← Beranda
11 Ucapan Suami yang Secara Psikologi Menandakan Trauma Masa Kecil akibat Didikan Orang Tua Buruk
Mohammad Maulana IqbalJumat, 29 Mei 2026 | 00.10 WIB
Ucapan suami secara psikologi tanda trauma masa kecil akibat didikan orang tua buruk. (Magnific/ freepik)

 

JawaPos.com – Psikologi membuktikan bahwa trauma masa kecil akibat pola asuh orang tua yang buruk meninggalkan jejak mendalam dalam cara seorang suami berkomunikasi.

Ucapan-ucapan tertentu yang sering diulang oleh seorang suami bisa menjadi cerminan dari luka yang belum sembuh sejak masa kecilnya.

Memahami akar dari kebiasaan berbicara suami yang menyakitkan adalah langkah penting untuk membangun hubungan pernikahan yang lebih sehat dan bermakna.

Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (28/5), berikut sebelas ucapan yang menurut psikologi kerap dilontarkan suami yang dibesarkan oleh orang tua dengan pola asuh yang tidak sehat.

1. "Aku baik-baik saja"

Banyak laki-laki dibesarkan dengan keyakinan bahwa mengekspresikan perasaan adalah tanda kelemahan yang harus dihindari sepenuhnya.

Akibatnya, mereka memasuki pernikahan dengan emosi yang terpendam dan menolak membuka diri saat ditanya tentang kondisi perasaan mereka.

Jika seorang suami secara konsisten menyangkal kedalaman emosinya, kemungkinan besar orang tuanya dulu menakutinya dari ekspresi perasaan yang jujur.

2. "Itu bukan masalah besar"

Sebuah studi dalam jurnal Behavior Therapy menemukan bahwa trauma masa kecil menciptakan hambatan nyata dalam interaksi sosial dan membangun hubungan yang sehat.

Laki-laki yang dulu tidak ditanggapi serius atau dihukum saat mengekspresikan emosi sering kali sulit memahami dan mengungkapkan perasaan mereka sendiri.

Frasa seperti ini kemungkinan besar muncul karena mereka takut akan konsekuensi jika mengakui rasa takut atau kesedihan yang sebenarnya mereka rasakan.

3. "Kamu bereaksi berlebihan"

Anak-anak membangun keterampilan sosial dari cara orang tua mereka berinteraksi, dan orang tua yang beracun mengajarkan gaslighting sebagai alat komunikasi.

Seorang suami yang menepis emosi pasangannya kemungkinan besar hanya meniru persis apa yang dulu selalu dilakukan oleh orang tuanya kepadanya.

Ketidakmampuan untuk bersikap rentan dan mendengarkan secara aktif dalam hubungan biasanya berakar pada pola yang dibentuk jauh sebelum pernikahan.

4. "Kayaknya aku memang suami yang buruk"

Banyak laki-laki yang dibesarkan di rumah tangga keras diajarkan bahwa membuat kesalahan berarti menjadi orang yang gagal seutuhnya.

Orang tua mereka tidak pernah meluangkan waktu untuk membantu mereka belajar dari kesalahan, sehingga mereka tumbuh dengan kecemasan tinggi akan konflik.

Respons dramatis semacam ini saat diminta penjelasan justru menunjukkan betapa dalamnya gejolak emosional yang selama ini disembunyikan oleh sang suami.

5. "Kamu kedengarannya seperti ibuku"

Seorang suami yang berbicara merendahkan tentang ibunya dan kemudian menggunakannya untuk menyerang pasangan kemungkinan besar dibesarkan dalam lingkungan yang tidak menghormati.

Anak-anak yang tumbuh dalam rumah tangga tidak stabil sering hidup dalam kondisi kewaspadaan tinggi di mana sistem saraf mereka selalu siaga menghadapi ancaman.

Frasa dan bahasa tertentu dari pasangan bisa memicu respons defensif yang mengakar jauh ke dalam pengalaman masa kecil yang menyakitkan.

6. "Bilang saja aku harus ngapain"

Salah satu kemungkinannya adalah ini adalah cara terbaik yang dia tahu untuk menawarkan dukungan kepada pasangan yang sedang membutuhkan bantuan.

Kemungkinan lain yang lebih menyedihkan adalah dia tumbuh sebagai anak yang terlalu fokus memenuhi kebutuhan emosional orang tuanya sendiri yang tidak stabil.

Kebiasaan buruk ini sering kali bisa diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka dan jujur antara kedua pasangan meski butuh waktu dan kesabaran.

7. "Aku tidak bermaksud begitu"

Banyak anak yang dibesarkan oleh orang tua buruk sering dimarahi atau dipermalukan bahkan untuk kesalahan yang tidak mereka lakukan sama sekali.

Dalam pernikahan, saat pasangan menyampaikan kebutuhan atau menunjukkan kesalahan, suami langsung merasa diserang dan kembali ke mode defensif masa kecilnya.

Alih-alih bertanggung jawab, dia mundur ke mentalitas kanak-kanak dengan mengucapkan pembelaan diri seolah tidak memiliki kendali atas tindakannya sendiri.

8. "Sudahlah, lupakan saja"

Bagi suami dengan orang tua yang menyakitkan, konflik terasa seperti ancaman nyata karena di masa kecil konflik memang selalu berujung berbahaya baginya.

Namun Gottman Institute menegaskan bahwa konflik yang sehat justru merupakan bagian penting dari membangun kepercayaan dan keintiman jangka panjang dalam pernikahan.

Menghindari percakapan yang tidak nyaman secara aktif membuat komunikasi yang sehat menjadi mustahil dan diam-diam merusak fondasi hubungan dari dalam.

9. "Kamu marah ya sama aku?"

Psikolog Geralyn Dexter menjelaskan bahwa pola orang tua yang beracun menumbuhkan ketakutan mendalam akan penolakan dan ditinggalkan pada anak-anaknya.

Suami dengan trauma masa kecil sering berjalan di atas telur di rumah mereka sendiri sambil terus memantau perubahan energi pasangannya dengan kewaspadaan tinggi.

Mereka kurang peka terhadap emosi diri sendiri namun sangat waspada terhadap suasana hati orang lain, menciptakan ketidakseimbangan yang menguras dalam hubungan.

10. "Kamu selalu nyalahin aku"

Laki-laki yang dibesarkan oleh orang tua beracun selalu menantikan seseorang yang akan berteriak atau pergi, sehingga bahkan diskusi biasa pun memicu kecemasan.

Frasa absolut seperti "kamu selalu" atau "kamu tidak pernah" muncul bukan karena benar secara fakta, tetapi karena terror emosional yang mereka rasakan terasa sangat nyata.

Bagi mereka, setiap pembicaraan tentang pertumbuhan atau koreksi terasa seperti serangan pribadi, karena di masa kecil memang begitulah rasanya.

11. "Menangis tidak menyelesaikan apapun"

Laki-laki yang mengucapkan frasa ini kemungkinan besar dibesarkan dengan filosofi bahwa laki-laki tidak boleh menangis atau mengakui kesakitan mereka.

Keyakinan palsu ini tidak hanya merusak komunikasi yang sehat, tetapi juga menciptakan jarak emosional yang semakin lebar antara kedua pasangan dari waktu ke waktu.

Saat seorang suami berkata demikian, dia jujur dalam batas kemampuannya karena dia belum pernah merasakan seperti apa rasanya menjadi rentan dan tetap dicintai.

***

EDITOR: Novia Tri Astuti