JawaPos.com - Perasaan tertarik pada seseorang yang dianggap lebih menarik, lebih sukses, atau “di atas level kita” adalah pengalaman yang sangat manusiawi.
Namun, bagi orang dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah, perasaan ini sering kali dibarengi dengan keraguan, kecemasan, bahkan kecenderungan untuk merendahkan diri sendiri.
Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan erat dengan self-esteem, social comparison, dan fear of rejection. Alih-alih mengekspresikan ketertarikan secara sehat, orang yang tidak percaya diri sering mengungkapkannya lewat kalimat-kalimat tertentu yang tanpa sadar mencerminkan pola pikir negatif mereka.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat 7 ungkapan yang sering digunakan—beserta makna psikologis di baliknya.
1. “Dia terlalu bagus buat aku”
Ungkapan ini mungkin terdengar realistis, tetapi sebenarnya adalah bentuk self-limiting belief. Orang tersebut sudah “menolak diri sendiri” bahkan sebelum mencoba.
Secara psikologis, ini berkaitan dengan:
Low self-worth
Keyakinan bahwa dirinya tidak pantas mendapatkan sesuatu yang baik
Alih-alih menilai hubungan berdasarkan kecocokan, mereka langsung menempatkan diri di posisi yang lebih rendah.
2. “Orang kayak dia pasti maunya yang lebih dari aku”
Kalimat ini mencerminkan asumsi tanpa bukti. Ini adalah contoh dari mind reading dalam psikologi kognitif—yaitu merasa tahu apa yang orang lain pikirkan tanpa konfirmasi nyata.
Biasanya muncul karena:
Pengalaman penolakan sebelumnya
Perbandingan sosial yang berlebihan
Padahal, ketertarikan seseorang tidak selalu didasarkan pada standar “lebih” atau “kurang”.
3. “Aku nggak mungkin punya kesempatan”
Ini adalah bentuk learned helplessness—perasaan bahwa usaha tidak akan mengubah hasil.
Orang dengan pola pikir ini cenderung:
Menghindari risiko
Tidak mencoba sama sekali
Ironisnya, sikap ini justru memastikan bahwa peluang memang tidak akan pernah ada.
4. “Dia pasti cuma baik, bukan tertarik”
Ketika seseorang yang disukai menunjukkan perhatian, orang yang tidak percaya diri sering menolaknya secara mental.
Dalam psikologi, ini disebut:
Discounting the positive
Mereka cenderung:
Mengabaikan sinyal positif
Menganggap semua sebagai kebetulan atau sekadar sopan santun
Hal ini melindungi mereka dari harapan, tetapi juga menghalangi kemungkinan hubungan.
5. “Aku harus jadi lebih sempurna dulu”
Kalimat ini menunjukkan pola perfectionism yang tidak sehat.
Alih-alih:
Tumbuh sambil menjalani hubungan
Mereka memilih:
Menunda sampai merasa “cukup layak”
Masalahnya, standar “sempurna” ini sering tidak pernah benar-benar tercapai.
6. “Nanti kalau aku ditolak gimana?”
Ketakutan akan penolakan adalah salah satu faktor terbesar yang menghambat kepercayaan diri.
Secara psikologis, ini berkaitan dengan:
Rejection sensitivity
Trauma emosional dari masa lalu
Akibatnya:
Mereka lebih fokus pada kemungkinan terburuk daripada peluang yang ada
Padahal, penolakan adalah bagian normal dari proses sosial.
7. “Aku cukup jadi pengagum aja”
Ini adalah bentuk emotional avoidance. Orang tersebut memilih posisi aman—mengagumi dari jauh tanpa risiko.
Meskipun terlihat “tenang”, sebenarnya ini bisa:
Menimbulkan penyesalan jangka panjang
Memperkuat keyakinan bahwa mereka tidak layak dicintai
Penutup: Apa yang Bisa Dipelajari?
Ketujuh ungkapan di atas menunjukkan satu pola besar: bukan situasi yang membatasi, tetapi cara berpikir.
Dalam psikologi modern, kepercayaan diri bukan berarti merasa paling hebat, melainkan:
Menerima diri sendiri apa adanya
Berani mengambil risiko emosional
Tidak mendefinisikan nilai diri dari hasil (diterima atau ditolak)
Ketika seseorang mulai mengubah dialog internalnya, mereka tidak hanya membuka peluang untuk hubungan yang lebih sehat, tetapi juga membangun hubungan yang lebih baik dengan dirinya sendiri.***