JawaPos.com – Burnout dan kelelahan mental kini menjadi ancaman nyata yang bahkan menyerang orang-orang berprestasi tinggi tanpa mereka sadari.
Psikologi menjelaskan bahwa kebiasaan kerja keras yang tidak diimbangi pemulihan bisa secara perlahan menggerus fungsi otak yang paling vital.
American Psychological Association melaporkan bahwa hampir tiga dari lima karyawan mengalami dampak negatif dari tekanan kerja yang berkepanjangan.
Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (5/5), berikut tiga tanda burnout mendalam yang perlu kamu kenali sebelum kelelahan mental itu semakin dalam dan sulit dipulihkan.
1. Menjadi lebih mudah menghakimi diri sendiri dan orang lain
Salah satu tanda awal burnout yang sering tidak disadari adalah meningkatnya sikap kritis terhadap diri sendiri maupun orang-orang di sekitar.
Ketika seseorang tidak merasa baik-baik saja, ambang toleransinya menurun dan penilaian terhadap hal-hal kecil menjadi lebih tajam dari biasanya.
Penilaian cepat atau snap judgment hampir tidak pernah menghasilkan pemikiran yang lebih baik atau solusi yang lebih bijaksana.
Otak yang kelelahan cenderung bereaksi secara defensif dan melihat lingkungan sekitarnya sebagai ancaman yang perlu diwaspadai terus-menerus.
Sebuah studi tentang hubungan antara belas kasih diri dan burnout menemukan bahwa bersikap baik kepada diri sendiri meningkatkan kepuasan kerja secara signifikan.
Hal ini sebagian besar karena sikap welas asih terhadap diri mencegah burnout berkembang menjadi kondisi yang lebih parah dan melemahkan.
Studi tersebut juga mengungkap bahwa pekerja dengan pengalaman lebih sedikit cenderung lebih baik terhadap diri sendiri dibanding mereka yang sudah lama bekerja.
Menyadari kapan kamu mulai lebih banyak menghakimi adalah sinyal penting bahwa otak sedang kelelahan dan membutuhkan pemulihan segera.
Pertanyaan yang perlu diajukan pada diri sendiri adalah apa yang dibutuhkan saat ini agar bisa kembali bersikap penuh empati dan kolaboratif.
2. Menjadi sangat sulit mengambil keputusan
Tanda burnout berikutnya yang kerap tidak disadari adalah munculnya kesulitan membuat keputusan, bahkan untuk hal-hal yang sangat sederhana sekalipun.
Lobus frontal adalah bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, dan ia adalah yang pertama kehilangan kapasitas saat kelelahan.
Seseorang mungkin masih mampu menangani beberapa keputusan besar, namun kemudian tiba-tiba lumpuh hanya karena harus memilih menu makan malam.
Riset menunjukkan bahwa burnout berkaitan erat dengan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi pada individu yang mengalaminya.
Karyawan dengan tingkat burnout tinggi terbukti mendapat skor lebih rendah dalam tes memori, perhatian, dan fungsi eksekutif otak secara keseluruhan.
Menariknya, dukungan keluarga yang kuat dilaporkan bisa mengurangi tingkat burnout, meskipun tidak sepenuhnya mencegah penurunan kemampuan kognitif.
Rasa stuck atau mandek saat mengambil keputusan sebaiknya digunakan sebagai sinyal bahwa otak sedang sangat membutuhkan rehat dan pemulihan.
Melangkah menjauh sejenak dan memenuhi kebutuhan dasar seperti istirahat, nutrisi, hidrasi, atau koneksi sosial adalah langkah pemulihan yang efektif.
Setelah otak mendapat bahan bakar yang dibutuhkan, kemampuan berpikir jernih dan mengambil keputusan yang lebih baik akan kembali dengan sendirinya.
3. Mulai melihat segala sesuatu secara hitam putih
Tanda burnout yang ketiga dan paling berbahaya adalah ketika seseorang mulai kehilangan kemampuan melihat berbagai kemungkinan di luar dua pilihan ekstrem.
Stres dan kelelahan secara alami menyempitkan perspektif seseorang, membuat dunia terlihat hanya sebagai pilihan ya atau tidak, baik atau buruk.
Otak yang kelelahan berusaha menjaga keamanan dengan cepat menilai setiap input sebagai ancaman atau bukan ancaman secara otomatis.
Yang hilang dalam proses ini adalah kapasitas kreatif lobus frontal untuk melihat koneksi, nuansa, dan solusi yang lebih beragam.
Riset telah membuktikan bahwa stres atau kelelahan secara neurologis memang mempersempit sudut pandang dan mengurangi fleksibilitas berpikir seseorang.
Seseorang yang sedang burnout sering tidak menyadari bahwa ada banyak pilihan lain yang tersedia dan bisa diselesaikan dengan lebih kreatif.
Alih-alih memaksa diri bekerja lebih keras, belajar bekerja sama dengan cara kerja otak adalah pendekatan yang jauh lebih bijaksana dan efektif.
Tanda-tanda kelelahan otak sebaiknya diperlakukan seperti indikator daya baterai ponsel yang perlu segera diisi ulang sebelum benar-benar habis.
Membangun kebiasaan mengisi ulang energi fisik, mental, emosional, dan spiritual secara rutin adalah kunci untuk menjaga performa terbaik secara berkelanjutan.
***