JawaPos.com – Beberapa orang menjalani rutinitas perawatan kulit yang ketat untuk menghasilkan kulit yang sempurna dan bercahaya.
Meskipun begitu, mereka mungkin masih mengalami jerawat, kulit kusam, atau iritasi.
Hal ini sering kali membuat mereka beralih produk perawatan kulit atau menambahkan produk baru.
Alhasil banyak dari mereka tanpa sadar merusak kulit melalui kesalahan perawatan kulit yang kecil namun berdampak besar.
Baca Juga: Sumatra Tenggelam! Kerugian Banjir Rp 68 Triliun Ungkap Bahaya Sawit dan Tambang
Dengan mengungkap kesalahan-kesalahan perawatan kulit, terdapat alasan di balik masalah yang berkelanjutan tersebut.
Dilansir English jagran, berikut enam kesalahan-kesalahan umum dalam perawatan kulit yang harus dihindari untuk mendapatkan kulit yang bercahaya dan berseri.
- Berfokus hanya pada gejala yang terlihat
Kebanyakan rutinitas perawatan kulit hanya berfokus pada apa yang terlihat, entah kemerahan, bintik-bintik, dan kering.
Masalah kulit yang terus-menerus muncul sering kali mengindikasikan adanya gangguan yang mendasari dalam tubuh.
Hal ini termasuk variasi hormon, aktivitas kekebalan tubuh, atau ketidakseimbangan mikrobioma kulit atau usus.
- Mengabaikan hubungan usus dan kulit
Terdapat hubungan antara kesehatan usus dengan kondisi kulit.
Ketika mikrobioma usus terganggu, hal ini dapat mengaktifkan jalur inflamasi yang muncul sebagai jerawat, eksim, rosacea, atau sensitivitas kulit yang persisten.
Baca Juga: Cuaca Mendung Tak Surutkan Semangat! Begini Momen Kedatangan Ribuan Peserta Reuni 212
- Melemahnya penghalang kulit akibat eksfoliasi berlebihan
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah terlalu sering eksfoliasi.
Penggunaan asam, scrub, atau peeling yang berlebihan atau terlalu sering dapat merusak lapisan pelindung kulit sehingga menyebabkan hilangnya kelembapan dan peradangan.
- Menggabungkan bahan aktif kuat tanpa memahami interaksinya dengan mikrobioma kulit
Retinol, vitamin C, niacinamide, semuanya memiliki persyaratan tertentu.
Ketika produk digunakan berlapis-lapis tanpa mempertimbangkan bagaimana bahan-bahannya berinteraksi, produk-produk tersebut dapat saling menetralkan atau memicu iritasi.
Baca Juga: Tabrakan Beruntun Terjadi di Tol Purbaleunyi, 9 Mobil Ringsek dan 1 Korban Meninggal
Formulasi tidak bekerja secara independen, komposisi kimianya menentukan bagaimana mereka bekerja ketika dikombinasikan pada kulit.
Penggunaan bahan kimia keras, bahkan penggunaan sabun yang berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan mikroba yang hidup di kulit.
- Mengharapkan hasil yang lebih cepat
Perbaikan lapisan pelindung, sintesis kolagen, dan keseimbangan mikrobioma tidak berubah dalam semalam.
Sering berganti produk justru mengganggu proses ini dan mencegah kulit mencapai kondisi stabil.
Konsistensi lebih penting daripada jumlah produk dalam rutinitas.
- Tidak mempertimbangkan kebiasaan sehari-hari
Stres, tidur, pola makan, pengobatan, dan paparan lingkungan semuanya mengubah perilaku kulit.
Misalnya, stres kronis memengaruhi kadar kortisol, yang pada gilirannya memengaruhi produksi minyak dan peradangan.
Rutinitas perawatan kulit topikal tidak dapat mengimbangi pemicu gaya hidup.