← Beranda
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Mohammad Maulana IqbalSabtu, 30 Mei 2026 | 00.57 WIB
Barang pemborosan orang miskin yang tak pernah dibeli orang kaya kata psikologi. (Magnific/ freepik)

 

JawaPos.com – Kebiasaan finansial orang miskin sering kali mengungkapkan lebih banyak tentang pola pikirnya daripada sekadar jumlah penghasilannya.

Secara psikologi, perbedaan antara orang kaya dan mereka yang selalu kekurangan uang terletak pada cara mereka mendefinisikan nilai sebuah pembelian.

Orang yang berhasil membangun kekayaan nyata cenderung berpikir beberapa langkah ke depan sebelum memutuskan mengeluarkan uang untuk sesuatu.

Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (29/5), berikut sebelas jenis pengeluaran yang sering menjadi pemborosan bagi mereka yang tidak punya banyak uang, namun hampir tidak pernah dilakukan oleh orang yang benar-benar kaya.

1. Peralatan berkebun dan perbaikan rumah

Orang yang tidak mampu menyewa jasa profesional harus membeli sendiri semua peralatan yang dibutuhkan untuk merawat rumah dan halaman mereka.

Sementara orang kaya membayar orang lain untuk menangani pekerjaan ini, mereka yang berpenghasilan rendah harus meluangkan waktu dan uang untuk melakukannya sendiri.

Ini adalah contoh nyata bagaimana keterbatasan finansial justru menciptakan pengeluaran tambahan yang tidak dialami oleh mereka yang lebih mampu.

2. Makanan cepat saji

Riset dalam jurnal Health & Place menemukan bahwa restoran cepat saji secara tidak proporsional lebih banyak tersebar di lingkungan berpenghasilan rendah di Amerika.

Kemudahan akses ini, dikombinasikan dengan jam kerja panjang dan waktu istirahat yang minim, membuat fast food menjadi pilihan yang sulit dihindari.

Akibatnya, mereka yang sudah memiliki sedikit uang justru menghabiskannya lebih banyak untuk makanan yang tidak menyehatkan dan tidak mengenyangkan lama.

3. Pakaian desainer yang mencolok

Banyak konsumen berpenghasilan rendah membeli pakaian bermerek mahal sebagai upaya untuk tampil setara dengan mereka yang memiliki status lebih tinggi.

Berbeda dengan itu, orang kaya justru cenderung memilih produk kemewahan yang tidak mencolok, yang hanya bisa dikenali oleh kalangan tertentu saja.

Ironisnya, merek desainer sering memberikan hadiah produk mereka kepada orang yang sebenarnya sudah mampu membelinya, bukan kepada yang paling membutuhkannya.

4. Tiket lotere

Data menunjukkan bahwa rumah tangga termiskin di Amerika menghabiskan 33 kali lebih banyak porsi penghasilan mereka untuk tiket lotere dibandingkan orang kaya.

Bagi mereka yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, membayangkan kemenangan besar terasa seperti satu-satunya jalan keluar dari tekanan finansial sehari-hari.

Orang kaya tidak tertarik pada peluang kemenangan yang sangat kecil karena mereka sudah memiliki cara yang lebih terstruktur untuk mengembangkan uang mereka.

5. Air minum dalam kemasan

Survei Consumer Reports tahun 2019 menemukan bahwa semakin rendah penghasilan suatu rumah tangga, semakin besar pengeluaran mereka untuk air minum botolan.

Hal ini sebagian besar disebabkan karena lingkungan berpenghasilan rendah sering kali tidak memiliki akses ke air minum bersih yang aman dari keran.

Orang kaya tidak perlu mengeluarkan uang untuk air minum karena mereka sudah memiliki akses mudah dan gratis ke sumber air yang layak konsumsi.

6. Garansi diperpanjang

Consumer Reports menyimpulkan bahwa membeli garansi diperpanjang untuk kendaraan jarang sekali menjadi investasi yang menguntungkan bagi pembelinya.

Pada umumnya, biaya yang dikeluarkan untuk garansi ini jauh melebihi manfaat yang pernah benar-benar digunakan oleh orang yang membelinya.

Orang kaya lebih memilih menggunakan tabungan mereka untuk membayar perbaikan secara langsung daripada membeli asuransi yang menarget konsumen yang tidak aman secara finansial.

7. Perangkat teknologi terbaru

Banyak orang yang tidak memiliki banyak uang menghabiskan apa yang mereka punya untuk membeli gadget terbaru demi menunjukkan status sosial mereka.

Penulis Tom Corley mencatat bahwa orang kaya jauh lebih selektif dalam membeli teknologi baru karena mereka mengutamakan kualitas dan manfaat nyata daripada sekadar kebaruan.

Mereka tidak merasa perlu membuktikan status dengan ponsel terbaru karena identitas mereka tidak bergantung pada apa yang mereka pegang di tangan.

8. Layanan pesan antar makanan

Orang berpenghasilan rendah yang bekerja lebih lama dengan waktu luang lebih sedikit sangat mengandalkan layanan pesan antar seperti GoFood atau GrabFood.

Sementara orang kaya memiliki waktu untuk memasak di rumah, berbelanja bahan segar, atau menikmati makan bersama keluarga dengan lebih terencana.

Biaya tambahan dari layanan pengiriman, tip, dan kemasan membuat pengeluaran ini jauh lebih besar daripada yang disadari oleh kebanyakan penggunanya.

9. Permainan mobile berbayar

Studi tahun 2022 menemukan bahwa orang dengan impulsivitas finansial yang tinggi cenderung lebih banyak menghabiskan uang untuk pembelian dalam aplikasi permainan.

Bagi kelompok berpenghasilan rendah, pengeluaran kecil yang berulang untuk hiburan instan ini menjadi salah satu kebocoran finansial yang paling tidak disadari.

Orang kaya tidak tertarik pada kepuasan sesaat semacam ini karena mereka sudah memiliki sumber hiburan dan relaksasi yang jauh lebih bermakna.

10. Liburan yang tidak terjangkau

Banyak orang yang tidak mampu tetap memaksakan diri pergi liburan karena tekanan sosial atau kelelahan, meskipun harus berutang untuk melakukannya.

Orang kaya tidak perlu membuat keputusan impulsif semacam ini karena mereka memiliki kebebasan finansial untuk berlibur kapan pun tanpa mengorbankan kebutuhan lain.

Perbedaan mendasarnya bukan pada keinginan untuk beristirahat, melainkan pada kemampuan untuk memilih waktu dan cara tanpa tekanan finansial yang menyertai.

11. Membayar tagihan kartu kredit secara minimum

Orang yang hanya membayar tagihan minimum pada kartu kredit mereka justru menghabiskan lebih banyak uang dalam jangka panjang akibat bunga yang terus menumpuk.

Pemegang kartu kredit berpenghasilan rendah juga cenderung dikenakan bunga yang lebih tinggi, sehingga semakin banyak uang yang habis hanya untuk biaya bunga.

Orang kaya hampir tidak pernah membawa saldo kartu kredit ke bulan berikutnya, sehingga mereka tidak pernah menyentuh jebakan bunga yang menguras finansial ini.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti