← Beranda
6 Perilaku yang Membuat Orang Lanjut Usia Terasa Melelahkan untuk Didekati Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 11 Maret 2026 | 21.04 WIB
seseorang yang dianggap melelahkan. (Freepik/freepik)

 

 

JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, seseorang biasanya mengalami banyak perubahan dalam kehidupan. Perubahan tersebut bisa berupa kondisi fisik, kesehatan mental, peran sosial, hingga cara memandang dunia. Dalam psikologi perkembangan—khususnya bidang Psikologi Perkembangan—fase lanjut usia merupakan periode yang penuh penyesuaian.

Sebagian orang lanjut usia mampu menyesuaikan diri dengan baik dan tetap menjadi pribadi yang menyenangkan untuk diajak berinteraksi. Namun, ada juga beberapa perilaku yang tanpa disadari dapat membuat orang di sekitarnya merasa lelah secara emosional ketika berinteraksi dengan mereka.

Penting untuk dipahami bahwa perilaku-perilaku ini tidak muncul begitu saja. Banyak di antaranya berkaitan dengan rasa kehilangan, perubahan peran hidup, atau kebutuhan akan perhatian. Dilansir dari Geediting pada Senin (9/3), terdapat enam perilaku yang menurut psikologi sering membuat orang lanjut usia terasa melelahkan untuk didekati.

1. Terlalu Sering Mengeluh Tentang Segala Hal

Salah satu perilaku yang paling sering membuat orang lain merasa lelah adalah kebiasaan mengeluh secara terus-menerus.

Keluhan bisa berkaitan dengan kesehatan, keluarga, kondisi ekonomi, atau bahkan hal-hal kecil sehari-hari. Dalam jumlah wajar, mengeluh adalah cara seseorang mengekspresikan perasaan. Namun jika hampir setiap percakapan dipenuhi keluhan, orang di sekitar bisa merasa kewalahan.

Menurut konsep kesejahteraan psikologis dalam teori Carol Dweck tentang pola pikir, seseorang yang terus berfokus pada hal negatif cenderung memperkuat persepsi negatif terhadap hidupnya sendiri. Akibatnya, percakapan dengan orang tersebut sering terasa berat dan penuh energi emosional.

Pada orang lanjut usia, kebiasaan ini sering muncul karena mereka merasa kehilangan kendali terhadap banyak aspek kehidupan.

2. Sering Mengkritik atau Menghakimi Generasi yang Lebih Muda

Perilaku lain yang sering membuat hubungan menjadi tidak nyaman adalah kecenderungan untuk terus-menerus mengkritik generasi muda.

Contohnya:

Mengatakan anak muda tidak sopan

Menganggap cara hidup generasi sekarang salah

Membandingkan masa lalu dengan masa kini secara berlebihan

Dalam psikologi sosial, fenomena ini sering dikaitkan dengan perubahan identitas sosial dan nostalgia terhadap masa lalu. Teori tahap perkembangan dari Erik Erikson menjelaskan bahwa pada masa lanjut usia seseorang berada pada tahap integrity vs despair—fase ketika seseorang menilai kembali kehidupan yang telah dijalani.

Jika seseorang merasa tidak puas dengan kehidupannya, ia bisa menjadi lebih mudah mengkritik orang lain sebagai bentuk pertahanan psikologis.

3. Mengulang Cerita yang Sama Berulang Kali

Banyak orang lanjut usia senang bercerita tentang masa lalu. Hal ini sebenarnya wajar dan bahkan memiliki manfaat psikologis karena membantu seseorang mempertahankan identitas dirinya.

Namun, jika cerita yang sama diulang terlalu sering tanpa kesadaran bahwa orang lain sudah mendengarnya berkali-kali, interaksi sosial bisa terasa melelahkan.

Beberapa faktor yang memengaruhi perilaku ini antara lain:

penurunan fungsi memori

rasa rindu terhadap masa lalu

kebutuhan untuk merasa dihargai

Fenomena ini juga sering dikaitkan dengan perubahan kognitif yang dipelajari dalam bidang Psikologi Kognitif.

4. Sulit Mendengarkan Pendapat Orang Lain

Komunikasi yang sehat membutuhkan keseimbangan antara berbicara dan mendengarkan. Namun, beberapa orang lanjut usia cenderung lebih dominan dalam percakapan.

Mereka mungkin:

selalu ingin memberikan nasihat

memotong pembicaraan

menganggap pendapatnya paling benar

Hal ini sering terjadi karena pengalaman hidup yang panjang membuat seseorang merasa memiliki banyak kebijaksanaan. Walaupun niatnya baik, jika tidak disertai kemampuan mendengarkan, percakapan bisa terasa satu arah.

Dalam psikologi komunikasi, perilaku ini sering dikaitkan dengan kebutuhan akan kontrol sosial dan pengakuan.

5. Terlalu Bergantung Secara Emosional

Sebagian orang lanjut usia mengalami kesepian karena perubahan besar dalam hidup, seperti:

pensiun dari pekerjaan

anak-anak yang sudah mandiri

kehilangan pasangan hidup

Akibatnya, mereka bisa menjadi sangat bergantung secara emosional pada orang tertentu, misalnya anak atau cucu.

Menurut penelitian tentang kesepian oleh John Cacioppo, rasa kesepian kronis dapat membuat seseorang lebih sensitif secara emosional dan lebih membutuhkan perhatian dari orang lain.

Jika kebutuhan tersebut terlalu besar dan terus-menerus, orang di sekitarnya bisa merasa kelelahan secara emosional.

6. Menolak Perubahan dan Hal Baru

Perilaku terakhir yang sering membuat interaksi menjadi sulit adalah penolakan terhadap perubahan.

Contohnya:

menolak teknologi baru

tidak mau mencoba cara baru

selalu mengatakan “dulu lebih baik”

Dalam psikologi, kemampuan beradaptasi merupakan bagian penting dari kesehatan mental di setiap tahap kehidupan. Orang yang terlalu kaku terhadap perubahan cenderung mengalami kesulitan dalam hubungan sosial karena dunia di sekitarnya terus berkembang.

Ketika seseorang terus menolak realitas baru, percakapan dengan mereka sering berubah menjadi debat atau keluhan.

Penutup

Penting untuk diingat bahwa perilaku-perilaku ini tidak muncul karena seseorang ingin menjadi sulit didekati. Banyak faktor psikologis dan emosional yang memengaruhinya, mulai dari perubahan identitas, rasa kesepian, hingga penurunan fungsi kognitif.

Dalam banyak kasus, yang dibutuhkan oleh orang lanjut usia sebenarnya adalah:

rasa dihargai

perhatian

kesempatan untuk tetap merasa berarti

Dengan memahami perspektif psikologi, kita dapat melihat perilaku tersebut dengan lebih empati. Alih-alih menjauh, pendekatan yang penuh kesabaran dan komunikasi yang sehat sering kali menjadi kunci untuk menjaga hubungan tetap hangat dengan orang lanjut usia.***

 

EDITOR: Novia Tri Astuti