← Beranda
Ketahui 5 Kebohongan Psikologis yang Membuat Seseorang Terjebak dalam Pernikahan Tidak Bahagia
Akhmad Iqbal FirmansyahSelasa, 12 Mei 2026 | 18.46 WIB
Ilustrasi hubungan pernikahan tidak bahagia. (Magnific)

 

 

JawaPos.com – Semua pasangan yang menikah pasti berharap dapat hidup bahagia dan harmonis.

Namun, tidak semua pasangan dapat mencapai kebahagiaan dalam pernikahan yang diinginkan.

Ini karena banyak pasangan yang secara sadar tahu bahwa mereka tidak lagi bahagia, namun tetap memilih bertahan dalam penderitaan.

Ada banyak alasan kenapa melepaskan sesuatu yang menyakitkan justru terasa begitu berat atau bahkan tidak bisa.

Jawabannya sering kali terletak pada kebohongan yang terbentuk dalam diri, sehingga seseorang membenarkan ketakutan mereka

Dilansir dari Your Tango, ada lima kebohongan yang sering membuat seseorang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat selama bertahun-tahun.

1.     Bertahan Demi Kebahagiaan Anak

Hubungan pernikahan seringkali dipaksakan meskipun tidak bahagia karena adanya keinginan untuk kebahagiaan anak.

Ini adalah alasan paling sering sekaligus paling membebani dalam hubungan pernikahan yang sebenarnya tidak bahagia.

Banyak orang tua mengorbankan kesehatan mentalnya dengan dalih stabilitas mental dan kebahagiaan anak.

Padahal, anak-anak adalah pengamat yang sangat peka akan situasi dalam dinamika hubungan keluarga.

Tumbuh dalam lingkungan yang penuh ketegangan, dingin, atau pertengkaran pasif-agresif justru dapat membentuk trauma jangka panjang pada anak.

Memiliki dua orang tua yang bahagia secara terpisah sering kali jauh lebih baik daripada satu rumah yang penuh ketegangan emosional.

2.     Berharap Perubahan pada Pasangan

Pasangan yang toxic dalam hubungan pernikahan seringkali membuat kebahagiaan terasa jauh.

Banyak orang seringkali bertahan bukan karena siapa pasangan kita saat ini, melainkan karena harapan untuk pasangan berubah.

Selain itu bayangan tentang siapa dia di masa depan jika dia berubah dapat membuat seseorang optimis dalam hubungan yang beracun.

Ini adalah kebohongan yang sangat melelahkan, bahkan dapat membuat seseorang frustasi dalam hubungan pernikahannya.

Perubahan sejati hanya terjadi jika individu tersebut memiliki kesadaran mandiri untuk menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, mencintai seseorang hanya berdasarkan potensi dalam dirinya karena justru dapat menuju pada kekecewaan di masa depan.

3.     Merasa Terlalu Tua atau Terlambat Memulai Lagi

Bertahan dalam hubungan pernikahan yang sebenarnya tidak bahagia seringkali karena merasa sudah terlambat untuk menjalin hubungan baru.

Budaya di Indonesia seringkali menjunjung tinggi keutuhan keluarga, dan  menganggap perceraian sebagai kegagalan sosial.

Selain itu, ada rasa malu terhadap keluarga besar atau ketakutan akan penilaian tetangga membuat banyak orang memilih untuk memendam luka dalam pernikahan.

Oleh karena itu, banyak orang lebih memprioritaskan topeng kebahagiaan pernikahan daripada kedamaian di dalam rumah.

4.     Menganggap Semua Pernikahan Memang Sulit dan Perlu Sabar

Semua orang pasti setuju jika membangun hubungan pernikahan tidak mudah dan pasti ada tantangan yang harus dihadapi.

Ini membuat ada anggapan umum bahwa pernikahan adalah bentuk pengabdian tanpa batas yang harus penuh penderitaan.

Meskipun komitmen membutuhkan kerja keras, ada garis batasan antara berjuang bersama dan mengorbankan kebahagiaan pribadi.

Jika hubungan kita hanya berisi tuntutan sepihak tanpa adanya timbal balik emosional, itu bukan lagi pengabdian, melainkan penindasan diri.

5.     Malu Jika Pernikahan yang Dibangun Gagal

Anggapan atau penilaian orang lain dalam hubungan pernikahan kita seringkali membuat kita bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia.

Banyak yang merasa bahwa kegagalan dalam pernikahan adalah sebuah rasa malu yang tidak bisa dihindari.

Ini membuat seseorang merasa nilai diri mereka telah habis karena gagal dalam menjalin pernikahan.

Padahal, ketenangan batin jauh lebih berharga daripada menghabiskan sisa waktu dalam siklus pertengkaran yang tidak pernah berakhir.

EDITOR: Novia Tri Astuti