← Beranda
Unik, Fakta Kualitas dan Aroma Daun Teh Ternyata Dipengaruhi Pertumbuhan Lambat serta Kabut
Nurul Adriyana Salbiah• Jumat, 22 Mei 2026 | 00.05 WIB
Ilustrasi daun teh. (IST)

JawaPos.com – Daun Teh dikenal sebagai salah satu bahan minuman yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Sebab, tidak semua teh tumbuh di satu tempat dan diproses melalui cara yang sama.

Uniknya, aroma dan rasa yang dimiliki daun teh ternyata dipengaruhi bagaimana mereka tumbuh dan suhu. Dalam dunia teh, kualitas tidak hanya ditentukan saat proses pengolahan. Tapi dibentuk sejak daun teh muda masih berada di perkebunan. 

Mulai dari kondisi alam, kegiatan pemeliharaan tanaman, cara pemetikan, hingga penanganan setelah panen menjadi faktor penting yang menentukan karakter akhir teh yang dihasilkan. Bahkan menurut,  Food and Agriculture Organization (FAO), faktor seperti ketinggian lahan, suhu udara, curah hujan, dan kelembapan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman teh serta profil rasa yang dihasilkan. 

Baca Juga: Cedera Carlos Alcaraz Belum Pulih, Harus Lewatkan Wimbledon dan Disalip Jannik Sinner

Diungkapkan kata Devyana Tarigan, Head of Marketing Communications & Public Relations PT Sinar Sosro Gunung Slamat, perkebunan di dataran tinggi dengan suhu lebih sejuk umumnya menghasilkan daun teh dengan pertumbuhan lebih lambat. Proses ini justru menghasilkan karakter dengan aroma yang lebih khas dan wangi.  

Pertumbuhan yang lebih lambat justru dianggap ideal karena memberi tanaman lebih banyak waktu untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, asam amino, dan minyak esensial. “Senyawa inilah yang berperan dalam menciptakan aroma yang kaya, lapisan rasa yang lebih mendalam, serta karakter seduhan yang halus,” ujar Devyana Tarigan baru-baru ini dalam memperingati Hari Teh Internasional.

Bahkan, ungkap Devyana, kabut di kawasan pegunungan bisa menghasilkan sensasi teh yang tidak terlalu tajam saat diminum. Sebab, kabut membantu menyaring paparan sinar matahari langsung, sehingga tanaman dapat berkembang lebih optimal.

“Pemahaman terhadap proses alami tersebut menjadi salah satu fondasi yang harus dijaga para produsen teh yang memiliki perkebunan sendiri seperti Sosro,” sambungnya. 

Proses Pemetikan

Dipaparkan Devyana untuk menghasilkan teh dengan cita rasa yang konsisten juga membutuhkan ketelitian manusia dalam menentukan daun teh muda mana yang dipetik. Termasuk kapan waktu terbaik untuk memetik, hingga bagaimana daun teh muda diperlakukan setelah dipetik sehingga memenuhi standar layak olah.

Sebab, daun teh muda menjadi bagian yang paling dijaga karena memiliki kandungan dan karakter rasa terbaik. Oleh karenanya proses pemetikan bahan baku teh baiknya dilakukan oleh tenaga terampil secara manual. Tapi bisa juag menggunakan mesin petik baterai yang ramah lingkungan dengan tetap menjaga kualitas daun teh yang layak olah.

Setelah dipetik, daun teh muda juga tidak dapat dibiarkan terlalu lama sebelum diproses. Paparan suhu dan udara dapat mengubah profil aroma dan kesegaran daun teh muda, sehingga kecepatan penanganan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas. 

Teh Salah Satu Budaya Masyarakat Indonesia

Teh telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Menyuguhkan teh kepada tamu menjadi simbol keramahan yang lekat dalam keseharian berbagai keluarga Indonesia. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS 2023 – 2024 juga menunjukkan bahwa teh merupakan minuman kedua yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia setelah air putih. 

Kebiasaan mengonsumsi teh juga tercermin dalam riset Roy Morgan (Single Source - Indonesia), yang menunjukkan bahwa teh menjadi salah satu kebutuhan rutin rumah tangga Indonesia dan tersedia di 95- 97 persen dapur keluarga. Hal tersebut membuktikan bahwa teh tidak hanya dikonsumsi sebagai minuman sehari hari, tetapi juga telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat lintas generasi. 

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah