JawaPos.com – Orang yang terlalu serius pada dirinya sendiri sering kali tidak menyadari bahwa kebiasaan mereka justru mendorong orang lain menjauh.
Secara psikologi, sikap ini bisa berakar dari ego yang tidak terkelola, trauma masa kecil, atau rendahnya kepercayaan diri yang tidak pernah ditangani.
Kebiasaan ini bukan hanya memengaruhi kesehatan mental sendiri, tetapi juga merusak kualitas hubungan dan pertumbuhan pribadi seseorang.
Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (29/5), berikut 12 kebiasaan spesifik yang paling sering dimiliki oleh orang-orang yang terlalu menganggap serius diri mereka sendiri.
1. Sulit menerima umpan balik yang membangun
Harvard Business Review mencatat bahwa harga diri rendah dan hipersensitivitas adalah akar utama ketidakmampuan seseorang menerima kritik yang membangun.
Alih-alih tumbuh dari masukan, mereka justru memilih bersikap defensif bahkan terhadap percakapan yang disampaikan dengan niat tulus dan baik.
2. Tidak bisa tertawa atas kesalahan kecil
Pakar manajemen gaya hidup Kristen A. Carter menekankan bahwa kemampuan menertawakan kesalahan sendiri membuka peluang pertumbuhan yang lebih sehat.
Orang yang terlalu serius justru membebani diri dengan rasa bersalah dan malu yang dalam, yang pada akhirnya merusak hubungan dan harga dirinya.
3. Mudah meledak marah saat terjadi konflik
Orang yang terlalu serius cenderung menganggap setiap emosi yang muncul sebagai sesuatu yang harus segera diungkapkan kepada orang di sekitarnya.
Pola ini sangat berbahaya karena bisa mendorong perilaku agresif dan mencegah seseorang mengembangkan kehadiran emosional yang lebih dewasa dan sehat.
4. Cepat merasa terancam dan defensif
Terapis dari Anchor Light Collective menjelaskan bahwa sikap defensif seringkali merupakan reaksi langsung terhadap trauma atau rasa takut yang belum terselesaikan.
Orang seperti ini ingin diterima apa adanya, namun caranya justru menciptakan jarak dengan orang-orang yang sebenarnya ingin terhubung dengan mereka.
5. Enggan keluar dari zona nyaman
Studi Harvard menunjukkan bahwa keluar dari zona nyaman meningkatkan kepercayaan diri dan ketangguhan seseorang secara signifikan dari waktu ke waktu.
Namun orang yang terlalu serius pada dirinya justru menghindari risiko karena tidak mampu menerima kemungkinan berbuat salah di depan orang lain.
6. Terlalu banyak mengeluh
Pendiri International Journal of Applied Philosophy, Elliot D. Cohen, PhD, menjelaskan bahwa orang yang sering mengeluh cenderung merenungkan pikiran negatif lebih dalam dari rata-rata.
Mereka mengandalkan keluhan sebagai cara mencari validasi dan perhatian karena tidak mampu meyakinkan diri sendiri bahwa perasaan mereka sudah cukup diakui.
7. Terobsesi memikirkan hal yang bisa salah
Kecemasan yang tidak ditangani mendorong seseorang untuk terus-menerus memfokuskan pikirannya pada skenario terburuk yang mungkin terjadi.
Para ahli dari CHADD mencatat bahwa kecenderungan ini bisa menjadi tanda halus dari ADHD yang membuat seseorang terjebak dalam siklus pikiran negatif.
8. Menuntut kesempurnaan dalam segala hal
Perfeksionisme awalnya tampak seperti kualitas yang baik, namun ketika dibawa terlalu jauh ia menguras energi dan merusak hubungan secara perlahan.
Pelatih kepercayaan diri Archanaa Shyam menjelaskan bahwa obsesi pada pencapaian berikutnya membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk hadir dan menikmati momen.
9. Menolak meminta bantuan atau menerima saran
Studi dalam jurnal Management Science menunjukkan bahwa orang yang mau meminta bantuan justru dipandang lebih kompeten oleh orang-orang di sekitarnya.
Namun orang yang terlalu serius menghindari ini karena ego atau kompetitivitas yang mendorong mereka untuk tampak mandiri meskipun sebenarnya membutuhkan dukungan.
10. Tidak menghargai humor dalam kehidupan sehari-hari
Orang yang terlalu serius tidak selalu tidak memiliki selera humor, tetapi mereka lebih memilih kecemasan dan kepentingan diri daripada tawa dan kesenangan.
Ketidakmampuan merespons humor dengan ringan mendorong orang-orang terdekat menjauh, karena tawa adalah salah satu cara terkuat manusia membangun ikatan.
11. Kesulitan menerima pujian dengan tulus
Ketidakmampuan menerima pujian membuat seseorang merasa tidak dipahami dan semakin menarik diri dari orang-orang yang sebenarnya tulus memberikan apresiasi.
Pola ini menciptakan siklus yang menyakiti diri sendiri, karena mereka akhirnya meyakini bahwa ketidakpercayaan mereka terhadap pujian memang selalu beralasan.
12. Larut dalam rasa tidak aman diri sendiri
Harga diri yang rendah sering memicu spiral pikiran negatif, isolasi, dan kecenderungan menafsirkan perilaku orang lain secara negatif tanpa dasar yang kuat.
Alih-alih memeriksa perasaan itu, mereka langsung mempercayai pikiran terburuk pertama yang muncul, yang hanya memperparah siklus ketidakamanan emosional.
***