← Beranda
10 Tanda Seseorang Merasa Bersalah atas Kesuksesan yang Tidak Disadari Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalJumat, 26 Juni 2026 | 23.55 WIB
Tanda seseorang merasa bersalah atas kesuksesan yang tidak disadari menurut psikologi. (Magnific)

 

 

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa rasa bersalah atas kesuksesan adalah fenomena nyata yang membuat seseorang merasa pencapaiannya seperti bentuk pengkhianatan.

Terapis berlisensi Annie Wright menyebutnya sebagai pengalaman yang membingungkan saat keberhasilan sendiri terasa seperti sesuatu yang salah untuk dirayakan.

Rasa bersalah ini sering muncul perlahan dan tidak disadari hingga seseorang mulai mempertanyakan apakah mereka pantas atas pencapaian mereka sendiri.

Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (26/6), berikut  sepuluh tanda rasa bersalah atas kesuksesan yang sering tidak disadari namun terus memengaruhi cara seseorang memandang pencapaiannya.

1. Meremehkan pencapaian diri sendiri

Merayakan pencapaian besar adalah hal yang normal, namun meremehkannya sebagai keberuntungan semata adalah tanda rasa bersalah yang tersembunyi.

Dr. Jamie Long menjelaskan bahwa manusia memiliki mentalitas kelompok yang mendorong mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial sekitarnya.

Seseorang mungkin meremehkan kesuksesannya agar tetap terlihat relatable dan tidak terlalu menonjol dibanding teman, keluarga, atau rekan kerja.

2. Merasa tidak nyaman menerima pujian

Kalimat seperti "kerja bagus" yang terdengar menyenangkan bagi orang lain justru terasa sangat tidak nyaman bagi mereka yang menyimpan rasa bersalah.

Pujian verbal terasa seperti pengingat yang memalukan tentang kesuksesan yang mereka anggap berlebihan atau tidak seharusnya diterima.

Mereka juga khawatir orang lain akan menganggap mereka sombong hanya karena menerima pujian atas pencapaian yang sebenarnya layak dirayakan.

3. Membandingkan kesuksesan diri dengan perjuangan orang lain

Empati terhadap perjuangan orang lain adalah sifat yang baik, namun terus-menerus merasa bersalah karenanya adalah tanda yang berbeda.

Alih-alih merasa bangga, mereka memikirkan orang-orang yang mungkin mencapai hal serupa jika memiliki akses dan kesempatan yang sama.

Menyadari ketidaksetaraan kesempatan seharusnya tidak menghalangi seseorang untuk tetap merasa bangga atas pencapaian mereka sendiri yang nyata.

4. Merasa perlu menjelaskan atau membenarkan pencapaian

Alih-alih merayakan keberhasilan, mereka langsung merasa perlu menjelaskan secara panjang bagaimana mereka mencapai hal tersebut.

Mereka cepat menekankan kerja keras, jam panjang, atau bantuan orang lain seolah-olah kesuksesan mereka perlu dibela dan dipertanggungjawabkan.

Di dalam hati, mereka khawatir orang lain akan menganggap pencapaian itu sebagai keberuntungan semata daripada hasil kerja keras yang sesungguhnya.

5. Menghindari membicarakan pencapaian diri sendiri

Kebanyakan orang senang berbagi kesuksesan dengan orang-orang terdekat, namun mereka yang merasa bersalah justru menghindari topik tersebut sepenuhnya.

Mereka khawatir terdengar sombong atau egois jika membicarakan pencapaian mereka, sehingga lebih memilih menyimpannya untuk diri sendiri.

Sebuah studi menemukan bahwa orang justru merespons lebih baik pada mereka yang membicarakan pencapaian dengan nada rendah hati dan tulus.

6. Menyabotase peluang untuk berkembang lebih jauh

Mencapai satu pencapaian bukan berarti seseorang harus berhenti, namun rasa bersalah membuat mereka ragu untuk terus berusaha lebih jauh.

Mereka menahan diri dari mengejar promosi atau peran kepemimpinan meski sebenarnya memiliki kualifikasi yang lebih dari cukup untuk itu.

Mereka percaya bahwa terus berkembang setelah meraih kesuksesan terasa egois, meski hasil positif sebelumnya jelas terlihat dan terbukti.

7. Merasa bertanggung jawab menyelesaikan masalah semua orang

Membantu orang lain adalah respons alami setelah sukses, namun merasa wajib memperbaiki masalah semua orang adalah tanda berbeda yang lebih serius.

Mereka merasa tertekan untuk membagikan setiap sumber daya yang dimiliki dan menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan pribadi mereka.

Kemurahan hati menjadi tidak sehat ketika lahir dari keyakinan bahwa mereka harus "membalas" kesuksesan mereka kepada orang lain.

8. Terus-menerus mempertanyakan apakah pantas atas kesuksesannya

Merefleksikan pencapaian adalah hal normal, namun terus-menerus meragukan kelayakan diri meski bukti kerja keras sudah sangat jelas adalah berbeda.

Mereka berfokus pada faktor eksternal seperti waktu yang tepat atau bantuan orang lain, bukan pada usaha dan keterampilan mereka sendiri.

Keraguan terus-menerus ini membuat sulit untuk merasa percaya diri atas kesuksesan, tidak peduli seberapa banyak pencapaian yang telah diraih.

9. Kesulitan menikmati hasil dari kerja keras sendiri

Setelah mencapai tujuan, kebanyakan orang merasakan kebanggaan, namun mereka yang merasa bersalah justru merasa tidak nyaman untuk merayakannya.

Perasaan ini sering terkait dengan sindrom imposter, di mana seseorang ragu pada kemampuan mereka meski bukti kompetensi sudah jelas terlihat.

Mereka fokus pada apa yang seharusnya bisa dilakukan lebih baik daripada merasakan kebanggaan atas pencapaian yang sesungguhnya layak dirayakan.

10. Berfokus pada apa yang belum tercapai

Bagi banyak orang, kesuksesan adalah momen untuk merefleksikan perjalanan, namun bagi mereka dengan rasa bersalah, fokusnya justru berpindah pada kekurangan.

Mereka segera mengkhawatirkan langkah berikutnya dalam karier mereka begitu mencapai promosi, alih-alih merayakan pencapaian yang baru diraih.

Tidak peduli seberapa banyak yang dicapai, perhatian mereka selalu tertuju pada apa yang hilang daripada apa yang sudah berhasil diraih.

 

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti