JawaPos.com – Kepribadian pasif agresif sering kali tersembunyi di balik ucapan-ucapan yang terdengar biasa namun menyimpan muatan emosi yang sangat besar.
Secara psikologi, komunikasi pasif-agresif adalah cara seseorang mengekspresikan permusuhan tanpa pernah benar-benar mengatakannya secara langsung dan jujur.
Ucapan-ucapan tertentu yang digunakan secara kasual bisa menjadi petunjuk kuat tentang bagaimana seseorang sebenarnya mengelola konflik dan perasaannya.
Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (31/5), berikut empat frasa yang hampir selalu menjadi tanda bahwa seseorang sedang beroperasi dalam mode pasif agresif dalam kehidupan sehari-harinya.
1. "Tidak apa-apa"
Ketika seseorang mengatakan "tidak apa-apa" padahal jelas ada sesuatu yang mengganggu, mereka memilih menghindari konflik daripada mengungkapkan perasaan sebenarnya.
Orang-orang di sekitar hampir selalu bisa merasakan kesenjangan antara apa yang dikatakan dan apa yang sebenarnya dirasakan, meskipun tidak diungkapkan.
Rasa dendam mulai menumpuk tepat di momen ketika seseorang berkata ya padahal di dalam hatinya mereka benar-benar bermaksud tidak.
Daripada mengucapkan frasa itu, jauh lebih efektif untuk mengatakan secara langsung apa yang benar-benar kamu bersedia lakukan dan apa yang tidak.
Kejujuran sejak awal, meskipun terasa tidak nyaman, jauh lebih mudah dikelola dibandingkan kebencian yang terus menumpuk karena terus-menerus ditekan.
Komunikasi yang jelas dan langsung memang membutuhkan keberanian, tetapi hasilnya jauh lebih sehat bagi semua pihak yang terlibat.
2. "Tidak ada yang salah"
Mengucapkan "tidak ada yang salah" sambil memendam amarah di dalam adalah cara paling umum seseorang menolak untuk hidup sesuai dengan kebenarannya sendiri.
Pikiran, perasaan, dan pendapat setiap orang memiliki nilai, dan menolak untuk mengungkapkannya berarti meremehkan diri sendiri dan kesejahteraan emosional yang kamu miliki.
Psikolog Dr. Guy Winch menjelaskan bahwa perasaan tidak berdaya mendorong seseorang mengekspresikan emosi dengan cara pasif-agresif seperti stonewalling atau menahan diri.
Pola ini pada akhirnya membuat seseorang semakin tidak berdaya dan semakin kecil kemungkinannya untuk menyuarakan keluhannya di masa mendatang.
Mengungkapkan apa yang sebenarnya dirasakan, seperti "aku kesal karena..." atau "aku khawatir tentang...", membuka peluang nyata untuk perubahan dan penyelesaian.
Jika kamu tidak pernah mengatakan apa yang mengganggumu, tidak akan pernah ada kesempatan bagi situasi itu untuk benar-benar membaik.
3. "Aku hanya bercanda"
Membuat komentar sinis atau menyindir lalu melindungi diri dengan kalimat "aku hanya bercanda" adalah tanda yang sangat jelas dari komunikasi pasif-agresif.
Tindakan ini bisa menyakitkan, tidak efektif karena pesan sebenarnya tidak tersampaikan, atau bahkan keduanya terjadi dalam satu momen yang sama.
Jika ada sesuatu yang ingin disampaikan, cara yang jauh lebih sehat adalah mengungkapkan pendapat secara langsung dengan cara yang penuh perhatian dan hormat.
Frasa seperti "aku lebih suka..." atau "menurutku lebih baik jika..." adalah alternatif yang jauh lebih jujur dan menghormati semua pihak yang terlibat.
Humor yang digunakan sebagai tameng untuk menyembunyikan kritik yang sesungguhnya hampir selalu meninggalkan kebingungan dan luka yang tidak perlu.
Berbicara jujur dengan cara yang baik tidak pernah semudah itu, tetapi selalu lebih konstruktif daripada menyembunyikan maksud di balik lelucon.
4. "Oh, kukira kamu sudah tahu"
Frasa ini biasanya muncul sebagai cara seseorang membenarkan kegagalan mereka untuk menepati kata-kata atau komitmen yang sudah diberikan sebelumnya.
Menemukan bahwa seseorang tidak memenuhi janji yang sudah dibuat sangat mengecewakan dan perlahan-lahan merusak fondasi kepercayaan dalam hubungan apa pun.
Jika kamu sudah tahu sejak awal bahwa kamu tidak ingin atau tidak bisa melakukan sesuatu, jauh lebih baik untuk langsung mengatakan tidak sejak awal.
Berkomitmen pada sesuatu yang tidak kamu inginkan, lalu gagal melakukannya, dan kemudian mencari pembenaran adalah pola yang sangat melelahkan bagi semua orang.
Kejujuran awal meskipun terasa tidak nyaman selalu lebih menghormati orang lain daripada kesepakatan palsu yang berujung pada kekecewaan yang bisa diprediksi.
Kamu adalah satu-satunya orang yang tahu apa yang kamu pikirkan dan rasakan, dan tidak membaginya hampir selalu berarti kebutuhanmu tidak akan pernah terpenuhi.
***