JawaPos.com - Terdapat perbedaan yang mencolok antara mereka yang ingin menerima komentar pada unggahan media sosial dan yang menonaktifkannya.
Perbedaan ini bermuara pada pola perilaku.
Menurut psikologi, individu-individu orang yang menonaktifkan komentar di postingan media sosial sering menunjukkan lima perilaku umum, seperti dilansir geediting.
1. Berhati-hati terhadap kritik
Salah satu ciri paling umum adalah peningkatan kehati-hatian terhadap kritik.
Psikologi memberi tahu individu seperti itu sering cenderung menunjukkan keengganan terhadap umpan balik negatif.
Mereka mungkin hanya mencoba mengelola interaksi media sosial dengan cara yang sesuai dengan zona nyamannya.
2. Hargai privasi
Beberapa orang menonaktifkan kolom komentar bukan karena anti-sosial atau introvert, tetapi menghargai privasi dan lebih memilih mengontrol tingkat interaksi pada unggahan mereka.
Orang-orang ini menikmati kebebasan berbagi tanpa stres mengelola atau menanggapi komentar.
3. Penekanan pada kesehatan mental
Ciri khas lain dari individu yang menonaktifkan komentar pada unggahan media sosial mereka adalah penekanan pada kesehatan mental.
Dunia media sosial bisa menjadi pedang bermata dua.
Bagi sebagian orang, terus-menerus berinteraksi dengan komentar, terutama komentar negatif dapat terasa melelahkan secara emosional dan membebani mental.
4. Takut dihakimi
Terkadang, tindakan menonaktifkan komentar muncul karena takut dihakimi.
Mereka tidak mencoba untuk menutup diri dari interaksi, tetapi hanya melindungi diri sendiri saat mereka menjalani perjalanan ekspresi diri secara online.
5. Preferensi untuk interaksi yang bermakna
Perilaku lain yang sering terlihat pada mereka yang menonaktifkan komentar pada unggahan media sosial adalah preferensi untuk interaksi satu lawan satu yang lebih bermakna.
Media sosial terkadang bisa menjadi lautan komentar dangkal, emoji, dan like.
Bagi sebagian orang, interaksi di permukaan ini tidak memiliki banyak nilai.
Sebaliknya, mereka lebih menyukai percakapan yang lebih mendalam dan personal.
***