← Beranda
Orang yang Selalu Tahu Persis Berapa Banyak Bahan Makanan yang Tersisa Tanpa Perlu Memeriksanya, Memiliki 7 Ciri Kognitif Ini Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Jumat, 13 Maret 2026 | 18.33 WIB
seseorang yang selalu tahu berapa banyak bahan makanan tersisa (Freepik/syda_productions)

 

 

JawaPos.com - Di banyak rumah tangga, selalu ada satu orang yang tampaknya memiliki “indera keenam” mengenai persediaan dapur. Tanpa membuka lemari atau kulkas, mereka sudah tahu apakah beras tinggal sedikit, telur hampir habis, atau gula masih cukup untuk beberapa hari. Ketika orang lain harus mengecek satu per satu, mereka bisa langsung menjawab dengan akurat.

Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar kebiasaan atau keberuntungan. Dalam psikologi kognitif, kemampuan semacam ini sering berkaitan dengan kombinasi beberapa fungsi mental seperti memori kerja, kemampuan observasi, dan pola berpikir terstruktur. Orang yang mampu memperkirakan stok bahan makanan dengan tepat biasanya memiliki pola kognitif tertentu yang berkembang dari pengalaman sehari-hari.

Dilansir dari Silicon Canals, terdapat tujuh ciri kognitif yang sering dimiliki orang yang selalu tahu persis berapa banyak bahan makanan yang tersisa tanpa perlu memeriksanya.

1. Memori Kerja yang Sangat Kuat

Ciri pertama adalah memori kerja (working memory) yang kuat. Memori kerja adalah kemampuan otak untuk menyimpan dan memproses informasi dalam jangka pendek saat melakukan aktivitas tertentu.

Orang dengan memori kerja yang baik dapat mengingat hal-hal kecil yang sering dilupakan orang lain. Misalnya:

Berapa banyak telur yang digunakan kemarin

Kapan terakhir membeli beras

Berapa kali memasak dalam seminggu

Informasi tersebut disimpan secara aktif di pikiran mereka. Akibatnya, tanpa membuka lemari dapur pun mereka bisa memperkirakan sisa stok dengan cukup akurat.

2. Kemampuan Observasi yang Tajam

Orang yang selalu tahu kondisi dapur biasanya memiliki kemampuan observasi yang tinggi. Mereka memperhatikan detail kecil yang sering terlewat oleh orang lain.

Contohnya:

Tinggi beras di dalam wadah

Jumlah botol bumbu yang tersisa

Posisi makanan di dalam kulkas

Meskipun hanya melihat sekilas, otak mereka menyimpan gambaran visual tersebut. Ini membuat mereka bisa “mengingat ulang” kondisi dapur tanpa harus melihatnya lagi.

3. Pola Pikir Sistematis

Ciri kognitif berikutnya adalah cara berpikir yang sistematis dan terstruktur. Orang dengan pola pikir seperti ini secara tidak sadar mengelompokkan informasi dalam kategori yang rapi.

Dalam konteks dapur, mereka biasanya memiliki gambaran mental seperti:

bahan pokok

bahan pelengkap

stok mingguan

stok cadangan

Dengan sistem mental seperti ini, otak mereka lebih mudah melacak perubahan stok setiap kali ada bahan yang digunakan.

4. Kemampuan Estimasi yang Akurat

Sebagian orang memiliki kemampuan estimasi alami yang cukup kuat. Mereka mampu memperkirakan jumlah sesuatu berdasarkan pengalaman berulang.

Misalnya:

satu kilogram beras biasanya cukup untuk sekian hari

satu papan telur habis dalam berapa kali memasak

satu botol minyak goreng bertahan berapa minggu

Karena otak mereka terbiasa melakukan perhitungan kasar seperti ini, mereka dapat menebak stok yang tersisa dengan cukup tepat.

5. Pengalaman yang Terinternalisasi

Psikologi juga menjelaskan bahwa pengalaman yang sering diulang akan membentuk pola otomatis dalam otak.

Orang yang sering mengurus dapur selama bertahun-tahun akan mengembangkan intuisi yang kuat mengenai konsumsi rumah tangga. Tanpa berpikir panjang, mereka sudah tahu:

kapan stok akan habis

kapan harus membeli lagi

bahan apa yang paling cepat berkurang

Ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi hasil dari pembelajaran implisit yang terjadi terus-menerus.

6. Perhatian Tinggi terhadap Rutinitas

Ciri lainnya adalah tingkat perhatian tinggi terhadap rutinitas sehari-hari.

Orang dengan sifat ini biasanya:

memperhatikan pola memasak

mengingat menu yang dibuat

mengetahui kapan bahan digunakan

Karena rutinitas tersebut diamati secara konsisten, otak mereka dapat memprediksi perubahan stok dengan lebih akurat.

7. Kemampuan Membentuk “Peta Mental”

Ciri terakhir adalah kemampuan membangun peta mental (mental mapping) terhadap ruang dan objek di sekitar mereka.

Dalam hal ini, dapur bukan sekadar ruangan. Bagi mereka, dapur adalah sistem yang sudah tergambar jelas di dalam pikiran:

di mana beras disimpan

berapa kira-kira jumlahnya

apa saja yang berada di rak tertentu

Ketika memikirkan dapur, otak mereka seperti “memutar ulang” peta tersebut sehingga informasi stok bisa muncul tanpa perlu melihat langsung.

Penutup

Kemampuan mengetahui sisa bahan makanan tanpa memeriksa sebenarnya bukanlah hal misterius. Dari sudut pandang psikologi kognitif, hal ini merupakan hasil dari kombinasi beberapa kemampuan mental seperti memori kerja yang kuat, observasi tajam, pola pikir sistematis, dan pengalaman yang terinternalisasi.

Dengan kata lain, orang yang tampak “selalu tahu” kondisi dapur sebenarnya sedang memanfaatkan berbagai mekanisme kognitif yang bekerja secara otomatis di dalam otaknya.

Menariknya, kemampuan ini bukan bakat yang hanya dimiliki segelintir orang. Dengan meningkatkan perhatian terhadap rutinitas, melatih observasi, dan lebih sadar terhadap pola penggunaan bahan makanan, siapa pun sebenarnya bisa mengembangkan intuisi dapur yang sama akuratnya.***

EDITOR: Novia Tri Astuti