← Beranda
6 Kebiasaan Orang Sukses Meski Tumbuh dari Masa Kecil yang Kacau Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSabtu, 25 Juli 2026 | 01.42 WIB
Kebiasaan orang sukses meski tumbuh dari masa kecil yang kacau menurut psikologi. (magnific)

 

 

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa cara seseorang menjalani kehidupan sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan hubungan dengan keluarga sejak kecil.

Masa kecil yang penuh kekacauan sering kali membentuk cara seseorang memahami batasan dalam hidupnya di masa dewasa.

Namun sejumlah orang justru berhasil meraih kesuksesan meski tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak sehat dan penuh gejolak.

Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (24/7), berikut enam kebiasaan yang biasa dilakukan orang sukses meski memiliki masa kecil yang kacau dan penuh tantangan.

1. Mengenal diri sendiri secara mendalam

Kebanyakan orang jarang meluangkan waktu untuk benar-benar memahami dirinya sendiri secara mendalam dan jujur.

Kebiasaan berpikir mandiri sering dianggap mengancam struktur kekuasaan yang sudah terbentuk dalam sebuah keluarga.

Padahal memiliki kehidupan yang benar-benar milik sendiri merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu.

Kesadaran diri berarti memahami siapa dirinya dan bagaimana dirinya berkembang dari waktu ke waktu.

Sikap ini mencegah orang lain menentukan identitas seseorang berdasarkan penilaian sepihak yang belum tentu benar.

Dengan pemahaman diri yang kuat, seseorang mampu merespons upaya intimidasi dengan cara yang tidak terduga.

Mengenal diri sendiri menjadi bekal berharga ketika seseorang memasuki hubungan baru dalam hidupnya kelak.

2. Memahami mana yang benar-benar milik diri sendiri dan mana yang bukan

Kemampuan ini menjadi hal penting ketika seseorang berusaha membangun batasan yang sehat dalam hidupnya.

Kebiasaan memisahkan tanggung jawab pribadi dari tanggung jawab orang lain juga berlaku dalam berbagai aspek kehidupan.

Hal ini turut mencakup perasaan, energi, dan pikiran yang muncul dalam interaksi sehari-hari dengan orang lain.

Tanpa pemahaman ini, seseorang akan kesulitan menentukan apa yang sebenarnya perlu dilakukan atau diinginkan.

Kesadaran diri menjadi bagian penting, namun pemahaman tentang bagaimana emosi berpindah antarindividu juga sama pentingnya.

Pemahaman semacam ini termasuk dalam konsep batasan energi yang membantu seseorang membedakan dirinya dari orang lain.

Memahami batasan energi membuat seseorang tetap merasa aman dan jelas tentang identitas dirinya sendiri.

3. Menghargai rasa welas asih dan empati

Budaya populer sering menganjurkan seseorang untuk melebur sepenuhnya dengan perasaan orang lain demi menunjukkan empati.

Padahal cara tersebut justru dapat terasa mengganggu dan tidak memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

Sebagai gantinya, batasan energi dapat digunakan untuk memahami pengalaman orang lain tanpa harus melebur di dalamnya.

Dengan cara ini, seseorang tetap bisa memahami perasaan orang lain sekaligus merefleksikan pengalaman tersebut dengan sehat.

Pendekatan semacam ini dianggap lebih baik dan lebih memvalidasi bagi semua pihak yang terlibat.

Empati yang sehat tidak mengharuskan seseorang kehilangan batasan dirinya demi memahami perasaan orang lain.

Cara ini memungkinkan hubungan tetap terjaga tanpa mengorbankan identitas dan kenyamanan pribadi seseorang.

4. Menghindari kelelahan emosional yang berlebihan

Kelelahan emosional menjadi masalah yang umum dialami banyak orang dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Liburan singkat memang dapat membantu, namun hal itu tidak benar-benar menyelesaikan akar permasalahan yang ada.

Kelelahan emosional muncul akibat menyerap terlalu banyak perasaan orang lain hingga kehilangan batasan diri sepenuhnya.

Kondisi ini membuat seseorang seolah tenggelam dalam energi di sekitarnya tanpa mampu melepaskan diri.

Memahami cara kerja energi emosional dapat membantu seseorang melindungi dirinya dengan lebih baik.

Perlindungan diri yang tepat akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi serta pikiran yang lebih jernih.

Menjaga batasan energi juga menyisakan cukup ruang bagi kehidupan pribadi di luar pekerjaan.

5. Berani mengucapkan kata tidak

Banyak orang dibesarkan dengan kebiasaan untuk selalu menyenangkan orang lain dengan memberikan apa yang mereka inginkan.

Pola ini sering kali dimulai sejak masa kecil dan terus dibawa hingga dewasa tanpa disadari.

Kebiasaan ini tertanam sangat dalam dalam proses sosialisasi sehingga banyak orang merasa bersalah saat menolak permintaan.

Rasa bersalah tersebut sering muncul ketika seseorang mencoba menetapkan batasan dengan mengatakan tidak.

Padahal kata tidak merupakan bentuk batasan penting yang berkaitan erat dengan perawatan diri seseorang.

Kemampuan menolak juga berkontribusi terhadap produktivitas dan kebahagiaan hidup seseorang secara keseluruhan.

Berani berkata tidak menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga kesehatan mental jangka panjang.

6. Mengutamakan perawatan diri secara konsisten

Semua kebiasaan sebelumnya sebenarnya berkaitan erat dengan kurangnya perhatian terhadap perawatan diri seseorang.

Banyak pembahasan tentang batasan hanya membahas hal umum seperti meditasi, yoga, atau berjalan santai di taman.

Sayangnya, cara tersebut sering kali hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh.

Meditasi sebenarnya dapat memberikan perubahan besar apabila dilakukan dengan pendekatan yang tepat dan konsisten.

Pendekatan ini perlu secara langsung mengatasi masalah orang-orang yang mencoba memanfaatkan energi seseorang secara berlebihan.

Kesadaran penuh merupakan bentuk meditasi lanjutan, namun bukan ditujukan khusus untuk membangun batasan diri.

Bentuk meditasi lain yang lebih tepat dapat membuat seseorang merasa lebih stabil dan siap menghadapi kehidupannya.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti