← Beranda
10 Kebiasaan Menjengkelkan Orang yang Tidak Tau Cara Memesan Makanan di Restoran Secara Psikologi
Mohammad Maulana IqbalKamis, 28 Mei 2026 | 00.09 WIB
Trik hemat mengelola keuangan dan mengubah gaya hidup secara psikologi. (Magnific/ freepik)

 

 

JawaPos.com – Cara seseorang memesan makanan di restoran ternyata mencerminkan banyak hal tentang kesadaran sosial dan etiket yang dimilikinya.

Secara psikologi, kebiasaan menjengkelkan saat makan di luar sering kali bukan disengaja, melainkan cerminan dari minimnya kepekaan terhadap orang-orang di sekitar.

Etiket sederhana di restoran bukan soal formalitas semata, melainkan bentuk nyata dari rasa hormat terhadap sesama manusia.

Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (27/5), berikut sepuluh kebiasaan yang paling sering membuat orang-orang di sekitar meja makan merasa tidak nyaman dan terganggu.

1. Tidak melihat menu sampai terpaksa

Ketika pelayan meminta waktu beberapa menit, itu adalah sinyal untuk segera membuka menu dan menentukan pilihan, bukan melanjutkan obrolan.

Mengabaikan isyarat sosial ini tidak hanya membuang waktu pelayan yang sudah bekerja keras, tetapi juga membuat teman semeja menunggu lebih lama.

Memutuskan pesanan lebih awal adalah bentuk sederhana dari menghargai waktu semua orang yang ada di meja makan.

2. Menunggu anak memesan sendiri tanpa batas waktu

Mengajarkan anak untuk memesan sendiri di restoran adalah praktik parenting yang baik dan mendukung perkembangan kemandirian mereka.

Namun membiarkan proses itu berlangsung tanpa batas hingga memakan waktu orang lain adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan ulang.

Ada saatnya orang tua perlu melangkah dan membantu agar seluruh meja tidak harus menanggung ketidaknyamanan yang berkepanjangan.

3. Mengklaim siap memesan padahal belum

Memanggil pelayan ke meja seharusnya dilakukan hanya ketika kamu sudah benar-benar tahu apa yang ingin dipesan.

Membiarkan pelayan berdiri sambil mendengarkan pertimbangan panjang dan pertanyaan beruntun adalah pemborosan waktu yang tidak perlu dilakukan.

Semua orang berhak menikmati makan dengan santai, tetapi ada batas antara menikmati momen dan menjadi tidak peduli pada orang lain.

4. Meminta hal yang sama kepada beberapa pelayan berbeda

Ketika kamu sudah meminta sesuatu kepada satu pelayan, meminta orang lain untuk hal yang sama hanya menciptakan kebingungan yang tidak perlu.

Para pelayan tidak bisa berkomunikasi secara telepati, dan tindakan ini secara tidak langsung membuang waktu dua orang sekaligus.

Nilai annoyance-nya makin tinggi ketika permintaan itu disertai dengan jentikan jari atau teriakan dari jauh untuk mendapat perhatian lebih cepat.

5. Memesan dengan tergesa-gesa lalu menyalahkan orang lain

Datang ke restoran pada waktu yang tidak tepat dan kemudian mengharapkan layanan super cepat adalah ekspektasi yang tidak realistis.

Memesan steak well-done lalu marah karena tidak jadi dalam sepuluh menit hanya menunjukkan ketidakpahaman tentang proses memasak.

Psikolog Reena B. Patel mencatat bahwa menggunakan pekerja layanan sebagai pelampiasan frustrasi adalah pola umum yang merusak pengalaman semua orang.

6. Tidak melakukan kontak mata dengan pelayan

Menunduk atau terus menatap menu saat pelayan datang mengirimkan pesan bahwa kamu tidak menganggap mereka layak mendapat perhatian.

Studi dari Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa kontak mata tidak hanya bentuk penghormatan dasar, tetapi juga membantu menjaga perilaku sosial tetap dalam batas yang wajar.

Mengakui keberadaan pelayan dengan pandangan dan senyum sederhana adalah standar minimal dari sopan santun yang semua orang bisa lakukan.

7. Menjentikkan jari untuk memanggil pelayan

Menjentikkan jari ke arah seseorang di tempat mana pun adalah tindakan yang secara sosial dianggap merendahkan martabat orang tersebut.

Di lingkungan restoran, perilaku ini langsung menciptakan kesan bahwa pelayan tidak diperlakukan sebagai manusia yang setara dan layak dihormati.

Cukup dengan mengangkat tangan atau menunggu sebentar hingga pelayan menoleh, karena itu sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan perhatian mereka.

8. Meminta terlalu banyak modifikasi pada menu

Sesekali meminta penyesuaian menu karena alergi atau kebutuhan diet khusus adalah hal yang sangat bisa dipahami dan diterima.

Namun mengubah hampir setiap elemen dari sebuah hidangan sekaligus membebani dapur dan menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap kerja keras koki.

Di restoran fine dining khususnya, mengubah banyak hal dari menu yang sudah dikurasi dengan cermat bisa dianggap sebagai bentuk ketidakhormatan.

9. Marah ketika tidak menyukai makanan yang dipesan sendiri

Jika kamu memesan sesuatu yang ternyata tidak sesuai seleramu, itu adalah konsekuensi dari pilihanmu sendiri, bukan kesalahan restoran.

Situasinya berbeda jika makanan datang dalam kondisi buruk karena kelalaian dapur, tetapi ketidakcocokan selera bukan alasan untuk komplain berlebihan.

Menjadikan seluruh pengalaman makan di luar sebagai panggung untuk mengekspresikan kekecewaan pribadi hanya membuat semua orang di meja merasa tidak nyaman.

10. Mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah ada di menu

Bertanya tentang hal-hal yang sudah tercantum dengan jelas di menu, seperti pilihan lauk atau kelengkapan sajian, adalah kebiasaan yang mudah dihindari.

Meluangkan satu menit untuk benar-benar membaca menu dengan seksama bisa menyelamatkan waktu semua pihak yang terlibat dalam satu meja makan.

Interaksi dengan pelayan akan jauh lebih bermakna jika digunakan untuk hal-hal yang benar-benar membutuhkan penjelasan lebih dari sekadar informasi di menu.

 

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti