← Beranda
Orang Berpenghasilan Tinggi tetapi Jarang Menghamburkan Uang, Ternyata Sering Memiliki 6 Pengalaman Masa Kecil Ini
Leni Setya WatiSelasa, 7 Juli 2026 | 21.19 WIB
Ilustrasi orang yang berpenghasilan besar namun tetap hemat (freepik)

JawaPos.com - Tidak semua orang yang memiliki penghasilan besar menjalani gaya hidup konsumtif. Sebagian justru dikenal sangat berhati-hati dalam mengelola keuangan dan lebih memilih menabung atau berinvestasi daripada menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak diperlukan.

Cara pandang tersebut sering kali dipengaruhi oleh pengalaman hidup sejak masa kecil. Lingkungan keluarga, kondisi ekonomi, hingga kebiasaan yang dibentuk sejak dini dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan uang ketika dewasa.

Dilansir dari laman The Vessel, terdapat enam pengalaman yang disebut kerap dimiliki oleh orang-orang berpenghasilan tinggi yang tetap memilih hidup hemat dan tidak mudah menghamburkan uang. Berikut ulasannya.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Orang-orang yang Disegani Tanpa Terlihat Mengintimidasi: 8 Perilaku Halus

1. Menyaksikan ketidakstabilan keuangan

Kondisi keuangan yang tidak stabil dapat menanamkan benih ketakutan sejak dini.

Menurut penelitian dari APA tentang stres, anak-anak yang melihat orang tuanya berjuang dengan tagihan atau menghadapi ketidakpastian pekerjaan sering kali memendam kecemasan itu.

Hal ini menjadi hal yang lumrah bagi mereka, pendapatan tambahan disimpan untuk berjaga-jaga jika bencana terjadi lagi.

Tidak masalah jika orang tersebut akhirnya mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. Kenangan lama tentang ketidakberdayaan masih bisa berbisik, "Kita tidak pernah tahu apa yang mungkin terjadi."

Sering kali, mereka akan menyalurkan uang mereka ke rekening tabungan atau pensiun karena rasa aman terasa lebih penting daripada kesenangan sesaat.

2. Merasa tertekan untuk mencapai lebih banyak hal

Bila seorang anak terus-menerus diajarkan, "Kamu harus jadi lebih baik," mereka mungkin belajar untuk bersikap keras pada diri sendiri, bahkan dalam hal keuangan.

Tumbuh dalam rumah tangga yang menekankan kesuksesan dapat mengondisikan seseorang untuk memperlakukan uang seperti kartu skor.

Mereka menabung seolah-olah mereka menunggu untuk membuktikan sesuatu, atau mereka mengejar pencapaian berikutnya.

Dalam artikel Harvard Business Review tentang orang-orang berprestasi tinggi, mereka menemukan bahwa banyak individu yang unggul secara akademis atau profesional sering kali memiliki ketakutan mendasar akan kehilangan segalanya.

Mereka fokus pada akumulasi, bukan semata-mata karena mereka serakah, tetapi karena mereka mengejar rasa "cukup" dalam diri mereka.

Jika Anda pernah bertanya-tanya mengapa beberapa orang berpenghasilan besar masih ragu membeli kesenangan sederhana untuk diri mereka sendiri, carilah pesan-pesan awal tersebut.

Mungkin mereka tumbuh dalam keluarga yang memuji kinerja di atas segalanya. Dalam lingkungan itu, menghabiskan uang untuk kegiatan yang menyenangkan mungkin terasa tidak penting daripada memuaskan.

3. Terlalu sering terpapar mentalitas kelangkaan

Mentalitas kelangkaan melampaui menyaksikan ketidakstabilan keuangan. Ini adalah keyakinan yang mengakar bahwa sumber daya (waktu, uang, bahkan peluang) terbatas dan harus diamankan sebelum hilang.

Beberapa anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang mengatakan 'tidak pernah cukup' yang membawa pola pikir itu hingga dewasa, meskipun gajinya stabil.

Ironisnya, orang-orang dengan pola pikir kelangkaan cenderung menimbun barang atau dana dengan cara yang berbeda, "Saya harus menyimpan semuanya, untuk berjaga-jaga."

Mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka dibimbing oleh tangan tak terlihat yang mendorong mereka untuk melestarikan setiap sumber daya daripada menikmatinya.

Sekalipun sekarang mereka sudah jauh dari kata bangkrut, sisa-sisa emosi masih ada, memberi tahu mereka untuk bertahan dan membelanjakan uang hanya bila perlu.

4. Melihat orang terkasih terlilit hutang

Utang dapat menimbulkan dampak buruk pada rumah tangga. Beberapa di antara kita tumbuh sambil menyaksikan orang tua atau saudara kandung berjuang memenuhi pembayaran pinjaman atau tagihan kartu kredit.

Pengalaman itu dapat menanamkan rasa enggan yang mendalam untuk berutang kepada siapa pun. Anak-anak mengamati bagaimana stres akibat utang menyebabkan pertengkaran atau masalah kesehatan.

Beberapa orang bertekad untuk tidak lagi terjebak dalam perangkap yang sama. Mereka menyamakan pengeluaran dengan potensi utang, bahkan ketika mereka memiliki dana untuk membayarnya secara penuh.

Namun, rasa takut terjebak itu kuat. Begitu kuatnya sehingga dapat mendorong orang-orang berpenghasilan besar untuk menghindari pengeluaran tertentu, tidak peduli seberapa masuk akal pembelian tersebut.

5. Mengalami tunjangan terkendali atau penganggaran ketat

Ketika anak-anak tumbuh dalam rumah tangga dengan uang saku yang sangat terbatas, mereka belajar merencanakan setiap pembelian dengan cermat.

Orangtua mungkin mengeluarkan uang receh untuk tugas-tugas, atau mungkin anggarannya begitu kaku sehingga setiap hadiah terasa seperti sebuah acara.

Orang-orang yang tidak punya banyak ruang gerak dalam mengelola uang saat kecil, sering kali tidak bisa menerima kekacauan itu.

Mereka berpegang pada aturan hitam-putih dalam menabung, membelanjakan, dan berinvestasi.

Kemudian, ketika mereka memperoleh gaji yang layak, mereka masih mengikuti naskah lama, memeriksa ulang setiap transaksi, merasa tidak nyaman membeli baju baru tanpa kupon.

Itu tidak selalu buruk, hanya pola yang sudah mengakar. Pola asuh yang ketat dalam hal uang dapat secara tidak sengaja mengajarkan seorang anak bahwa disiplin keuangan adalah satu-satunya cara untuk merasa aman.

6. Mengaitkan harga diri dengan hidup hemat

Beberapa keluarga mengaitkan nilai moral dan pribadi dengan seberapa sedikit yang mereka konsumsi.

Seorang anak mendengar komentar seperti "Hanya anak manja yang mau pakai baju bermerek" atau "Orang pintar tidak membuang-buang uang."

Akhirnya, mereka mungkin percaya bahwa bersikap sangat hemat adalah tanda karakter yang baik. Gaya hidup minimalis dimulai dengan keinginan untuk kesederhanaan.

Namun, bagi sebagian orang, berhemat bukan soal niat, melainkan soal takut dihakimi. Mereka mungkin khawatir orang lain akan melihat mereka sebagai orang yang suka pamer jika mereka menghabiskan uang secara boros.

Jadi mereka berusaha untuk menghabiskan uang sesedikit mungkin, tidak peduli berapa banyak penghasilan mereka.

Bila kita mengaitkan harga diri dengan seberapa sedikit pengeluaran kita, kita berisiko merusak kenikmatan hidup kita sendiri.

Menabung dan menghindari pemborosan memang mengagumkan, tetapi jangan sampai kita kehilangan pengalaman yang memperkaya diri.

Ya, perencanaan yang bertanggung jawab memang penting, tetapi tidak apa-apa juga menggunakan uang untuk bersenang-senang, berkembang, atau sekadar merayakan kehidupan.

 
 
EDITOR: Setyo Adi Nugroho