← Beranda
8 Kebiasaan Orang Dewasa yang Sering Dibandingkan Saat Kecil, Tanpa Disadari Membentuk Cara Hidup
Leni Setya WatiSabtu, 28 Maret 2026 | 15.22 WIB
Ilustrasi kebiasaan orang dewasa yang sering dibandingkan saat kecil (freepik)

 

JawaPos.com - Perbandingan sering datang dengan wajah yang tidak selalu terlihat keras. Kadang ia muncul sebagai dorongan, motivasi, atau bahkan bentuk kasih sayang.

Kalimat seperti, “Lihat sepupumu lebih rajin,” atau “Kenapa tidak bisa seperti dia?” mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang.

Namun, bagi seorang anak, kalimat-kalimat itu bisa menjadi fondasi cara berpikir tentang nilai diri.

Seiring waktu, kebiasaan dibandingkan tidak benar-benar hilang. Ia tumbuh diam-diam, mengikuti hingga dewasa, dan membentuk pola perilaku yang sering tidak disadari.

Hal inilah yang dialami oleh Una Quinn. Dari pengalaman panjangnya mengamati kehidupan dan relasi manusia, ia melihat pola yang sama berulang kali—orang dewasa yang dulunya sering dibandingkan, kini membawa kebiasaan tertentu dalam hidup mereka.

Dilansir dari laman The Vessel, Jumat (27/3), berikut delapan kebiasaan yang paling sering muncul.

1. Menilai Diri Berdasarkan Standar Orang Lain

Una Quinn menyadari bahwa banyak orang dewasa terbiasa mengukur nilai diri dari luar. Mereka melihat pencapaian orang lain sebagai tolok ukur.

Dalam situasi sosial, tanpa sadar mereka membandingkan:

- Siapa yang lebih sukses
- Siapa yang lebih percaya diri
- Siapa yang hidupnya terlihat lebih rapi

Kebiasaan ini berakar dari masa kecil, ketika nilai diri sering dikaitkan dengan peringkat, pujian, atau prestasi.

Masalahnya, standar eksternal tidak pernah tetap. Selalu ada orang yang lebih unggul. Akibatnya, rasa cukup menjadi sulit dicapai.

Una Quinn akhirnya memahami bahwa nilai diri tidak berasal dari perbandingan, melainkan dari nilai yang diyakini secara pribadi.

2. Kompetitif Secara Diam-Diam, Bahkan dengan Orang Terdekat

Tidak semua persaingan terlihat jelas. Ada yang berjalan diam-diam di dalam pikiran.

Una Quinn melihat bagaimana seseorang bisa tetap mendukung temannya, namun di saat yang sama diam-diam membandingkan:

- Siapa yang lebih berhasil
- Siapa yang lebih berjuang
- Siapa yang lebih dihargai

Ini bukan tentang iri hati, melainkan hasil pembiasaan sejak kecil.

Ketika seseorang tumbuh dengan perbandingan, sistem mentalnya terbiasa “mengukur” posisi. Bahkan dalam hubungan yang sehat sekalipun, kebiasaan ini tetap bisa muncul.

3. Sulit Menikmati Pencapaian Sendiri

Banyak orang dewasa merasa canggung saat menerima pujian.

Alih-alih menerimanya, mereka justru berkata:

“Ah, cuma kebetulan.”

“Itu bukan apa-apa.”

“Semua orang juga bisa.”

Una Quinn memahami bahwa ini bukan kerendahan hati semata, tetapi refleks yang terbentuk sejak kecil.

Ketika pujian dulu hanya diberikan jika “lebih baik dari orang lain”, maka keberhasilan terasa tidak aman. Seolah harus selalu dibuktikan ulang.

Padahal, menikmati pencapaian bukan berarti sombong. Itu adalah bentuk penerimaan diri.

4. Terlalu Peka terhadap Penilaian Orang Lain

Orang yang terbiasa dibandingkan cenderung sangat peka terhadap lingkungan sosial.

Una Quinn melihat mereka mampu:

- Membaca ekspresi wajah
- Menangkap perubahan nada suara
- Merasakan suasana hati orang lain

Ini bisa menjadi kelebihan, terutama dalam hubungan dan komunikasi. Namun, di sisi lain juga melelahkan.

Mereka sering:

- Mengulang percakapan di kepala
- Khawatir tentang kesan yang ditinggalkan
- Takut dinilai negatif

Akar dari semua ini adalah kebutuhan lama: mendapatkan penerimaan.

5. Gelisah Tanpa Ukuran Keberhasilan yang Jelas

Ketika tidak ada indikator seperti nilai, peringkat, atau penghargaan, sebagian orang merasa kehilangan arah.

Una Quinn pernah mengalami fase ini ketika struktur hidup berubah. Tanpa ukuran yang jelas, muncul pertanyaan:

- Apakah saya sudah cukup baik?
- Apakah yang saya lakukan berarti?

Orang yang terbiasa dibandingkan sering merasa lebih nyaman dengan sistem penilaian yang jelas. Tanpa itu, muncul kegelisahan.

Padahal, tidak semua hal dalam hidup bisa diukur.

6. Bekerja Berlebihan untuk Membuktikan Diri

Kerja keras sering dianggap sebagai kualitas positif. Namun, bagi sebagian orang, itu juga bisa menjadi bentuk pembuktian diri.

Una Quinn melihat banyak orang:

- Selalu ingin melebihi ekspektasi
- Sulit beristirahat
- Merasa bersalah jika tidak produktif

Di baliknya ada keyakinan lama: “Saya harus membuktikan bahwa saya layak.”
Masalahnya, jika nilai diri hanya diukur dari produktivitas, maka kelelahan menjadi hal yang sulit dihindari.

7. Hubungan yang Rumit dengan Pujian dan Kritik

Bagi orang yang tumbuh dengan perbandingan, umpan balik tidak pernah terasa netral.

Una Quinn menemukan pola seperti:

- Pujian terasa tidak nyaman
- Kritik terasa sangat menyakitkan

Satu komentar negatif bisa menutupi banyak hal positif.

Hal ini terjadi karena sejak kecil, umpan balik sering dikaitkan dengan perbandingan, bukan perkembangan.

Padahal, kritik seharusnya menjadi informasi, bukan penilaian terhadap nilai diri.

8. Mulai Mendefinisikan Ulang Arti Kesuksesan

Meski membawa banyak dampak, ada satu hal yang memberi harapan.

Una Quinn melihat bahwa banyak orang akhirnya mencapai titik jenuh dengan perbandingan.

Di titik itu, muncul pertanyaan baru: Apa arti kesuksesan bagi saya sendiri?

Jawabannya sering berbeda dari standar lama:

- Bukan lagi tentang pengakuan
- Bukan lagi tentang posisi
- Tapi tentang ketenangan dan makna

Kesuksesan bisa berubah menjadi:

- Waktu berkualitas dengan keluarga
- Kesehatan mental yang stabil
- Hal-hal sederhana yang membawa kebahagiaan

Perubahan ini tidak instan, tetapi sangat membebaskan.

Pengalaman sering dibandingkan saat kecil bukanlah sesuatu yang sepele. Ia membentuk cara seseorang melihat diri sendiri, orang lain, dan dunia.

Namun, seperti yang dipahami Una Quinn, kebiasaan tersebut bukanlah identitas permanen.

Dulu, kebiasaan itu mungkin membantu bertahan. Sekarang, seseorang memiliki pilihan:

- Tetap mengikuti pola lama
- Atau mulai membangun cara pandang baru

Pertumbuhan bukan tentang menjadi orang lain. Tetapi tentang melepaskan beban lama dan menemukan suara diri yang lebih jujur.

Pertanyaannya sekarang sederhana, namun penting: Kebiasaan mana yang paling terasa dalam hidup Anda? Dan mana yang siap Anda lepaskan?

EDITOR: Novia Tri Astuti