JawaPos.com - Siapa sangka kalau kebiasaan dengerin musik yang nggak kamu suka bisa bikin berat badan melonjak? Sebuah studi terbaru mengungkapkan fakta unik bahwa selera musik seseorang ternyata punya hubungan erat dengan seberapa banyak gula yang mereka konsumsi setiap hari.
Banyak orang biasanya sangat sensitif dan defensif kalau sudah membahas soal daftar putar musik (playlist) andalan mereka. Ada yang suka lagu pop ceria, ada juga yang lebih nyaman dengan musik alternatif yang gelap dan intens. Kita semua punya standar masing-masing tentang musik yang bagus, tapi mendengarkan lagu yang dibenci ternyata bisa memberikan efek yang cukup signifikan pada otak.
Fenomena unik ini erat kaitannya dengan bagaimana otak kita merespons kenyamanan, perubahan suasana hati, dan pelepasan hormon dopamin secara instan. Musik yang buruk terbukti bisa bikin stres, dan secara tidak sadar tubuh kita bakal mencari pelarian instan untuk memperbaiki mood tersebut.
Menariknya, kecenderungan memilih camilan manis ini tetap terjadi bahkan ketika seseorang dihadapkan pada pilihan makanan lain yang jauh lebih sehat. Dilansir dari YourTango, efek psikologis dari suara yang mengganggu di sekitar kita memang punya andil besar dalam memengaruhi keputusan harian, termasuk dalam urusan memilih menu makanan.
Eksperimen Unik: Pengaruh Musik Terhadap Nafsu Makan
Para peneliti di Austria baru-baru ini melakukan sebuah eksperimen mendalam yang hasilnya telah resmi diterbitkan dalam jurnal ilmu pangan ternama, Appetite. Penelitian yang dipimpin oleh Jonas Potthoff dan Anne Schienle ini bertujuan untuk melihat bagaimana jenis musik memengaruhi keinginan makan seseorang.
Baca Juga: Catat! Ini Hari Paling Beruntung dalam Bulan Juni 2026 untuk Setiap Zodiak
Tim peneliti ingin menguji apakah musik yang disukai versus yang tidak disukai yang dipilih sendiri mempengaruhi keinginan untuk makan, perhatian visual terhadap makanan dengan kandungan gula yang berbeda, dan pilihan makanan selanjutnya dalam konteks prasmanan. Eksperimen ini dirancang sedemikian rupa untuk melihat reaksi spontan dari para peserta.
Dalam prosesnya, sebanyak 106 peserta dengan usia rata-rata 25 tahun diminta untuk berpuasa selama beberapa jam terlebih dahulu sebelum pengujian dimulai. Setelah itu, mereka dibagi menjadi tiga kelompok terpisah, yaitu kelompok yang mendengarkan musik kesukaan, kelompok musik yang dibenci, dan kelompok tanpa musik sama sekali.
Selanjutnya, panitia menyajikan sembilan item berbeda yang terdiri dari tiga jenis permen kenyal tinggi gula, tiga jenis buah segar rendah gula, dan tiga benda non-makanan seperti kelereng dan bola tenis. Melalui metode ini, peneliti bisa melihat langsung ke mana arah kecenderungan minat para peserta setelah telinga mereka distimulasi oleh audio tertentu.
Musik Buruk Bikin Keinginan Makan Gula Meroket
Sebelum dan sesudah eksperimen berjalan, setiap individu wajib menyelesaikan penilaian terhadap keadaan afektif mereka dan keinginan umum mereka untuk makan sebelum dan sesudah percobaan. Mereka juga diminta memberikan nilai pada setiap item yang disajikan dan dibebaskan untuk mengambil benda apa saja yang mereka inginkan sebagai hadiah.
Hasil akhir dari pengujian ini sungguh di luar dugaan dan langsung menarik perhatian para ahli perilaku. Musik yang didengarkan terbukti sukses memengaruhi item mana yang dipilih peserta dan bagaimana item tersebut dinilai secara subjektif.
Peserta yang terpaksa mendengarkan lagu yang tidak mereka sukai sebenarnya mengalami penurunan nafsu makan secara keseluruhan. Anehnya, meskipun tidak terlalu lapar, hasrat mereka untuk mengonsumsi makanan yang tinggi kandungan gulanya justru melonjak drastis dibanding kelompok lainnya.
Baca Juga: Siap-Siap Bikin Iri! 3 Zodiak Ini Bakal Alami Kisah Cinta Super Romantis Mulai Jumat Ini
Data statistik menunjukkan perbedaan angka yang sangat mencolok di antara ketiga kelompok tersebut. Menurut penelitian tersebut, hampir 62% peserta dalam kelompok musik yang tidak suka memilih untuk mengonsumsi makanan tinggi gula, dibandingkan dengan hanya 24% pada kelompok musik yang disukai dan 38% pada kelompok tanpa musik.
Makan Karena Emosi Sebagai Bentuk Pelarian Stres
Para peneliti mengategorikan fenomena unik ini sebagai contoh nyata dari "konsumsi pembaruan," atau yang akrab kita kenal dengan istilah emotional eating (makan karena emosi). Ketika telinga dipaksa menerima asupan suara yang mengganggu, suasana hati seseorang otomatis bakal memburuk.
Kondisi psikologis yang tidak nyaman ini memicu otak secara tidak sadar untuk mencari mekanisme penanggulangan (coping mechanism) demi meredakan stres. Makanan manis yang tinggi gula dipilih karena merupakan sumber tercepat yang bisa memicu rasa bahagia di otak dalam waktu singkat.
"Temuan ini menunjukkan bahwa musik dapat mempengaruhi pengambilan keputusan makanan terkait secara independen dari proses perhatian: musik yang disukai dapat mendorong pilihan yang lebih sehat, sedangkan musik yang tidak disukai meningkatkan kerentanan terhadap makanan penghibur tinggi gula meskipun nafsu makan secara umum berkurang," tulis para penulis studi tersebut.
Meski begitu, para peneliti memberikan catatan bahwa preferensi peserta terhadap makanan tinggi gula versus rendah gula ini tidak serta merta bisa digeneralisasikan ke semua jenis kelompok makanan. Di masa depan, penemuan ini diharapkan bisa menjadi metode diet alternatif yang alami tanpa kalori untuk membantu orang-orang mengurangi konsumsi gula harian mereka.