← Beranda
5 Hal Ini Biasanya Dilakukan dengan Santai oleh Pria yang Tidak Memiliki Empati dan Belas Kasih!
Vindi Rayinda AyudyaJumat, 17 Juli 2026 | 04.42 WIB
Ilustrasi pria tanpa empati (freepik)

 

 

JawaPos.com - Empati merupakan salah satu fondasi terpenting dalam membangun hubungan yang sehat, baik dalam keluarga, pertemanan, maupun hubungan romantis. 

Kemampuan memahami perasaan orang lain membuat seseorang lebih peka, menghargai perbedaan, dan mampu memberikan dukungan ketika orang di sekitarnya sedang menghadapi kesulitan. 

Sebaliknya, ketika seseorang memiliki empati yang rendah, perilakunya sering kali tanpa disadari dapat melukai orang lain dan menciptakan hubungan yang tidak seimbang.

Dalam psikologi, rendahnya empati tidak selalu berarti seseorang adalah pribadi yang jahat. 

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang memahami emosi orang lain, mulai dari pola asuh, pengalaman hidup, hingga karakter kepribadian. 

Namun, jika perilaku tertentu terus muncul secara konsisten tanpa adanya kepedulian terhadap dampaknya bagi orang lain, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa empati dan belas kasih belum berkembang dengan baik.

Penting untuk diingat bahwa satu perilaku saja tidak cukup untuk menilai karakter seseorang secara keseluruhan. 

Namun yang lebih penting adalah memperhatikan pola sikap yang berulang dalam berbagai situasi serta bagaimana seseorang merespons ketika diberi masukan mengenai perilakunya.

Dirangkum dari laman Your Tango, berikut lima perilaku yang sering dikaitkan dengan pria yang memiliki tingkat empati dan belas kasih yang rendah menurut sudut pandang psikologi hubungan.

1. Mengabaikan Perasaan Orang Lain

Salah satu tanda yang paling sering terlihat adalah kecenderungan meremehkan emosi orang lain.

Ketika pasangan, teman, atau anggota keluarga sedang sedih, kecewa, atau terluka, ia justru menganggap perasaan tersebut sebagai sesuatu yang berlebihan. 

Alih-alih mencoba memahami situasi, ia lebih memilih mengabaikan atau mengubah pembicaraan.

Dalam hubungan yang sehat, kemampuan mendengarkan dan memvalidasi perasaan pasangan merupakan bentuk kepedulian yang sangat penting.

2. Selalu Menempatkan Kepentingan Diri Sendiri di Atas Segalanya

Pria yang memiliki empati rendah sering kali membuat keputusan berdasarkan keuntungan pribadi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Ia mungkin berharap dipahami, tetapi jarang berusaha memahami kebutuhan orang di sekitarnya. 

Akibatnya, hubungan terasa berat sebelah karena hanya satu pihak yang terus berusaha mengalah.

Sikap seperti ini dapat mengurangi rasa saling percaya dan membuat pasangan merasa kurang dihargai.

3. Sulit Mengakui Kesalahan

Dalam setiap konflik, ia cenderung mencari pembenaran atau menyalahkan keadaan dibandingkan mengakui kekeliruannya sendiri.

Padahal, kemampuan meminta maaf dengan tulus dan bertanggung jawab atas tindakan merupakan salah satu ciri kedewasaan emosional. 

Ketika seseorang terus menolak mengakui kesalahan, penyelesaian konflik menjadi jauh lebih sulit.

4. Tidak Peduli terhadap Dampak Ucapannya

Orang yang kurang memiliki empati sering berbicara tanpa memikirkan bagaimana perkataannya memengaruhi orang lain.

Komentar yang merendahkan, candaan yang menyakitkan, atau kritik yang disampaikan tanpa mempertimbangkan perasaan lawan bicara dapat menjadi kebiasaan yang terus berulang.

Dalam komunikasi yang sehat, kejujuran tetap penting, tetapi perlu disampaikan dengan rasa hormat dan kepedulian.

5. Jarang Memberikan Dukungan Saat Orang Lain Membutuhkannya

Ketika pasangan atau orang terdekat sedang menghadapi masa sulit, ia cenderung tidak menunjukkan perhatian yang berarti.

Bentuknya bisa berupa tidak mau mendengarkan, enggan membantu, atau menganggap masalah orang lain bukan urusannya. 

Padahal, kehadiran emosional sering kali jauh lebih berharga daripada solusi yang sempurna.

Kemampuan memberikan dukungan menjadi salah satu indikator penting dari hubungan yang dipenuhi empati dan kasih sayang.

Empati Adalah Kunci Hubungan yang Sehat

Empati bukan sekadar memahami apa yang dirasakan orang lain, tetapi juga menunjukkan kepedulian melalui sikap dan tindakan. 

Dalam hubungan yang sehat, kedua belah pihak berusaha saling mendengarkan, menghargai perbedaan, dan memberikan dukungan ketika pasangannya sedang mengalami kesulitan.

Perlu dipahami bahwa setiap orang pernah bersikap kurang peka pada situasi tertentu. Karena itu, satu atau dua perilaku di atas tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan karakter seseorang. 

Kemudian yang lebih penting adalah melihat apakah pola tersebut terjadi secara konsisten dan apakah orang tersebut bersedia belajar ketika menyadari dampak dari tindakannya.

Jika Anda merasa hubungan dipenuhi sikap yang membuat Anda terus merasa diabaikan, diremehkan, atau tidak dihargai, komunikasi yang terbuka menjadi langkah awal yang penting. 

Apabila perubahan tidak juga terjadi dan kondisi tersebut mulai memengaruhi kesehatan emosional, menjaga batasan yang sehat merupakan keputusan yang patut dipertimbangkan.

Pada akhirnya, hubungan yang bertahan lama tidak hanya dibangun oleh rasa cinta, tetapi juga oleh empati, kepedulian, dan kemampuan untuk saling memahami dalam berbagai situasi kehidupan.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti