← Beranda
Remaja Rentan Kecanduan Gawai, Psikolog Ingatkan Risiko Perilaku Konsumtif hingga Gangguan Sosial
Antara• Jumat, 13 Maret 2026 | 19.44 WIB
Ilustrasi online shopping

 

 

 

JawaPos.com – Penggunaan gawai dan media sosial yang semakin intens di kalangan remaja perlu mendapat perhatian serius dari orang tua. Psikolog mengingatkan bahwa kebiasaan mengakses platform digital secara berlebihan dapat berdampak pada perilaku, pola pikir, hingga perkembangan sosial anak.

Psikolog anak Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa algoritma media sosial membuat remaja terus terpapar konten yang sesuai dengan minat mereka. Hal ini menyebabkan ruang eksplorasi mereka menjadi semakin sempit.

“Kalau dia senang gim, maka yang muncul terus gim. Kalau belanja, yang muncul terus belanja. Akhirnya dunianya hanya itu-itu saja,” kata Prof. Rose saat dihubungi ANTARA, Jumat (13/3).

Menurutnya, paparan konten yang berulang membuat remaja sulit melepaskan diri dari layar dan berpotensi mengalami ketergantungan pada gawai.

Selain itu, kemudahan transaksi digital juga dapat memicu perilaku konsumtif pada remaja. Mereka menjadi terbiasa membelanjakan uang secara instan tanpa memahami proses untuk mendapatkannya.

“Mereka tahu cara membelanjakan, tapi tidak tahu bagaimana mencari uangnya. Karena semua terasa mudah dan tidak terlihat,” ujarnya.

Kondisi tersebut dinilai dapat memicu perilaku impulsif, terutama jika remaja menggunakan platform digital tanpa pendampingan dan edukasi dari orang tua.

Karena itu, Prof. Rose menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengajarkan anak mengatur penggunaan gawai sejak dini. Salah satunya dengan membatasi penggunaan gawai hanya untuk keperluan sekolah atau kegiatan yang produktif.

“Yang perlu diajarkan adalah bagaimana menahan diri, bagaimana mengontrol penggunaan gadget supaya tidak berlebihan,” katanya.

Ia juga menilai pendampingan orang tua tetap diperlukan, terutama bagi anak yang mulai memasuki usia pra-remaja dan remaja. Hal ini penting agar perkembangan kemampuan sosial, berpikir kritis, dan kreativitas mereka tetap terasah.

Jika sebagian besar waktu remaja dihabiskan untuk mengakses platform digital, perkembangan berbagai keterampilan tersebut dikhawatirkan tidak optimal.

Sementara itu, psikolog anak Alva Paramitha, S.Psi., Psikolog, BFRP menjelaskan bahwa ketertarikan anak dan remaja terhadap media sosial berkaitan dengan perkembangan sistem kerja otak mereka.

Menurutnya, otak anak dan remaja masih berkembang dan sangat sensitif terhadap stimulasi cepat yang diberikan oleh platform digital.

“TikTok dan reels Instagram dirancang dengan video pendek, scroll tanpa henti, dan notifikasi. Itu memberi instant reward sehingga memicu keinginan untuk terus melihat konten berikutnya,” ujar Alva.

Selain itu, remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri juga membutuhkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Media sosial sering menjadi tempat mereka mendapatkan validasi tersebut.

“Ketika mendapat banyak likes atau komentar, muncul rasa diterima. Itu bentuk validasi yang membuat mereka ingin terus aktif,” jelasnya.

Ia menambahkan, algoritma media sosial yang terus menyajikan konten sesuai minat pengguna juga membuat anak dan remaja semakin sulit berhenti mengaksesnya.

“Anak merasa kontennya menarik dan dekat dengan dirinya. Itu membuat mereka betah dan sulit berhenti,” kata dia.

Di sisi lain, pemerintah telah memberlakukan peraturan yang membatasi anak di bawah usia 16 tahun untuk mengakses platform digital berisiko tinggi. Kebijakan ini bertujuan melindungi anak dari paparan konten yang berpotensi berdampak negatif.

Para psikolog pun menekankan bahwa keberhasilan aturan tersebut sangat bergantung pada peran orang tua dalam mendampingi dan mengawasi aktivitas digital anak di rumah. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan