← Beranda
9 Keluhan yang Sering Diucapkan Orang Lemah Mental dan Emosional Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalKamis, 2 Juli 2026 | 20.55 WIB
Keluhan yang sering diucapkan orang lemah mental dan emosional menurut psikologi. (Magnific)

 

 

JawaPos.com – Orang yang lemah mental dan emosional cenderung mengeluhkan hal yang sama secara berulang tanpa pernah benar-benar berubah.

Psikologi menjelaskan bahwa kebiasaan mengeluh terus-menerus justru memperkuat pola pikir negatif dalam otak seseorang.

Pola keluhan ini sering menjadi cara untuk menghindari tanggung jawab sekaligus bertahan dalam zona nyaman mereka.

Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (2/6), berikut sembilan hal yang paling sering dikeluhkan oleh orang-orang dengan kondisi mental dan emosional yang rapuh.

1. Batasan yang ditetapkan orang lain

Orang yang lemah secara emosional sering merasa berhak atas waktu dan energi orang lain tanpa rasa syukur.

Batasan yang ditetapkan terasa seperti serangan personal karena menghalangi mereka mendapatkan apa yang diinginkan.

Bahkan ketika batasan itu sehat bagi hubungan, mereka tetap menolak untuk menghormatinya dengan baik.

2. Nasib buruk yang selalu menimpa

Mereka terbiasa hidup bergantung pada orang lain dan kesulitan menerima bahwa hidup memang tidak selalu adil.

Menyalahkan nasib buruk menjadi cara untuk menghindari pengakuan bahwa diri sendiri perlu mengambil kendali.

Pernyataan seperti "aku selalu sial" menjadi alasan untuk tetap terjebak dalam posisi sebagai korban.

3. Apa yang dikatakan orang lain tentang mereka

Perbedaan utama dengan orang yang stabil secara emosional adalah ketergantungan ekstrem pada validasi dari luar diri.

Mereka tidak mampu bersandar pada nilai diri sendiri untuk bertahan menghadapi komentar negatif orang lain.

Sebuah omongan kecil bisa sangat mengganggu mereka karena rasa berharga diri yang sangat rapuh.

4. Ketidaknyamanan kecil sehari-hari

Orang yang kuat secara mental membangun ketangguhan dengan menerima tantangan, bukan menuntut segalanya berjalan mudah.

Sebaliknya, orang yang lemah mental menganggap ketidaknyamanan kecil sebagai serangan personal yang tidak adil.

Antrean panjang atau gangguan kecil lainnya bisa memicu keluhan berulang meski terjadi pada semua orang.

5. Kurangnya perhatian yang diterima

Ketika tidak mendapatkan perhatian yang cukup, mereka cenderung melakukan tindakan performatif untuk menarik kembali sorotan.

Mengabaikan orang lain saat berbicara atau sibuk dengan ponsel adalah cara mereka mencari validasi diam-diam.

Tanpa pengakuan dari sekitar, rasa diri mereka cenderung hancur dan terus mencari pengakuan eksternal.

6. Selalu merasa kelelahan

Mengeluh terus-menerus tanpa pernah mengambil langkah perubahan adalah tanda kelemahan mental yang sangat khas.

Orang yang lemah emosional menikmati simpati yang didapat dari keluhan sehingga enggan benar-benar berubah.

Keluar dari zona nyaman untuk istirahat cukup atau menetapkan batasan terasa terlalu berat bagi mereka.

7. Masa kecil yang sulit

Trauma masa kecil sering dijadikan alasan permanen untuk perilaku buruk tanpa upaya nyata memperbaikinya.

Mereka berlindung di balik kisah masa lalu meski tidak pernah benar-benar berusaha menyembuhkan luka tersebut.

Bahkan ketika menyakiti orang lain, mereka tetap mengandalkan trauma sebagai pembenaran atas tindakannya.

8. Orang lain yang dianggap toxic

Ketika seseorang menyebut orang lain toxic, sering kali itu hanya karena orang tersebut tidak menuruti keinginannya.

Label negatif ini menjadi alasan untuk berhenti berusaha dalam hubungan atau membenarkan perilaku buruk sendiri.

Padahal sebagian besar yang dituduh toxic sebenarnya hanya sedang menetapkan batasan atau menyuarakan pendapatnya.

9. Konflik dan masalah lama

Meski sebuah masalah sudah diselesaikan, orang yang lemah mental terus mengungkitnya kembali di kemudian hari.

Mereka menyimpan kesalahan orang lain selamanya sebagai senjata meski telah menyatakan memaafkan dan melupakannya.

Pola ini merupakan bentuk manipulasi yang membantu mereka menghindari tanggung jawab atas perilaku sendiri.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti