← Beranda
8 Tanda Ini Jadi Indikator Hubungan Asmara dengan Pasangan Berjalan Tidak Sehat, Apa Saja?
Setyo Adi NugrohoRabu, 25 Maret 2026 | 21.07 WIB
Ilustrasi hubungan asmara (Freepik)

JawaPos.com - Dalam hubungan, memahami posisi diri dan dominasi adalah hal yang penting. 

Seringkali seseorang ingin memiliki kuasa berlebih ketimbang pasangannya. Mereka ingin mendominasi dan memegang arah hubungan tanpa mempertimbangkan pandangan pasangannya.

Ini tentu berdampak besar pada kualitas hubungan. Untuk itu, dilansir dari Hack Spirit, mari mengetahui delapan tanda hubungan yang tidak sehat menurut Psikologi. 

Baca Juga: Laki-laki Wajib Paham, Ini 8 Tanda Perempuan sedang Tertarik pada Anda Menurut Psikologi

  1. Pengambilan keputusan sepihak 

Dalam hubungan yang sehat, pengambilan keputusan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. 

Namun, seringkali salah satu pasangan mengambil alih peran sebagai pengambil keputusan, membuat pasangan lainnya merasa terpinggirkan. 

Hal ini bisa terjadi secara halus, seperti pasangan Anda selalu memilih film atau tempat makan. 

Jika Anda merasa selalu mengikuti pilihan pasangan, bahkan ketika Anda tidak setuju, ini bisa menjadi tanda ketidakseimbangan kekuasaan.

  1. Merasa tidak didengar

Komunikasi adalah inti dari setiap hubungan yang sehat. Dalam hubungan tidak sehat, komunikasi seringkali tidak berjalan dua arah. 

Pasangan Anda mungkin sering memotong pembicaraan atau mengabaikan pendapat Anda. 

Awalnya, Anda mungkin berpikir mereka tidak menyadarinya atau Anda terlalu sensitif. 

Namun, jika hal ini terjadi berulang kali, ini adalah tanda ketidakseimbangan kekuasaan dalam hubungan Anda.

  1. Terus merasa berhati-hati

Hubungan seharusnya menjadi ruang aman di mana Anda merasa nyaman mengungkapkan pikiran dan perasaan. 

Namun, ketidakseimbangan kekuasaan dapat membuat Anda merasa seperti berjalan di atas kulit telur, selalu berhati-hati untuk tidak membuat pasangan Anda kesal. 

Penelitian menunjukkan bahwa sensor diri yang berlebih dapat meningkatkan tingkat stres dan berdampak pada kesehatan mental Anda.

  1. Kompromi sepihak 

Kompromi adalah bagian dari setiap hubungan. Namun, apa yang terjadi jika Anda selalu menjadi pihak yang berkompromi? 

Jika Anda merasa terus-menerus mengalah untuk memenuhi kebutuhan pasangan Anda, sementara kebutuhan Anda sering diabaikan, ini bisa menjadi tanda ketidakseimbangan kekuasaan.

  1. Kurang ruang untuk diri sendiri

Waktu pribadi sangat penting dalam setiap hubungan. Hal ini membantu kita mempertahankan individualitas dan mengisi ulang energi. 

Namun, dalam hubungan yang tidak seimbang, waktu pribadi ini seringkali dikompromikan. 

Jika pasangan Anda ingin memonopoli perhatian Anda, ini adalah tanda ketidakseimbangan kekuasaan.

  1. Ketergantungan berlebihan

Dalam hubungan, wajar untuk saling mengandalkan. Namun, ada garis tipis antara saling ketergantungan yang sehat dan ketergantungan berlebihan yang tidak sehat. 

Jika pasangan Anda tidak dapat membuat keputusan tanpa masukan Anda atau membutuhkan jaminan konstan dari Anda, ini bisa menjadi tanda ketidakseimbangan dalam hubungan.

  1. Menepis tujuan pribadi

Dalam hubungan, kedua pasangan harus saling mendukung impian dan aspirasi masing-masing. 

Namun, dalam hubungan yang tidak seimbang, tujuan salah satu pasangan seringkali didahulukan daripada yang lain. 

Jika tujuan hidup Anda terpinggirkan untuk mengakomodasi ambisi pasangan Anda, ini bisa menjadi tanda ketidakseimbangan kekuasaan dalam hubungan.

  1. Selalu meminta maaf

Dalam hubungan yang seimbang, kedua pasangan harus mampu mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf ketika mereka salah. 

Namun, jika Anda terus-menerus meminta maaf, bahkan ketika Anda tidak bersalah, ini adalah tanda pasti dari ketidakseimbangan kekuasaan.

Jika Anda menemukan diri Anda dalam hubungan di mana nilai-nilai ini dikompromikan karena ketidakseimbangan kekuasaan, saatnya untuk merenungkannya. 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho