciptakan rasa urgensi, yang juga mengarah pada pembelian impulsif.
Anda merasa bahwa saat ini produk tersebut murah, jadi harus membeli sebelum harganya mahal.
Cara terbaik untuk berbelanja adalah membuat daftar barang yang Anda butuhkan, kemudian periksa tanggal penjualan kilat dan kemudian beli produk yang benar-benar Anda butuhkan secara strategis.
4. Keadaan emosional
Sebagian besar orang berbelanja ketika sedih atau terlalu bahagia.
Anda memanfaatkan sensasi ini, menyebutnya terapi belanja untuk mengalihkan perhatian, menghilangkan stres, kesedihan, atau kecemasan.
Cara terbaik untuk menghentikan kebiasaan belanja impulsif ini adalah tidak memesan atau membeli saat sedang dalam keadaan buruk atau rentan.
Masak makanan sehat atau duduklah dan merenung, nantinya dompet Anda akan berterima kasih.