← Beranda
5 Ciri Psikologi Burnout Kerja yang Sering Dialami Karyawan Saat Lagi Sumpek
Mohammad Maulana IqbalSelasa, 21 Juli 2026 | 18.15 WIB
Ciri psikologi burnout kerja yang sering dialami karyawan saat lagi sumpek (Magnific/ jcomp)

 

JawaPos.com – Psikologi burnout kerja menjadi topik penting untuk dipahami ketika seseorang mulai merasa lelah secara emosional terhadap pekerjaannya.

Kondisi kelelahan kerja ini tidak selalu mudah dikenali sejak awal, meski dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental secara serius.

Banyak orang tidak menyadari bahwa rasa enggan berangkat kerja setiap hari sebenarnya merupakan tanda burnout yang nyata.

Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (21/7), berikut  lima ciri psikologi burnout kerja yang biasa dialami oleh karyawan yang merasa lelah dan jenuh secara berkepanjangan.

1. Mudah terbebani oleh tekanan dari luar pekerjaan

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menelaah kondisi kehidupan di luar lingkungan pekerjaan terlebih dahulu.

Peristiwa besar seperti putus hubungan, kehilangan orang terdekat, atau masalah keuangan bisa memicu tekanan berlebihan.

Ketika seseorang merasa tertekan pada satu aspek hidup, perasaan itu cenderung menyebar ke bidang kehidupan lainnya.

Fenomena ini mirip badai kecil yang perlahan membesar dan menghantam segala hal yang dilaluinya.

Ada kemungkinan sumber masalah sebenarnya bukan dari pekerjaan, melainkan tekanan hidup yang menumpuk sebelumnya.

Namun gejala kelelahan itu justru lebih terlihat jelas selama jam kerja yang panjang dan membosankan.

Kondisi inilah yang membuat burnout kerja sering disalahartikan sebagai masalah yang murni berasal dari pekerjaan itu sendiri.

2. Membawa pulang beban pekerjaan ke rumah

Cara efektif menilai sumber kelelahan adalah dengan memperhatikan perasaan seseorang di luar jam kerja.

Perhatikan apakah akhir pekan terasa menyenangkan dan penuh energi tanpa bayang-bayang pekerjaan yang mengganggu.

Jika perasaan nyaman itu berubah menjadi kecemasan begitu memasuki malam Minggu, tandanya patut diwaspadai.

Rasa putus asa yang muncul menjelang hari kerja berikutnya menjadi indikasi bahwa pekerjaan adalah sumber masalahnya.

Sebaliknya, jika kehidupan pribadi tetap terasa baik namun pekerjaan tetap terasa berat, itu juga sinyal penting.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan memang menjadi akar utama dari rasa lelah yang dirasakan.

Mengenali pola perasaan ini membantu seseorang memahami akar masalah kelelahan yang sedang dihadapinya secara lebih jelas.

3. Sulit menjalin hubungan baik dengan rekan kerja

Setelah mengetahui bahwa sumber masalah berasal dari pekerjaan, langkah berikutnya adalah mencari penyebab yang lebih spesifik.

Bagi sebagian orang, kesulitan menjalin hubungan dengan rekan kerja menjadi penyebab utama munculnya rasa lelah.

Konflik dengan atasan atau rekan kerja tertentu dapat menimbulkan rasa takut kehilangan pekerjaan secara terus-menerus.

Ketegangan semacam ini mampu memengaruhi suasana hati hingga merembet ke berbagai aspek kehidupan lainnya.

Ketidaknyamanan dalam relasi kerja kerap membuat seseorang merasa tidak aman meski sebenarnya mampu menjalankan tugasnya.

Karena banyak waktu dihabiskan bersama rekan kerja, hubungan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kondisi mental.

Memperbaiki relasi kerja atau mencari lingkungan kerja baru bisa menjadi langkah penting untuk mengatasi kelelahan tersebut.

4. Mempertanyakan apakah benar-benar menyukai pekerjaannya

Kelelahan kerja juga bisa muncul akibat rasa tidak puas terhadap jenis pekerjaan yang dijalani seseorang.

Situasi ini sering terjadi ketika pekerjaan terasa monoton atau tidak memberikan tantangan yang berarti.

Rasa bosan yang terus-menerus dapat memicu munculnya perasaan tertekan meski pekerjaan itu sebenarnya masih disukai.

Mencari cara untuk menyibukkan diri dengan tugas tambahan bisa membantu mengurangi rasa jenuh tersebut.

Perubahan kecil dalam rutinitas kerja terkadang cukup untuk mengembalikan semangat yang sempat hilang.

Pertanyaan penting yang perlu direnungkan adalah apakah membayangkan pekerjaan ke depan menimbulkan rasa senang atau justru cemas.

Jika jawabannya cenderung negatif, mencari penyesuaian pekerjaan atau peluang baru patut dipertimbangkan secara serius.

5. Merasa lega saat membayangkan pindah kerja

Coba bayangkan sejenak bagaimana rasanya jika memiliki pekerjaan baru yang lebih menyenangkan setiap harinya.

Perhatikan apakah bayangan tersebut memunculkan perasaan lega ataukah justru menimbulkan rasa putus asa yang sama.

Jika muncul perasaan lega dan bersemangat, pekerjaan saat ini kemungkinan besar menjadi sumber tekanan.

Namun jika bayangan itu tetap terasa berat, kemungkinan masalahnya bukan berasal dari pekerjaan semata.

Mengenali perbedaan reaksi ini penting karena pekerjaan menghabiskan sebagian besar waktu dalam kehidupan seseorang.

Apabila ternyata bukan pekerjaan penyebabnya, berkonsultasi dengan tenaga profesional menjadi langkah yang sangat dianjurkan.

Namun jika pekerjaan memang menjadi sumber masalah, mengambil langkah perubahan sedini mungkin sangat penting dilakukan.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti